logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Industri Hoaks dan Kemarahan

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 15 July 2026
in Persepsi
0
Muhammad Makmun Rasyid

Muhammad Makmun Rasyid

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Pagar “Makan” Tanaman

Legislator Muda, Apa yang Berubah?

ASN Ilusi Kelas Menengah

Melukai Masa Lalu dan Jati Diri yang Goyah

Oleh:
Muhammad Makmun Rasyid

Hoaks hari ini tidak lagi dapat dipahami semata-mata sebagai kabar bohong yang beredar acak. Ia telah berkembang menjadi industri: diproduksi, dikemas, disebarkan, dan dimonetisasi. Yang dijual bukan hanya kebohongan, melainkan juga kemarahan.

Dalam ruang digital, kemarahan menjadi bahan bakar yang efektif. Informasi yang memancing emosi biasanya lebih cepat menyebar daripada informasi yang tenang dan faktual. Orang mudah membagikan sesuatu ketika marah, takut, tersinggung, atau curiga. Di sinilah hoaks menemukan kekuatannya.

Data Kementerian Komunikasi dan Digital menjadi salah satu penanda seriusnya persoalan ini. Dalam periode 20 Oktober 2024 hingga 6 Desember 2025, Komdigi mencatat 1.890 konten hoaks. Dalam rentang lebih dari setahun, jumlah itu setara dengan sekitar empat hingga lima konten hoaks setiap hari. Angka ini belum menggambarkan seluruh peredaran hoaks, tetapi menunjukkan tekanan serius pada ekosistem digital kita.

Hoaks tidak hanya merusak kebenaran, tetapi juga kepercayaan sosial. Masyarakat mudah saling mencurigai. Perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan. Kritik bercampur dengan fitnah. Fakta kalah cepat dari tuduhan. Akibatnya, ruang publik tidak lagi menjadi tempat berdialog, melainkan arena saling menyerang.

‘Ekonomi’ Amarah

Industri hoaks bekerja dengan memanfaatkan perhatian publik. Dalam dunia digital, perhatian adalah modal. Semakin banyak orang membaca, menonton, membagikan, dan mengomentari informasi, semakin besar pula nilainya. Masalahnya, informasi yang paling menarik perhatian sering kali bukan yang paling benar, melainkan yang paling mengejutkan dan memancing emosi.

Di media sosial, kemarahan jarang berhenti sebagai emosi pribadi. Ia dapat berubah menjadi perhatian, perhatian menjadi jangkauan, dan jangkauan menghasilkan nilai ekonomi maupun pengaruh politik. Konten yang memancing amarah lebih mudah memperoleh komentar, respons, dan penyebaran. Dari sana muncul keuntungan melalui iklan, donasi, langganan, sponsor, penjualan produk, atau dukungan politik.

Jeffrey M. Berry dan Sarah Sobieraj menyebut gejala ini sebagai outrage industry, yakni industri yang hidup dari produksi kemarahan publik. Dalam industri ini, kemarahan tidak selalu muncul alamiah. Ia dapat dirancang, diarahkan, dan dipelihara agar publik terus memberi perhatian. Semakin keras reaksi publik, semakin besar keuntungan pihak yang memainkan isu.

Ekonomi amarah bekerja melalui pemotongan konteks dan pemelintiran fakta. Isu diberi judul provokatif lalu disebarkan seolah-olah kebenaran utuh. Foto lama diberi keterangan baru, video pendek dipisahkan dari kejadian sebenarnya, pernyataan seseorang dipelintir agar tampak buruk. Hoaks menjadi meyakinkan karena sesuai dengan prasangka.

Namun, tidak semua kemarahan buruk. Ada kemarahan yang lahir dari kepedulian, rasa keadilan, dan keberpihakan kepada korban. Dalam demokrasi, kemarahan moral diperlukan untuk mengoreksi kekuasaan. Yang berbahaya adalah kemarahan yang sengaja diproduksi melalui kebohongan, manipulasi, dan pemelintiran fakta.

Krisis Nalar

Maraknya hoaks menunjukkan krisis nalar publik. Krisis ini tampak ketika masyarakat lebih cepat percaya pada informasi yang sesuai dengan emosi daripada informasi yang sudah diverifikasi. Orang tidak lagi bertanya apakah sebuah informasi benar, tetapi apakah informasi itu cocok dengan keyakinannya.

Dalam kajian tentang berita palsu, ada perbedaan antara kecenderungan percaya pada informasi dan kemampuan membedakan informasi benar dari palsu. Seseorang bisa lebih mudah percaya pada berita yang sesuai dengan pandangan politik, agama, atau identitas kelompoknya. Namun, persoalan hoaks tidak cukup dijelaskan oleh fanatisme politik. Yang lebih mendasar adalah melemahnya kemampuan publik memilah informasi.

Orang bisa mempercayai kabar palsu karena terasa masuk akal, sesuai pengalaman, sejalan dengan prasangka, atau dibagikan oleh orang yang dipercaya. Di sinilah hoaks bekerja halus. Ia tidak selalu memaksa orang percaya, tetapi membuat orang merasa bahwa kebohongan itu benar. Ketika informasi palsu terus hadir, kemampuan membedakan fakta, opini, dan manipulasi semakin diuji.

Padahal, kehidupan bersama membutuhkan dasar kebenaran yang dapat dibagi. Demokrasi tidak mungkin sehat jika setiap kelompok hidup dalam versinya sendiri tentang kenyataan. Jika satu kelompok percaya pada fakta, sementara kelompok lain percaya pada tuduhan yang terus diulang, dialog menjadi sulit dilakukan.

Karena itu, melawan hoaks menuntut kebiasaan berpikir sehat: memeriksa sumber, membaca utuh, membandingkan informasi, dan menahan diri sebelum membagikan sesuatu. Nalar publik hanya pulih jika warga memberi jarak antara emosi dan keputusan.

Merebut Ruang Publik

Ruang publik digital tidak boleh dibiarkan dikuasai kebohongan dan kemarahan. Ia harus direbut kembali sebagai tempat bertukar pikiran secara sehat. Tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan hanya kepada warga. Negara perlu hadir dengan kebijakan adil dan terukur agar penindakan hoaks tidak berubah menjadi pembatasan kritik. Kritik terhadap pemerintah adalah bagian dari demokrasi.

Yang harus ditindak ialah kebohongan yang sengaja diproduksi untuk menyesatkan publik, memicu kebencian, atau menciptakan keresahan sosial. Platform digital juga bertanggung jawab. Jika interaksi tumbuh dari kemarahan dan disinformasi, platform tidak bisa berlindung di balik alasan netralitas. Algoritma yang mendorong konten provokatif perlu diawasi, dan media massa perlu menjaga akurasi di tengah godaan sensasi.

Industri hoaks akan terus tumbuh selama kemarahan publik mudah diperjualbelikan. Ia hidup dari kelengahan, prasangka yang tidak diperiksa, dan lemahnya tanggung jawab pengelola ruang digital. Ruang publik yang sehat hanya tumbuh jika kebenaran dihargai, perbedaan dikelola dewasa, dan kemarahan tidak menjadi barang dagangan. Jangan menjadi bahan bakar industri kemarahan. Jadilah pembaca yang teliti, penyebar informasi yang bertanggung jawab, dan penjaga akal sehat bersama. (*)

Penulis adalah Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PP ISNU) 2025-2030

Tags: Catatan Makmun RasyidIndustri Hoaks dan KemarahanMakmun Rasyid

Related Posts

Basri Amin

Pagar “Makan” Tanaman

Monday, 13 July 2026
Legislator Muda, Apa yang Berubah?

Legislator Muda, Apa yang Berubah?

Thursday, 9 July 2026
Muh. Amier Arham

ASN Ilusi Kelas Menengah

Monday, 6 July 2026
Basri Amin

Melukai Masa Lalu dan Jati Diri yang Goyah

Monday, 6 July 2026
Ridwan Monoarfa

Menanam Pohon, Menumbuhkan Harapan: Politik Pembangunan dari Desa

Monday, 6 July 2026
Nilai Tukar Petani Indonesia dan Paradoks Tingginya Harga Beras

Nilai Tukar Petani Indonesia dan Paradoks Tingginya Harga Beras

Friday, 3 July 2026

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 14 Juli 2026

Rekomendasi

Inovasi Pemkot dan BTN: Kartu AIR Belajar Pantau Kehadiran dan Dorong Budaya Menabung

Inovasi Pemkot dan BTN: Kartu AIR Belajar Pantau Kehadiran dan Dorong Budaya Menabung

Tuesday, 14 July 2026
In Memoriam Rachmat Gobel, JK: Memahami Masalah, Sangat Ramah, Itu Ciri Beliau

In Memoriam Rachmat Gobel, JK: Memahami Masalah, Sangat Ramah, Itu Ciri Beliau

Saturday, 11 July 2026
Muhammad Makmun Rasyid

Industri Hoaks dan Kemarahan

Wednesday, 15 July 2026
Orang Kuat

Orang Kuat

Tuesday, 14 July 2026

Pos Populer

  • Wagub Gorontalo Idah Syahidah Tutup MTQ Provinsi Gorontalo 2026

    Wagub Gorontalo Idah Syahidah Tutup MTQ Provinsi Gorontalo 2026

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Poltekkes Kemenkes Gorontalo Demonstrasikan Tiliaya Sebagai Jajanan Sehat Anak Sekolah

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Wagub Gorontalo Idah Syahidah Ziarah ke Makam Almarhum Rachmat Gobel di TMP Kalibata

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • In Memoriam Rachmat Gobel, JK: Memahami Masalah, Sangat Ramah, Itu Ciri Beliau

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • In Memoriam Rachmat Gobel dan Jalan Pulang yang Istimewa

    206 shares
    Share 82 Tweet 52
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.