logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Tepian Utara Nusantara (Miangas, Manado, Popayato)

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 11 May 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

oleh:
Basri Amin

PULAU istimewa itu akhirnya dikunjungi Presiden. Pulau Miangas. Ini adalah pulau terluar Indonesia –selain Marore dan Marampit– yang bersebelahan langsung dengan teritori Negara-pulau Filipina. Sejak abad ke-14, Miangas menjadi bagian yang unik dari “jejaring Melayu”, tetapi kemudian mengalami kerenggangan sejak pertengahan abad ke-16.

Miangas, dikenal dalam kartografi Eropa dengan nama “Pulau Palmas”, sebagaimana disebutkan dalam Traktak Paris tahun 1989. Sejak tahun 1956, mulai disusun kesepakatan perbatasan Indonesia-Filipina, dengan menempatkan pulau ini sebagai titik singgung-perbatasan kedua Negara. Luasnya 315 hektar. Pulau ini pernah dibahas nasional sejak tahun 2003 dan terus meluas hingga akhir 2010. Genealogi penduduk Miangas sangat dekat dengan “Nanusa”, gugusan pulau-pulau kecil di kawasan ini (Ulaen, dkk, 2012).

Miangas amat sering disebut-sebut dalam pidato pemerintahan di Sulawesi Utara sejak Orde Baru sampai tahun 2000: “Sulawesi Utara, dari Miangas sampai Popayato….”.

KAWASAN Utara Sulawesi memberi kita banyak pengalaman berharga tentang jaringan niaga dan perjumpaan budaya di negeri ini. Manado adalah salah satu titik sentrum-nya. Demikian pula dengan Maluku Utara sebagai “dunia” yang sekian abad menggoyang imajinasi Barat tentang rempah-rempah dan “jalur sutera” sebagai jaringan niaga tersibuk di dunia sejak abad ke-17.

Dua tahun lalu saya “kembali” berada di Manado, setelah sekian tahun tak pernah melihat denyut kota ini dari dekat. Kota ini demikian dikenang dan bermakna bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang pernah tinggal dan mengecap pendidikan di sana. Tak heran kalau di Maluku Utara misalnya, “jaringan alumni Manado” demikian berperan dan menguasai banyak posisi-posisi strategis.

Demikian juga di daerah seperti Gorontalo yang relatif dekat dengan Manado, hubungan saling-pengaruh jelas sangat terasa. Sebagai kota yang berperan sebagai ‘pusat pendidikan’ tinggi di Sulawesi, Manado telah melahirkan banyak SDM di Gorontalo. Di antara mereka, sudah tertanam banyak nostalgia dan cita-cita, jaringan organisasi dan kepentingan.

Manado berasal dari kata “mana-rou” atau “manan-dou”, yang artinya “tempat yang jauh”. Konon hal ini merujuk jarak perjalanan dari pedalaman Minahasa ketika mereka melakukan perjalanan dagang di masa lalu. Bisa juga merujuk bahasa Tombulu “manoir” yang merujuk pada “tempat berkumpul dan berunding” di pesisir barat Minahasa (Parengkuan, 1986: 2-3).

Konfigurasi masyarakat di Manado, dilihat dari komposisi agama dan etnik, penduduknya jelas merupakan mosaik pluralisme Indonesia yang nyaris sempurna. Histori Manado sebagai kawasan pelabuhan dan bagian penting dari lintasan dari hegemoni kolonial dimasa lalu –-sebagai bagian dari kekuasaaan VOC dan pemerintah kolonial Belanda di Maluku– jelas telah memfasilitasi jenis mobilitas dan sebaran penduduk di Kawasan Timur Indonesia. Hasilnya adalah sebuah struktur masyarakat plural seperti yang ada saat ini.

Pola pemukiman yang berkembang pun turut menjadi indikasi dari berkembangnya sebuah penduduk yang multikultur. Tak heran kalau titik-titik penyebaran penduduk Manado turut pula menandai bagaimana proses penyebaran keragaman sosial itu terbentuk seperti terlihat dari pola dan lanskap perkampungan yang ada. Pendapat bahwa Manado memang mempunyai histori dan struktur sosial yang relatif “tahan banting” terhadap pergesekan antar kelompok, pada tingkat tertentu bisa dibenarkan. Banyak faktor yang memberi pengaruh: latar sejarah, kondisi sosial ekonomi, komposisi masyarakat, peran elite, media, posisi geografis dan institusi keamanan.

Periode Reformasi sebenarnya telah mengintroduksi banyak pertukaran gagasan dan menyediakan banyak sekali tema percakapan tentang keragaman sosial kita sebagai bangsa. Manado termasuk kota yang produktif dalam merespons perkembangan ini. Sebagai kota yang cukup lama diidentikkan dengan Minahasa, dan selanjutnya menjadi representasi simbolik komunitas Kristiani di timur Indonesia, masyarakat Manado jelas mempunyai citra dan narasi sendiri dengan kotanya.

Bahasa Melayu-Manado cukup bisa memberi gambaran atas karakter orang-orang Manado. Citra egaliter, terbuka, berwawasan hiburan, citra wisata dan sebagai daerah pesisir, pelabuhan dan persilangan transportasi di Sulawesi adalah gambaran paling jelas tentang kota ini. Meski belakangan kesan sebagai kota konsumtif sepertinya mengemuka. Bahasa Manado sendiri termasuk golongan ‘bahasa persuasif’ dan karena itulah terasa lebih impresif dan egaliter. Bahasa Melayu-Manado dengan mudah menyebar dan diterima oleh beberapa wilayah sekitarnya.

Ketika provinsi Gorontalo berdiri, terjadi suatu perkembangan baru karena ke-Sulawesi Utara-an itu berubah suasananya. Suasana ‘berpisah’ sepertinya bukan hanya menjadi fakta politik/administratif, tapi sekaligus menegaskan fakta psikologis. Secara sosial, sepertinya memunculkan ‘beban’ tertentu bagi warga Gorontalo –yang identik dengan komunitas Islam Sulawei Utara–. Berhubung karena penduduk Manado yang berasal dari Gorontalo jumlahnya sangat signifikan, maka identitas (kultural) keGorontaloan dan identitas (sosial-ekonomi) keManadoan menjadi tergugat. Ada pemahaman dan peran ganda di sini.

Di satu sisi lapisan memori sosial ekonomi mereka adalah ‘orang Manado’, tetapi secara genetis-kultural, mereka jelas adalah ‘orang Gorontalo’. Beban lainnya, karena mereka juga merupakan komunitas yang terlanjur melekat pada dirinya sebagai ‘representasi’ masyarakat Islam, meskipun komunitas masyarakat Islam lainnya tetap berperan di level yang sama –yaitu sebagai representasi–, tetapi tingkat pencitraan dan bobot perannya relatif lebih terbatas karena Gorontalo mempunyai wilayah yang relatif luas dengan jumlah penduduk besar, dengan sebaran jumlah elite yang sangat signifikan perannya dalam sejarah nasionalisme di Utara Sulawesi.

Apa yang terjadi di Manado atau di kawasan Utara Sulawesi pada umumnya adalah sebuah pelajaran berharga bahwa setiap kelompok di masyarakat multikultur akan mengalami masa-masa ketegangan tertentu, yang seringkali menimbulkan benturan keras (separasi), dan bukan adaptasi dan penyesuaian (asimilasi). Kini tantangannya adalah bagaimana memelihara multikulturalisme itu sebagai kenyataan hidup di satu sisi, tapi sekaligus menjadikannya sebagai kekuatan inspiratif di sisi lain.***

Penulis adalah bekerja di Universitas Negeri Gorontalo.
Sedang menulis “Tepian Sejarah” Nusantara Timur
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminCatatan basri aminmanadoMiangasPopayatospektrum sosialTepian Utara Nusantara

Related Posts

Iwan Lakoro

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Tuesday, 9 June 2026
Husin Ali

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Monday, 8 June 2026
Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Muh. Amier Arham

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Thursday, 4 June 2026
Yusran Lapananda

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Tuesday, 26 May 2026
Basri Amin

Sehat yang Sesat

Monday, 25 May 2026
Next Post
Kampung Nelayan Merah Putih Leato Selatan, Simbol Sinergi Prabowo dan Adhan

Kampung Nelayan Merah Putih Leato Selatan, Simbol Sinergi Prabowo dan Adhan

Discussion about this post

Rekomendasi

Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

Tuesday, 9 June 2026
Suasana perayaan HUT ke-68 Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea pada Ahad (7/6/2026) malam, di rumah pribadinya. (Foto: Prokopim)

Perayaan HUT ke-68 Adhan, Tak Pake APBD, Dirayakan Bareng Anak Yatim

Tuesday, 9 June 2026
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea dan Wawali Indra Gobel tengah menikmati jajanan di Street Food Jilid II. (Foto: Prokopim)

Street Food Jilid II Diserbu Pengunjung, Omzet UMKM Capai Rp222 Juta dalam Semalam

Tuesday, 9 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026

Pos Populer

  • Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

    Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.