logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Melukai Masa Lalu dan Jati Diri yang Goyah

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 6 July 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Pajak: Madu dan Racun Bagi Perekonomian  

Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Spanyol, Bola, dan Islam

Gorontalo Karnaval Karawo, Untuk Apa?

Oleh:
Basri Amin

BANGSA hebat di masa kini tumbuh dari jati diri yang kukuh memelihara jejak-jejak cipta dan cita-citanya dari masa lalu. Ia bertaruh dari waktu ke waktu memelihara karakter sejarah dan kapasitas kulturalnya menyikapi perubahan. Pemimpin yang berganti-ganti, pada hakikatnya, adalah “petugas” pemelihara dan pelanjut kerja bagi cita-cita yang dirumuskan dari masa lalu itu.

Dengan itulah kita memproyeksi pilihan masa depan yang terbaik dan yang terakui. Jika itu kita kerjakan konsisten, kita menjadi bangsa yang berjati-diri dan bukan hanya menjadi negeri yang ramai dengan peristiwa sepele-keseharian yang tidak akan membuat kita berjiwa dan tangkas bersaing dalam kerja-kerja kebajikan.

Bangsa kita terkesan gagal-berulang memelihara dan mendayagunakan “simbolisme” yang aspiratif dari jejak-jejak jati dirinya. Kita mudah lumpuh dan kalah di atas timbangan legalitas kewenangan, juga dalam soal-soal kepentingan sesaat menurut kalkulasi untung-rugi. Kita terlalu lemah dalam menemukan “ruhani” zaman yang menghasilkan bukti-bukti fisikal, fiskal, dan sosial yang kita nikmati (bersama!) saat ini.

Sebuah Artefak Sejarah, adalah “rumah besar” bagi pengetahuan yang melintasi zamannya. Ia sekaligus sebagai “corong yang nyaring” bersuara dan “cermin besar yang jernih” untuk kita pakai mendengar dan melihat SIAPA diri-kolektif kita sebenarnya. Ia bisa pula “memendam” dendam yang tak terbatas atas ketidakadilan, penindasan dan pembodohan yang pernah terjadi di masa lalu. Hal mana bisa jadi masih berlanjut hari-hari ini dan ke depan: kepemilikan yang cacat, pembenaran kesempatan kuasa dan pengetahuan dangkal yang dibelokkan…, dst

Artefak Sejarah –-kehadiran faktual dan peran kultural– tak bisa diabaikan begitu saja atas nama apa pun. Nilainya tak bisa ditakar dengan pengetahuan praktis!. Ada moralitas masyarakat yang abadi di sana, sekaligus sebagai pemberi jawaban bahwa “kita pernah memenangkan sesuatu” di masa sulit yang pilu di mana nyawa, harta-benda, ketidakpastian, dan semua kekuatan ruhani dan material yang kita miliki dipertaruhkan dan dikorbankan sedemikian rupa.

Pantaskah kita melupakan semua itu? Jika pertanyaan seperti ini tak bisa kita renungi dan pikirkan, maka tak ada lagi ukuran martabat kebudayaan yang pantas kita terima. Kita adalah pecundang paling nyata atas peradaban kita sendiri. Kita adalah pembaca yang super-malas atas sejarah kemanusiaan dan riwayat kebangsaan kita. Kita terlalu pongah dengan nalar sendiri yang sangat sepihak. Jika itu yang dipilih, tunggulan lembaran-lembaran sejarah (kemunafikan) yang Anda tulis sendiri dengan tebal. Saksi-saksi kehidupan yang lebih luhur tak akan bisa Anda kalahkan.

Rapuhnya Tabiat Memelihara

Di beberapa bidang yang sukses, tantangan seriusnya adalah dalam hal “memelihara” pencapaian. Bukan hanya dalam arti pencapaian atas sesuatu yang tampak, tapi juga untuk hal-hal yang tidak tampak. Banyak kerusakan dalam memperlakukan fasilitas bersama di tempat-tempat umum, termasuk di banyak lembaga negara dan swasta disebabkan karena “rasa memiliki” dan “perangai memelihara” itu tidak ada.

Semua mudah rusak atau dirusaki dengan cara-cara yang amat tidak bertanggung jawab. Perilaku seperti ini berkembang karena bisa jadi memang sejak awal tidak pernah dibentuk dengan serius dan diusahakan sedemikian rupa.

Membangun (kebaikan) dipenuhi dengan proses dan sumberdaya, sementara merusak terlalu mudah karena hanya butuh tindakan menyimpang. Waktu yang dibutuhkan dalam merusak pun singkat. Mengendalikan yang buruk membutuhkan energi besar karena manusia adalah makhluk “banyak akal”.

Tidak mudah memang mengatur manusia. Perangai dan motifnya berlapis-lapis, dan selalu punya potensi untuk “bermuka dua” dan memelihara topeng-topeng kepentingannya. Dalam situasi seperti inilah kemampuan dalam hal ‘pengaturan manusia’ pun menjadi krusial.

Terkadang harus menggunakan cara-cara keras berupa pembatasan atau tindakan fisik. Hukum yang tegas, sistem yang objektif dan pengaturan ruang gerak adalah contohnya. Sehingga ruang untuk manipulasi dan basa-basi semakin hilang.

Tabit memelihara adalah pangkal dari budaya mewariskan. Dari sinilah keberlanjutan dan penghidupan yang bermakna dan bermartabat berakar. Dengan dasar itupula, moralitas dan ilmu pengetahuan akan betah memberi warna, ruh dan cara-cara untuk penghidupan yang menyejahterahkan.

Paradoks pencapaian manusia makin menganga. Kita seolah-olah dikepung oleh brutalisme dalam nafsu kemajuan ekonomi, sementara itu kita pun hendak dilumpuhkan oleh tabiat “bebalisme” pada sisi sosial budaya. Pada aspek lain, kekuasaan kita cenderung memilih pola “permainan” dalam perangai kolektifnya. Lalu, dimanakah marwah memelihara dan mewariskan masa depan itu terletak? Kepada siapakah pengharapan itu kita gantungkan? Dengan apakah kita hendak berperan dan saling menyelematkan?

Pertanyaan seperti bisa dijawab oleh siapa saja dan dalam kerangka waktu apa saja. Tak perlu menunggu lama. Dalam hitungan jam dan hari, banyak hal yang bisa kita kerjakan. Di sekitar kita, begitu banyak hal yang menanti kehadiran kita. Bukalah ruang kepekaan dan rasa terpanggil untuk memelihara. Dengan itulah ukuran kemajuan selalu dipercakapkan dan terus dikerjakan. Kita mudah marah kalau gagal bergerak maju. Kita pun saling memberi nasehat dan teguran jika ada yang salah. ***

Penulis Bekerja di Universitas Negeri Gorontalo Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminCatatan basri aminspektrum sosial

Related Posts

Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Pajak: Madu dan Racun Bagi Perekonomian  

Tuesday, 21 July 2026
Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Monday, 20 July 2026
Basri Amin

Spanyol, Bola, dan Islam

Monday, 20 July 2026
Muh. Amier Arham

Gorontalo Karnaval Karawo, Untuk Apa?

Sunday, 19 July 2026
Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Mewaspadai Lonjakan Harga Pangan: Menjaga Daya Beli dan Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo

Thursday, 16 July 2026
Muhammad Makmun Rasyid

Industri Hoaks dan Kemarahan

Wednesday, 15 July 2026
Next Post
Erwin Ismail Kembali Pimpin Demokrat, Taget Rebut Kursi DPR RI

Erwin Ismail Kembali Pimpin Demokrat, Taget Rebut Kursi DPR RI

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 16 Juli 2026

Rekomendasi

Wagub Gorontalo Idah Syahidah Hadiri Bahagia QRIS Fest 2026 di Limboto

Wagub Gorontalo Idah Syahidah Hadiri Bahagia QRIS Fest 2026 di Limboto

Monday, 20 July 2026
Basri Amin

Spanyol, Bola, dan Islam

Monday, 20 July 2026
Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Satu Huruf Salah di KTP, Urusan Publik Berantakan

Monday, 20 July 2026
Bahagia QRISFest Dukung UMKM, Perluas Pembayaran Digital

Bahagia QRISFest Dukung UMKM, Perluas Pembayaran Digital

Monday, 20 July 2026

Pos Populer

  • APH di Gorontalo Solid, Kapolda, Kapolres Silaturahim ke Markas TNI-Kejaksaan

    APH di Gorontalo Solid, Kapolda, Kapolres Silaturahim ke Markas TNI-Kejaksaan

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Wagub Gorontalo Idah Syahidah Hadiri Bahagia QRIS Fest 2026 di Limboto

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Spanyol, Bola, dan Islam

    28 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Pengumuman Libur Khusus Final Pildun di Gorontalo Hoaks

    28 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Saksi Ungkap Perbuatan Terdakwa PETI, Tertangkap Tangan Saat Menambang Emas Ilegal di Saripi

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.