Oleh:
Herinda Mardin, S.Si., M.Pd.
Tanaman Tepurang (Momordicacochinchinensis), atau yang secara internasional dikenal sebagai buah Gac atau Tepurang, kini tengah menjadi primadona dalam dunia bioprospeksi global. Buah yang dijuluki sebagai “Buah Surga” (Fruitfrom Heaven) ini bukan sekadar tanaman liar yang merambat di pagar-pagar pedesaan, melainkan pabrik kimia alami yang menyimpan potensi ekonomi dan kesehatan luar biasa.
Di Indonesia, keberadaan Tepurang tersebar di wilayah Gorontalo dan beberapa wilayah di Kalimantan, namun pemanfaatannya masih sangat terbatas dibandingkan dengan negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand yang telah mengekspornya dalam bentuk suplemen dan minyak atsiri (minyak esensial). Populasi M. cochinchinensis disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunyaadalah tingkat perkecambahan biji yang rendah, sehingga sulit tumbuh secara alami. Selain itu,tanaman ini memerlukan kondisi lingkungan tertentu untuk tumbuh optimal, seperti jenis tanahdan iklim yang sesuai.
Ketidaksesuaian kondisi di luar habitat aslinya dapat menghambatpertumbuhannya, yang berujung pada kelangkaan dan bahkan ancaman kepunahan jikatidak dilakukan upaya pelestarian (Pagallaetal., 2023; Dunggio, etal., 2025).
Secara morfologi, buah Tepurang menonjol karena warna oranye kemerahan yang sangat pekat saat matang. Warna ini bukanlah sekadar hiasan alam, melainkan indikator konsentrasi karotenoid yang sangat tinggi. Bioprospeksi terhadap tanaman ini mengungkapkan bahwa Tepurang mengandung likopen hingga 70 kali lipat lebih banyak daripada tomat dan betakaroten 10 kali lipat lebih tinggi daripada wortel(Zheng&Xu, 2020; Thavamany. etal., 2020). Kekuatan antioksidan yang masif ini menempatkan Tepurang sebagai bahan baku strategis untuk industri pangan fungsional dan farmasi masa depan.

Keunikan biokimia Tepurang terletak pada keberadaan asam lemak rantai panjang yang terikat secara alami dengan karotenoidnya, membentuk struktur lipocarotene. Struktur ini sangat krusial karena meningkatkan bioavailabilitas nutrisi di dalam tubuh manusia. Artinya, nutrisi dalam Tepurang jauh lebih mudah diserap oleh sistem pencernaan dibandingkan dengan sumber karotenoid dari sayuran lain(Bui &Huynh, 2023). Fenomena ini menjadikan Tepurang sebagai solusi potensial dalam mengatasi masalah defisiensi vitamin A yang masih menghantui banyak negara berkembang(Abdulqader& Al-Rawi, 2022).
Dalam sektor farmasi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ekstrak biji dan daging buah Tepurang memiliki aktivitas biologis penting seperti provitamin A, antioksidan, antimikroba, antiulkus, dan antikanker(Thavamany. etal., 2020; Girma&Gidado, 2021). Protein spesifik yang ditemukan dalam bijinya, seperti MCoTI-I dan MCoTI-II, memiliki kemampuan menghambat protease yang terlibat dalam perkembangan sel kanker.
Selain itu, kandungan polifenol dan flavonoid yang tinggi di dalamnya berfungsi sebagai agen pelindung sel dari stres oksidatif, yang merupakan akar dari berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes dan hipertensi(Zheng&Xu, 2020).Masyarakat tradisional di beberapa wilayah telah menggunakan rebusan daun Tepurang untuk mengobati peradangan dan penyakit kulit (Wimalasirietal., 2019). Hal ini membuka peluang riset bioprospeksi lebih lanjut mengenai isolasi senyawa bioaktif baru yang mungkin memiliki efikasi lebih tinggi daripada obat-obatan konvensional(Phuong&Minh, 2024).
Tidak hanya untuk kesehatan internal, bioprospeksi Tepurang juga merambah ke industri kosmetik atau “cosmeceuticals“. Minyak yang diekstraksi dari selaput biji (arillus) Tepurang sangat kaya akan vitamin E dan asam lemak esensial. Kandungan ini efektif dalam mempercepat regenerasi kulit, melindungi dari radiasi sinar UV, serta mencegah penuaan dini. Banyak produsen kecantikan global mulai melirik Tepurang sebagai alternatif bahan organik yang lebih stabil dan efektif dibandingkan bahan sintetis(Sriwichai&Kraithong, 2023).
Dari sisi botani dan budidaya, Tepurang merupakan tanaman dioecious, yang berarti bunga jantan dan betina berada pada pohon yang berbeda. Karakteristik ini menuntut teknik polinasi dan seleksi bibit unggul dalam proses bioprospeksi guna menjamin hasil panen yang optimal (Chuyen et al., 2018). Pengembangan varietas lokal yang adaptif terhadap iklim mikro di Indonesia dapat menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas buah secara masif tanpa merusak ekosistem lokal, sekaligus menjaga biodiversitas yang ada(Lestari & Handayani, 2020).
Bioprospeksi tanaman Tepurang (Momordicacochinchinensis) di Gorontalo dapat menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi “buah surga” ini sebagai komoditas unggulan daerah melalui pemanfaatan kandungan likopen dan beta-karoten yang melimpah. Diperlukan sinergi antara riset akademis dan pemberdayaan masyarakat diharapkan mampu mentransformasi tanaman Tepurang menjadi aset bioteknologi berkelanjutan yang memperkuat ekonomi serta pelestarian biodiversitas di Gorontalo.Diversifikasi produk mulai dari konsentrat jus, serbuk ekstrak, hingga kapsul minyak aril dapat memberikan nilai tambah (value-added) berkali-kali lipat dibandingkan hanya menjual buah segar di pasar tradisional(Kha etal., 2021).
Namun, tantangan besar dalam bioprospeksi Tepurang di Indonesia adalah standarisasi mutu dan kontinuitas suplai. Untuk menembus pasar internasional yang ketat, diperlukan standarisasi kandungan senyawa aktif yang konsisten melalui praktik pertanian yang baik (GoodAgriculturalPractices)(Lestari & Handayani, 2020). Penelitian kolaboratif antara akademisi, pemerintah, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk memetakan profil fitokimia Tepurang di Indonesia khususnya di Gorontalo guna mendapatkan akses manfaat yang adil dan berkelanjutan.
Memaksimalkan potensi Tepurang bukan sekadar riset di laboratorium, melainkan upaya bersama untuk optimalisasi kekayaan hayati lokal menjadi keunggulan global. Jika dikelola dengan kebijakan hilirisasi yang tepat dan inovasi yang berkelanjutan, tanaman ini bukan tidak mungkin akan menjadi pilar baru industri hijau menuju kemandirian ekonomi sekaligus kesehatan di masa depan. (*)
Penulis adalah Dosen Jurusan Biologi Universitas Negeri Gorontalo, Mahasiswa S3 Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang
Daftar Rujukan:
Abdulqader, G., & Al-Rawi, S. S. (2022). NutritionalandTherapeuticPotentialofMomordicaCochinchinensis (GacFruit): A review. Journal of Food Biochemistry, 46(8), e14212. https://doi.org/10.1111/jfbc.14212
Bui, T. T., &Huynh, T. H. (2023). ExtractionandApplicationofLipocarotenoidsFromGac(MomordicaCochinchinensisSpreng) Aril: A ComprehensiveReview. International Journalof Food Science& Technology, 58(4), 1645-1658.
Chuyen, H. V., Roach, P. D., Golding, J. B., Parks, S. E., &Nguyen, M. H. (2018). Gacfruit (MomordicacochinchinensisSpreng.): A Reviewof DNA Fingerprinting, PhytochemicalCompositionandBiologicalActivities. Journalof Food Scienceand Technology, 55(10), 3855-3870.
Dunggio, F., Pagalla, D. B., Ahmad, J., Kandowangko, N. Y., & Febriyanti, F. (2025). Induksi Kalus pada Tangkai Daun dan Batang Muda Tepurang (MomordicaCochinchinensis) dengan Kombinasi Bap dan Iaa Secara In Vitro. Science: Indonesian JournalofScience, 1(6), 1334-1339.
Girma, A. D., &Gidado, A. S. (2021). The PharmacologicalPotentialofGacFruit (MomordicaCochinchinensis): A SystematicReview. Natural ProductResearch, 35(22), 4812-4825.
Kha, T. C., Nguyen, M. H., Roach, P. D., &Stathopoulos, C. E. (2021). Effects of GacAril Oil on The StabilityandSensoryPropertiesofFunctional Food Products. JournalofCulinaryScience& Technology, 19(3), 214-230.
Lestari, D., & Handayani, S. (2020). Analisis Kandungan Likopendan Beta-Karoten Pada Buah Tepurang (Momordicacochinchinensis) Lokal Indonesia. Jurnal Bioteknologi &Biosains Indonesia, 7(2), 189-198.
Pagalla, D. B., Ahmad, J., Adudu, M. F., Nidaulhasanah, A., Adju, F. H. Y., & Damayanti, E. M.(2023). In VitroGerminationofDumbayaSeeds (Momordicacochinchinensis (Lour.) Spreng:A UniqueMedicinalPlantof Gorontalo. Jurnal Biologi Tropis, 23(2), 203–208.https://doi.org/10.29303/jbt.v23i2.5798
Phuong, N. M., &Minh, N. P. (2024). OptimizationofBioactiveCompoundExtractionFromMomordicacochinchinensisSeeds For Pharmaceutical Applications. Applied Food Biotechnology, 11(1), 45-56.
Sriwichai, W., &Kraithong, S. (2023). AntioxidantandAnti-InflammatoryPropertiesofGacFruitExtractsin SkinCellModels. Cosmetics, 10(2), 54. https://doi.org/10.3390/cosmetics10020054
Thavamany, P. J., Chew, H. L., Sreeramanan, S., Chew, B. L., & Ong, M. T. (2020). ‘Momordicacochinchinensis’ Spreng (Gacfruit): An AbundantSourceofNutrient, PhytochemicalsanditsPharmacologicalActivities. AustralianJournalofCropScience, 14(12), 1844-1854.
Wimalasiri, D., Piva, T. J., Huynh, T. K., &Bennett, I. J. (2019). A Reviewof The PhytochemistryandPharmacologyofthe Genus Momordica. Current Pharmaceutical Design, 25(13), 1453-1472.
Zheng, X. L., &Xu, X. (2020). BioactiveComponentsofMomordicaCochinchinensisandTheirChronicDiseasePreventiveEffects. MolecularNutrition& Food Research, 64(18), 2000215. (*)











Discussion about this post