Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Proses penerimaan jemaah haji Kloter 28 UPG Embarkasi Haji Antara (EHA) Gorontalo tahun 2026 dilakukan dengan konsep sederhana dan minim seremoni. Langkah tersebut dilakukan untuk mengutamakan kenyamanan para jemaah, khususnya yang lanjut usia.
Sebanyak 393 jemaah asal Pohuwato, Kota Gorontalo, dan Bone Bolango mulai masuk asrama haji pada kloter perdana, pada Sabtu (9/5/2026). Seluruh proses penerimaan berlangsung tertib dengan dukungan berbagai instansi terkait, mulai dari Garuda Indonesia hingga tim kesehatan.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Provinsi Gorontalo, H. Mansur Basir mengatakan, kegiatan seremoni sengaja dipersingkat agar jemaah memiliki waktu istirahat yang lebih panjang sebelum keberangkatan menuju Tanah Suci.
“Kami mendapat arahan bahwa pembukaan kegiatan maksimal hanya 15 menit saja. Ini bentuk penghormatan kepada para jemaah, terutama lansia, agar mereka bisa lebih nyaman dan punya waktu istirahat yang cukup sebelum keberangkatan,” ujarnya.
Menurut Mansur, mayoritas jemaah pada kloter perdana merupakan lansia sehingga pelayanan dibuat lebih efektif melalui sistem One Stop Service (OSS) atau layanan satu pintu.
“Begitu jemaah datang, mereka langsung menjalani pemeriksaan kesehatan, mengambil gelang identitas, living cost, nomor kursi Garuda, sampai kartu jemaah. Setelah itu langsung diarahkan beristirahat. Jadi memang malam ini tidak ada seremoni sama sekali,” jelasnya.
Ia menegaskan, kebijakan tersebut merupakan arahan langsung untuk memangkas kegiatan seremonial yang dinilai terlalu panjang dan melelahkan bagi jemaah. “Kami memang diminta mempersempit ruang seremoni. Fokus utama kami adalah kondisi kesehatan dan kenyamanan jemaah,” tambah Mansur.
Sementara itu, untuk pelepasan resmi keberangkatan dijadwalkan berlangsung singkat dan hanya dihadiri Gubernur atau Wakil Gubernur Gorontalo dengan durasi maksimal sekitar 15 menit.
Selain fokus pada kenyamanan jemaah, panitia juga memastikan seluruh calon haji menjalani pemeriksaan kesehatan secara ketat sebelum diberangkatkan. Penentuan kelayakan terbang sepenuhnya menjadi kewenangan tim kesehatan berdasarkan standar operasional dan ketentuan Kementerian Kesehatan.
“Yang menentukan layak terbang atau tidak adalah tim kesehatan. Kalau ada penyakit menular, gangguan kesehatan tertentu, atau kondisi yang berisiko untuk perjalanan panjang, tentu akan diperiksa lebih lanjut,” katanya.
Adapun keberangkatan Kloter 28 UPG dijadwalkan melalui Makassar sebelum melanjutkan penerbangan menuju Jeddah menggunakan pesawat Boeing 777 milik Garuda Indonesia. Jemaah diperkirakan tiba di Arab Saudi pada sore hari waktu setempat.
Mansur berharap seluruh rangkaian proses keberangkatan berjalan lancar dan seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah haji dengan aman, sehat, serta kembali ke tanah air dalam keadaan selamat. (Tr-76)













Discussion about this post