oleh:
Basri Amin
Kolumnis Tetap Gorontalo Post
BERSUA sekali dalam jarak dekat tidak membantu saya mengenalinya secara otentik. Satu-satunya kesan dasar yang mengesankan adalah bahwa Rachmat Gobel selalu lugasmenyampaikan gagasan-gagasannya “membesarkan’ Gorontalo.
Ia cukup kuat membicarakan fakta-fakta. Ia bahkan terkesan obsesif hendak “membalik” banyak kenyataan (di) Gorontalo. Semua telah terbaca melalui radar kepekaannyamewujudkan “restorasi” yang lebih nyata untuk kampung halamannya…
Jumat, 10 Juli 2026, Rachmat Gobel dipanggil oleh Maha Pencipta dan Yang MahaPenyayang untuk “lebih dekat” padaNya. Batas-fisikalnya terhenti di TMP NasionalKalibata (Blok Z-551), tetapi bangunan moral-nya untuk kemajuan akan senantiasamenemukan ruang yang lebih luas dan jalan-jalan baru untuk dinilai dan dilalui olehgenerasi yang berbeda. Enam puluh tiga tahun Rachmat Gobel (RG) adalah waktu yang berisi dan telah diarungi gelombang samuderanya dengan penuh daya tahan, pengaruhyang bermakna dan martabat yang mengemuka.
Hampir semua orang punya kesan tentang kehangatan pribadinya. Memang, bayang-bayang kebesaran ayahnya, Thajeb Gobel, masih terus melekat –dan ia pun memangterbiasa menegaskan ikatan moral dan warisan tradisi serta nilai-nilai “Gobel”— di-dalam dirinya. Tetapi, RG adalah pembuka jalan-jalan baru di bidang kerja yang iatekuni, terutama ketika menjadi seorang politisi-partai selama dua kali Pemilu.
Uniknya, sejauh yang mampu saya cermati, RG termasuk tokoh nasional yang jarangmenggunakan kata “politik” itu sendiri dalam wicara publiknya. Ketika pun iamenggunakannya, RG terkesan mengisi “nafas-keseharian” politik-praktis itu dengankata kesejahteraan, masa depan, masyarakat, “rakyat saya“, Indonesia, Gorontalo, dst.
Nyaris tak ada jeda bagi RG: mencari jalan, ruang kosong dan kesempatan membaktikan“sesuatu” bagi Gorontalo. Bahkan terkesan ia lebih banyak menggunakan “isi kantong” sendiri untuk semua gagasan dan agendanya. Tak pernah terdengar menggunakan“fasilitas negara” untuk diri, keluarga, dan kelompoknya. Padahal, RG adalah “orang bisnis” —tetapi karakternya sangat jauh dari mentalitas ‘kontraktor’ yang tergantungkepada….
Ekonomi, pasar, kesejahteraan, citra daerah, jaringan internasional, Jepang dan industriadalah kata-kata kunci yang identik dengan kiprah RG dan wawasan besarnya untuknegerinya. Di luar itu, dan ini yang sering tercecer, adalah bahwa RG adalah peCintaBuku. Gesturnya dalam membaca cukup mengesankan.
Jari-jarinya lincah menyentuh lembaran-lembaran buku, terasa ringan, peduli sangat, danmemuliakan ilmu/Pengetahuan. Demikian pula raut-wajah dan simakan-matanya terkesancermat menyelami setiap isi bacaan dan pemikiran. Jika tak salah, RG adalah “sponsor abadi” untuk pameran rutin – buku internasional (di) Asia Tenggara dan di Jakarta.
Pengabdian Rachmat Gobel sejauh ini memperlihatkan bagaimana tarikan aspirasikemasadepanan Gorontalo berhadap-hadapan dengan kondisi riil masyarakat yang terlilitketimpangan akut sekian lama. Kendati tak diungkapkan dengan tegas, kita bisa melacakbahwa makna di balik kata “instrumen” yang dirumuskan Gobel dalam sejumlah (buku!) dan dokumentasi pemikiran dan kerja-kerjanya selama di DPR-RI, sangatlahmenunjukkan bahwa RG “bekerja dengan perspektif dan intervensi tertentu” yang iacoba bumikan untuk Gorontalo. Meski hal ini terkesan belum sepenuhnya paralel dengankapasitas dan action ‘orang-orang di sekitarnya.”
Selamat jalan, Pak RG. Anda telah kembali kepada-Nya melalui “jalan hidup” yang istimewa di hari yang istimewa pula. Ruh-mu dan panggilan jiwa-mu selalu “kembali” di Gorontalo, negeri-istimewa di Timur Nusantara yang selaku Pak RG banggakan dansebut-sebut tanpa henti.
Jika ada yang tersisa dari panggilan-pengabdian Pak RG untuk Gorontalo, hal itu adalah: pemerintahan yang benar yang memajukan dan yang bergerak dengan kebenaran danketulusan; generasi terbaik masa depan yang cerdas-berjati-diri; dan Gorontalo yang bermartabat ekonomi dan kebudayaannya; serta politik yang memihak kepada semuagolongan dan yang melindungi sumberdaya alam-nya…***












Discussion about this post