gorontalopost.co.id – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi (Deprov) Gorontalo, tahun ini menganggarkan pengadaan komputer jinjing premium, MacBook Air keluaran terbaru, dengan anggaran yang mencapai Rp1.125.000.000 dalam APBD. Dałam data inaproc menyebutkan, pengadaan MacBook ini memiliki kode RUP 66441714, dengan spesifik pekerjaan MacBookAir 45 unit.
Anggaran sebesar itu dialiokasikanuntuk membeli MacBookAir sejumlah 45 unit, atau sesuai jumlah Anggota DPRD Provinsi Gorontalo. Hanya saja, tidak semua anggota Deprov Gorontalo menyatakan menerima pengadaan MacBookAir untuk mereka.
Selain alasan efisiensi, pengadaan komputer jinjing premium ini dinilai belum ada urgensinnya dengan tugas anggota DPRD saat ini. Salah satu yang menyatakan menolak menerima pengadaan MacbookAir tersebut adalah Femmy Kristina Udoki.
Anggota Deprov daerah pemilihan (Dapil) Bone Bolango ini mengatakan, penolakanya jauh sebelum berita pengadaan MacBookAir ramai di media. “Seingat saya sudah dua kali rapat (internal), dan saya yang pertama menyatakan tidak akan menerima MacBook ini. Kalau yang lain mau silahkan, tapi saya menolak,”tegas Femmy Udoki.
Srikandi Partai Amanat Nasional (PAN) ini menyebut, pengadaan MacBookAir untuk anggota Deprov memakan anggaran yang tidak sedikit. Menurutnya anggaran itu bisa untuk dialokasikan pada kebutuhan lain yang lebih bermanfaat untuk masyarakat.
Dengan anggaran lebih dari Rp 1,1 miliar untuk 45 unit MacBookAir, berarti languid Femmy, budget setiap unit adalah Rp 25 juta. “Kalau itu ditambahkan ke (anggaran) pokir, maka anggaran Rp 25 juta itu, minimal ada 5 UMKM yang mendapat bantuan modal usaha dengan nilai Rp 5 juta per UMKM. Atau bisa untuk pengadaan motor bercoolbox untuk penjual ikan keliling, efeknya lebih besar ke masyarakat,”terang Femmy.
Kata dia, selain menyampaikan langsung penolakan saat rapat internal DPRD, ia juga telah mengirimkan pesan singkat kepada Sekretaris DPRD agar namanya dicoret dari daftar anggota DPRD penerima komputer jinjing produk Amerika itu. “Kalau ada anggota DPRD yang mau, silahkan, itu hak mereka. Mungkin saja mereka memang butuh, asalkan betul mau, jangan bilang mau tapi tiba-tiba menolak,”katanya.
Sebagai pengguna MacBook, Femy menyebut, komputer jinjing berlogo apel miliknya yang ada saat ini masih sangat relevan untuk digunakan. “Saya kemana-mana bawa MacBook, dari dulu saya pengguna MacBook, dan punya saya masih berfungsi dengan baik,”ujarnya. “Itu salah satu alasan saya menolak pengadaan ini. Tapi alasan utamanya adalah masih banyak kebutuhan rakyat yang lebih penting. Bayangkan dengan anggaran Rp 1,1 Miliar itu, ada berapa ratus UMKM yang akan mendapat bantuan modal usaha,”tandas Femmy.
Sementara itu, data yang diperoleh Gorontalo Post, dari aplikasi Inaproc, pengadaan MacBook Air oleh Deprov Gorontalo ini tidak memiliki aspek ekonomi dan sosial. Sistem pengadaanya menggunakan metode pemilihan e-Purchasing, dengan jadwal pelaksanaan pengadaan sesuai kontrak akhir pada Desemer 2026.
Selain itu, dalam dashboard audit publik berbasis kecerdasan buatan (AI), pengadaan MacBook Air oleh Deprov Gorontalo termasuk yang disorot. Disitu dituliskan, pengadaan laptop premium MacBook Air dalam jumlah besar untuk lingkungan sekretariat legislatif menimbulkan indikasi ketidakselarasan kebutuhan dan potensi pemborosan, karena fungsi administrasi perkantoran umumnya dapat dipenuhi dengan perangkat yang lebih ekonomis. Penggunaan dana publik untuk perangkat premium layak dicermati lebih lanjut. (mg3/tro)












Discussion about this post