gorontalopost.co.id- Penyediaan jajanan sehat di lingkungan sekolah menjadi salah satu upaya penting dalam mendukung pemenuhan gizi anak usia sekolah. Untuk itu, Jurusan Gizi pada Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Gorontalo terus mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai alternatif jajanan bergizi yang aman dikonsumsi siswa.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa Demonstrasi Pembuatan Tiliaya Sebagai Jajanan Sehat Anak Sekolah Dasar Pada Penjual Di Kantin Sekolah Dasar Yang Ada di Kelurahan Tenda Kecamatan Hulonthaangi Kota Gorontalo, Rabu (8/7). Sebanyak 30 penjual kantin sekolah dasar di Kelurahan Tenda mengikuti demonstrasi pembuatan tiliaya yang diawali dengan pemberian materi. Kegiatan tersebut dibuka oleh Camat Hulonthalangi dan dihadiri Lurah Tenda.
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Gorontalo, Dr. Arifasno Napu, SSiT., M.Kes., mengatakan demonstrasi tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penjual kantin dalam menyediakan jajanan sehat berbasis pangan lokal.
Menurutnya, anak usia sekolah membutuhkan asupan gizi yang seimbang untuk mendukung pertumbuhan, perkembangan, serta aktivitas belajar. Karena itu, makanan yang dijual di lingkungan sekolah harus memenuhi prinsip aman, bergizi, beragam, dan menyehatkan.
“Tiliaya memiliki potensi menjadi jajanan sehat karena dibuat dari telur, gula aren, santan kelapa, serta rempah-rempah alami seperti daun pandan, kayu manis, pala, dan cengkeh. Selain memiliki nilai gizi, bahan bakunya mudah diperoleh dan merupakan pangan khas Gorontalo,” ujarnya.
Selain mengenalkan manfaat gizi tiliaya, Arifasno juga mengingatkan pentingnya menyampaikan informasi sejarah kuliner Gorontalo berdasarkan kajian ilmiah. Menurutnya, berbagai klaim mengenai makanan tradisional sebagai hidangan khusus kalangan raja perlu dibuktikan dengan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Saya sering mendengar ada yang menyebut makanan tertentu sebagai makanan para raja. Pertanyaan saya sederhana, apa dasar literaturnya? Sampai hari ini saya belum menemukan referensi ilmiah yang menyatakan demikian. Kalau ingin membahas sejarah, mari kita mengacu pada data dan hasil penelitian, bukan sekadar cerita yang berkembang,” katanya.
Ia menjelaskan, selama bertahun-tahun dirinya meneliti makanan tradisional Gorontalo dengan melibatkan tiga generasi masyarakat. Penelitian tersebut berhasil mendokumentasikan sekitar 80 jenis makanan tradisional dan menjadi bagian dari disertasinya yang kemudian dijadikan rujukan dalam penyusunan Peraturan Daerah Provinsi Gorontalo tentang gizi berbasis makanan khas daerah.
“Hasil penelitian kami tidak menemukan bukti bahwa makanan tradisional tertentu merupakan makanan khusus para raja. Makanan-makanan itu sejak dahulu menjadi bagian dari tradisi masyarakat Gorontalo dalam berbagai prosesi adat dan keagamaan. Karena itu, saya mengajak semua pihak, termasuk media, agar menyampaikan informasi sejarah berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegasnya.
Sementara itu, Camat Hulonthalangi mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut karena dinilai mendukung peningkatan kualitas jajanan di lingkungan sekolah. Menurutnya, pembinaan kepada penjual kantin menjadi langkah strategis dalam membangun kebiasaan konsumsi pangan sehat sejak usia dini.
Hal senada disampaikan Lurah Tenda. Ia berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat diterapkan di kantin sekolah sehingga siswa memiliki lebih banyak pilihan jajanan yang sehat sekaligus memperkenalkan kekayaan pangan lokal Gorontalo.
Kegiatan diawali dengan pre-test, dilanjutkan penyampaian materi mengenai manfaat tiliaya dalam membantu meningkatkan stamina tubuh, demonstrasi pembuatan oleh tim pengabdian, penilaian organoleptik, hingga post-test. Tim pengabdian turut melibatkan dosen Jurusan Gizi Lien Ntau, SST., M.Si., Siti R. Baderan, SKM., M.Kes., serta lima mahasiswa Poltekkes Kemenkes Gorontalo.
Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata nilai peserta meningkat dan telah memahami bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan Tiliaya, cara membuat, serta manfaatnya. Dan setelah uji organoleptik, ternyata semua peserta termasuk yang hadir lainnya menyatakan bahwa tiliaya sangat disukai karena citarasanya, warna, aroma serta tekturnya.
Melalui kegiatan tersebut, Poltekkes Kemenkes Gorontalo berharap tiliaya dapat menjadi salah satu alternatif jajanan sehat di kantin sekolah dasar. Selain mendukung pemenuhan gizi anak, pemanfaatan pangan lokal juga diharapkan mampu melestarikan kuliner khas Gorontalo melalui pendekatan ilmiah dan edukatif. (adv)














Discussion about this post