logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Sehat yang Sesat

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 25 May 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Oleh:
Basri Amin

SATU pernyataan yang menantang: “bila suatu masyarakat terus membutuhkan rumah sakit, maka hal itu merupakan pertanda bahwa revolusinya telah gagal…”.

Ini berasal pemikir Austria, Ivan Illich, tahun 1976. Ia telah lama menelaah gejala kesesatan tentang “sakit” dan “sehat” dengan serius dan menghasilkan tiga ratusan halaman buku. Kritik Ivan Illich terus berlanjut. Kendati saya pun tak mampu mengertinya dengan memadai.

Ia dengan tegas berkata “medikalisasi kesehatan dan intervensi medis sudah sedemikian merasuk dan melembaga dalam kehidupan manusia, sehingga manusia tidak lagi mempunyai otonomi atas kesehatannya sendiri. Orang tidak dapat “sehat” tanpa legitimasi lembaga-lembaga medis.

Orang lalu makin tergantung kepada obat, pengobatan dan institusi medis beserta segenap perangkatnya, yakni birokrasi dan industri medis, yang pada tingkat tertentu justru menciptakan “kesehatan” yang “sakit”.

Di bulan September 2017, ketika beberapa hari di rumah sakit menemani putri kedua kami yang dirawat intensif, amat terasa bahwa “sakit” adalah keadaan yang semakin membutuhkan sistem (penyikapan) tertentu. Bagi keluarga kami, meski selalu berusaha belajar tentang dunia perkembangan kesehatan dewasa ini dan usaha-usaha untuk ‘selalu’ bisa sehat, terbukti bahwa ketidakpastian selalu mengintai kehidupan keseharian.

Ada banyak hal yang tak bisa kontrol dan pahami: lingkungan pergaulan, kondisi air, makanan, minuman, udara, cuaca, nyamuk, virus, dst.

Berbaring di ranjang pasien, dengan beragam intervensi medis (obat-obat, suntikan antibiotik, pemeriksaan darah, tabung oksigen, cairan, dst) adalah piranti-piranti medis-modern yang semuanya hendak “menjawab” tentang apa penyakit yang diderita. Dengan itu pula, medikalisasi atas kondisi tubuh kita berproses.

Kehadiran dokter dan petugas medis lainnya, pada tingkat tertentu menenangkan hati kita, tapi pada situasi tertentu kita juga diam-diam ternyata gelisah dengan keterangan-keterangan mereka.

Terkadang, “penjelasan” mereka malahan membuat kita bertanya dan bertanya lebih lanjut. Kita pun bernaluri untuk mencari “jawaban lain” sebagai pembanding atau pendapat kedua, entah melalui jalur keluarga, atau pun melalui otoritas medis lain di tempat-tempat lain yang kita kenal.

Apalagi kini hampir semua gejala penyakit, persepsi dan pengalaman orang lain beserta intervensinya sudah banyak tersedia di internet dan bahan percakapan sehari-hari.

Seminggu setelah putri kedua kami mulai stabil dan perasaan kami sudah relatif terbebas dari “gejala DBD” sebagaimana diyakinkan oleh hasil Lab dari laboratorium (medis) ternama di daerah ini, saya mulai banyak membaca intensif tentang tema-tema kesehatan, penyembuhan, lembaga rumah sakit dan otoritas medis lainnya.

Di antara buku yang sangat mencerahkan adalah karya seminal Ivan Illich, Limits to Medicine, Medical Nemesis: Expropriation to Health (1976). Buku ini sangat dalam mengurai bagaimana medikalisasi terbentuk di era modern beserta latar sejarah yang melatarinya.

Untuk tetap sehat, tak ada yang bisa menjamin. Kita boleh tahu banyak dan berusaha banyak untuk menjaga makan, lingkungan dan suasana pikiran, tapi sakit itu sendiri bisa “datang kapan saja” tanpa kita mampu kendalikan sebab-sebabnya.

Di luar penjelasan normatif agama dan kerangka tradisi, sakit adalah suatu gejala modern. Apa yang kita tahu, sadari dan bertindak ketika sedang sakit, adalah sebuah konstruk modern. Sebab, di masyarakat tradisional, reaksi mereka terhadap sakit amatlah berbeda. Ia lebih banyak berhubungan dengan unsur-unsur supranatural dan bentuk-bentuk “teguran” atas ketidakseimbangan hidup yang kita jalani, termasuk atas perlakuan tertentu kita terhadap beragam pantangan dan larangan, baik di rumah, lingkup pergaulan dengan sesama maupun relasi kita di/dengan alam semesta.

Penyembuhan dan pengobatan terkadang terbelah. Dalam praktik sehari-hari, reaksi kita terhadap gejala (sakit) yang kita alami demikian dempet dengan proses pengobatan, daripada kegiatan penyembuhan. Itulah sebabnya, untuk waktu yang cukup lama, masyarakat kita, dan kita semua, semakin terbiasa dengan obat-obatan.

Padahal, pada tingkat yang fundamental, proses penyembuhan tidaklah harus melalui (cara) pengobatan. Karena logika inilah maka jalur-jalur penyembuhan menjadi plural, tak lagi tunggal dalam pengertian jenis-jenis penyembuhan itu dan melalui (otoritas) siapa seseorang bisa pulih dari sakitnya.

Di akui atau tidak, otoritas kesehatan makin terbelah dewasa ini. Mereka juga manusia. Itulah sebabnya, dua puluh lima tahun terakhir kita makin akrab dengan “pengobatan herbal”, “penyembuhan alternatif”, “terapi”, “jamu tetes”, dan beragam sumber-sumber kesembuhan yang berbasis “alam” dan non-kimiawi.

Di ruang publik pun, di banyak sudut di kota-kota kita, demikian pula di media dan di banyak jaringan pertemanan, pemasaran, dan profesi, kini makin tersebar bentuk-bentuk penyehatan yang dirasakan lebih sehat, baik dalam arti dampak fisik-psikologisnya, maupun secara emosional dan spiritual.

Kegagalan penyembuhan melalui jalur pengobatan dan intevensi medis pun terbukti telah menyuplai banyak pengalaman dan cerita-cerita pilu di masyarakat kita. Jenis pelayanan dan kesalahan penanganan (medis) pun makin terbuka dewasa ini.

Amat terasa bahwa tak ada lagi idealisme tunggal yang memuliakan (martabat manusia) dari praktik-praktik medis modern kita. Dalam banyak kasus, kini kesehatan semakin mahal, serba uang dan serba obat. Meski kita patut bersyukur karena sistem asuransi kesehatan kita di Indonesia semakin rumit, dengan mendasarkan kebijakannya sesuai prinsip “gotong royong”, tapi kita tetap butuh memastikan bahwa tujuan bernegara bukanlah dibangun di atas logika sakit, penyakit dan rumah sakit.

Justru sebaliknya, kita hendak membesarkan Indonesia dengan logika sehat dan penyehatan.

Tak lama setelah putri kami mulai pulih, giliran saya yang merasakan sakit. Fisik saya sangat tidak stabil, serta lemas yang dililit panas-dingin. Akhirnya saya memilih menemui seorang dokter senior di kota ini. Saya disuntik! Wow, pengalaman menarik, setelah tiga puluh tahun lebih tak pernah mengalami suntikan. Tak lama setelah itu, kolega dan senior saya di kampus datang membawakan “ramuan buah.” Saya meminumnya cukup intensif setiap pagi. Saya merasa sehat dan rileks kembali.

Lalu, ada kekuatan (sehat) baru yang saya rasakan dan sadari: menghibur-diri dengan pikiran optimis, merendahkan diri melalui ibadah dan berkaca-diri dengan persahabatan dan pengharapan yang tak bertepi… *** 

 Penulis adalah  Bekerja di Universitas Negeri Gorontalo
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminSehat yang Sesatspektrum sosialTulisan Basri

Related Posts

Iwan Lakoro

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Tuesday, 9 June 2026
Husin Ali

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Monday, 8 June 2026
Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Muh. Amier Arham

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Thursday, 4 June 2026
Yusran Lapananda

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Tuesday, 26 May 2026
Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam?  Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Tambang Emas Pohuwato, Berkah atau Kutukan Sumber Daya Alam? Dari Enclave Ekonomi ke Pengukit Pertanian dan UMKM

Saturday, 23 May 2026
Next Post
Pertamina: Larangan Pertalite untuk Kendaraan Merek Tertentu Hoaks

Pertamina: Larangan Pertalite untuk Kendaraan Merek Tertentu Hoaks

Discussion about this post

Rekomendasi

Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

Tuesday, 9 June 2026
Suasana perayaan HUT ke-68 Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea pada Ahad (7/6/2026) malam, di rumah pribadinya. (Foto: Prokopim)

Perayaan HUT ke-68 Adhan, Tak Pake APBD, Dirayakan Bareng Anak Yatim

Tuesday, 9 June 2026
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea dan Wawali Indra Gobel tengah menikmati jajanan di Street Food Jilid II. (Foto: Prokopim)

Street Food Jilid II Diserbu Pengunjung, Omzet UMKM Capai Rp222 Juta dalam Semalam

Tuesday, 9 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026

Pos Populer

  • Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

    Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.