logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Pagar “Makan” Tanaman

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 13 July 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin
Parner di Voice-of-HaleHepu

 

UNGKAPAN terkenal mengingatkan kita: “…satu kali adalah kecelakaan; dua kali adalah kebetulan; tiga kali adalah konspirasi…”

Hari-hari ini, krisis keteladanan semakin menggema. Kita terkesan semakin sulit memastikan sesuatu. Terutama dalam soal kebenaran dan pegangan keteladanan. Yang banyak terjadi, seperti kata pepatah, “pagar makan tanaman…”

Related Post

Legislator Muda, Apa yang Berubah?

ASN Ilusi Kelas Menengah

Melukai Masa Lalu dan Jati Diri yang Goyah

Menanam Pohon, Menumbuhkan Harapan: Politik Pembangunan dari Desa

Kata-kata dan perbuatan berseberang jalan. Kepercayaan menjadi barang mahal, jumlahnya sangat sedikit, tetapi ialah juga yang paling rentan dicuri dan dimanipulasi.

Indonesia kita harus bertaruh-berulang tentang martabat dirinya di panggung dunia dan di hadapan rakyatnya sendiri. Bukankah hampir semua parameter negara-global cenderung masih menempatkan negeri kita di posisi yang “biasa-biasa” saja. “Reformasi dikorupsi,” demikian investigasi Tempo pada edisi Januari 2024.

Tampaknya, politik-pemerintahan kita lebih terkesan lincah memproses pembentukan “elite-pejabat” dengan kekuasaan yang serba sepihak, mengelompok, dan nyaman/hedonis dengan mentalitas status quo. Di alam nyata, “fasilitas jabatan – negara” lebih banyak dimanfaatkan bukan untuk kebajikan dan kepuasan publik melainkan demi kenyamanan elitism dan status.

Di berbagai tingkatan, mentalitas “cari nyaman” dengan posisi itu demikian tampak. Bentuk-bentuk tanggung jawab yang dibangun di atas komitmen dan dedikasi kerja semakin mengecil panampakannya.

Di banyak tempat, apa yang dengan mudah kita saksikan sepuluh tahun terakhir ini?

kepentingan pribadi, keluarga, dan kelompok begitu lihai dibungkus dengan pembenaran berulang dan bahasa basa-basi. Kepentingan publik ditumpangi dengan sesaknya retorika kemajuan…

Gaya dan bahasa yang dimunculkan setiap hari makin jauh dari keteladanan, baik dalam arti bertata-negara maupun dalam pergaulan sehari-hari. Antara kata dan perbuatan, kesenjangannya makin menganga. Kita kehilangan pegangan, karena keteladanan nyaris sudah mati. Kita kehilangan rasa malu dan sikap berani memihak kepada kebenaran karena “siasat” hidup semakin mengedepan. Hidup tak lagi dirasakan sebagai “panggilan”, melainkan ruang bagi prinsip “aji mumpung”. Kejujuran sudah tumpul.

Emosi dan rasio untuk berteriak kepada kebohongan tak lagi beroleh tempat di ruang-ruang rapat pimpinan dan di sidang-sidang resmi, pun di upacara-upacara dan di seremoni-seremoni. Diam-diam kita pongah menutupi apa yang “sebenarnya” terjadi di alam nyata. Aturan dan akal sehat tak berdaya di hadapan akal-bulus, nafsu kuasa, uang, dan perkawanan.

Kegundahan kita sudah lama: tentang hilangnya pegangan dan keteladanan.

Jangan ragu! Amatilah dalam pergaulan sehari-hari kita. Perhatikan sejenak di tempat-tempat kerja kita: kepentingan pribadi dan tindakan jangka pendek makin mengepung! Ketulusan berkorban dan keterpanggilan berbuat untuk hari esok yang lebih baik makin terasa sebagai “pemanis bibir” saja. Sang “Aku” selalu tak puas untuk hadir-selalu di publikasi.

Kita seperti tak punya lagi ukuran-ukuran moral dan kepantasan dalam menyikapi sesuatu. Orang cenderung “mendua” ketika bersikap terhadap kebenaran. Rasa malu dan prinsip tanggung jawab nyaris sudah diparkir jauh di dunia lain.

Setiap orang makin mudah mengedepankan kepentingannya sendiri, betapa pun kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah “demi” orang banyak, demi negara dan demi kepentingan bersama.

Kini kita demikian mudah membungkus keaslian diri dengan bersolek-kata dan muka di publikasi yang artifisial. Tidak jarang bahkan kemewahan dan ketenaran digiring sedemikian rupa oleh banyak “kalangan atas” di wilayah publik. Semuanya demi mengelabui motif-motif aslinya dalam kiprah kerja-kerjanya.

Semua tahu betapa pemberitaan media selalu memiriskan hati ketika percakapan nasional belakangan ini terus meluas tentang “robohnya kemuliaan” di kalangan atas. Demikian banyak terbukti bahwa yang kini bertengger di kekuasaan bukanlah terdiri dari para negarawan yang punya integritas dan moralitas tinggi, dengan kedalaman pemahaman (praktik) bernegara yang mumpuni dan dengan keagungan pribadinya sebagai “pengabdi bangsa”

Kita tak boleh mundur untuk yakin bahwa masih banyak orang baik yang lurus dan orang hebat yang berani di negeri ini. Inilah yang masih kita yakini, saksikan dan rasakan. Orang seperti itu tersebar di banyak tempat. Mereka berperan dengan cara dan dayanya masing-masing.

Mereka masih terus menyuarakan kebenaran dan mengerjakan cita-cita luhur republik ini. Mereka sangat paham dan terus berusaha bahwa “abad kegelapan” tidak boleh menjerat masa depan Indonesia. Mereka tidak pernah kehilangan harapan.

Negara jangan sampai dikelola sebagai “pelayan” buat keserakahan dan nafsu-nafsu sepihak demi kepuasan jangka pendek, sementara negeri-negeri lain demikian melaju sangat cepat kemajuannya. Generasi mereka semakin produktif, sementara pelajar-pelajar kita menghabiskan waktunya ‘main game’. Kota-kota (provinsi) mereka makin berdaya ekonomi kreatifnya, sementara kota-kota kita semakin “lelah” menyikapi sampah-sampah kesehariannya.***

 

Penulis adalah Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminHarian Persepsipersepsispektrum sosialtulisan basri amintulisan persepsi

Related Posts

Legislator Muda, Apa yang Berubah?

Legislator Muda, Apa yang Berubah?

Thursday, 9 July 2026
Muh. Amier Arham

ASN Ilusi Kelas Menengah

Monday, 6 July 2026
Basri Amin

Melukai Masa Lalu dan Jati Diri yang Goyah

Monday, 6 July 2026
Ridwan Monoarfa

Menanam Pohon, Menumbuhkan Harapan: Politik Pembangunan dari Desa

Monday, 6 July 2026
Nilai Tukar Petani Indonesia dan Paradoks Tingginya Harga Beras

Nilai Tukar Petani Indonesia dan Paradoks Tingginya Harga Beras

Friday, 3 July 2026
Yusran Lapananda

Makna & Implikasi Penggantian & Pengembalian Kerugian Negara

Friday, 3 July 2026
Next Post
DUKUNG KOPERASI - Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah RH bersama para gubernur se Indonesia, saat mengikuti peringatan hari koperasi nasional, di Indonesia Arena, Jakarta, Ahad (12/7). (foto: dok-pemprov)

Pemprov Gorontalo Support Kopdes Merah Putih

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 13 Juli 2026

Rekomendasi

Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie saat berziarah ke makam Almarhum H. Rachmat Gobel di Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan, Ahad (12/7/2026). (Foto : dok-pemprov)

Wagub Gorontalo Idah Syahidah Ziarah ke Makam Almarhum Rachmat Gobel di TMP Kalibata

Monday, 13 July 2026
Basri Amin

Pagar “Makan” Tanaman

Monday, 13 July 2026
Pengunjung salah satu supermarket yang berbelanja alat atau perlengkapan sekola, Minggu (12/7/2026). (Foto: Roy/Gorontalo Post).

Jelang H-1 KBM, Toko dan Supermarket ATK Diserbu Pengunjung

Monday, 13 July 2026
Foto bersama Ketua Tim Pengabdian Siti Choirul Dwi Astuti, Kepala Desa, Kader, ibu hamil dan Mahasiswa Sarjana Terapan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Gorontalo pada kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung di Desa Dutohe Kec. Kabila Kabupaten Bone Bolango.Jumat, (10/7)

Poltekkes Gorontalo Berdayakan Pensiunan Swasta dan Ibu Hamil

Monday, 13 July 2026

Pos Populer

  • Ilustrasi LGBT

    LGBTQ Ancam Kedaulatan Negara, Diatur Dalam Perpres, Didukung DPR

    29 shares
    Share 12 Tweet 7
  • Wagub Gorontalo Idah Syahidah Tutup MTQ Provinsi Gorontalo 2026

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Wagub Gorontalo Idah Syahidah Ziarah ke Makam Almarhum Rachmat Gobel di TMP Kalibata

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • In Memoriam Rachmat Gobel dan Jalan Pulang yang Istimewa

    199 shares
    Share 80 Tweet 50
  • Legislator Muda, Apa yang Berubah?

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.