logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Abad (Gorontalo) Cerdas

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 5 May 2025
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin

 

BUKAN sekadar “takdir zaman” bahwa Gorontalo di abad ke-20 berhasil melahirkan generasi terbaiknya. Mereka tertempa oleh banyak tantangan dan berhasil keluar dari lingkungan geografi atau kungkungan historisnya yang terbatas. Rintangan zaman kolonial, regionalisme, dan sekat-sekat feodalisme sukses ditembus oleh penyadaran pendidikan, misi keagamaan dan jaringan (organisasi) keindonesiaan.

Nasionalis-cendekiawan terdepan Minahasa, Dr. Sam Ratulangi, dan beberapa tokoh terdepan Minahasa datang khusus di Gorontalo tahun 1923 untuk berbagi sikap dan wawasan pembaruan dengan elite Gorontalo di masa itu.

Related Post

Melampaui Polemik Rumah Jawatan Kantor Pos

Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Mengukur Sisa Waktu Kepala Daerah

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Mereka adalan Najoan, Joast Wenas, Willem Laoh, Johan Matuh, dan Sijfert Waworontoe (GATJ, 1985; Lapian, 1980; Schouten, 1998). Di masa itu, tokoh utama Gorontalo adalah Rais Monoarfa. Tokoh terdepan lainnya, terutama sebagai intelektual yang sudah sering menulis di surat kabar utama Minahasa, Tjahaja Siang, adalah Ajoeba Wartabone dan Daud.

Sejak tahun 1918, surat kabar Tjahaja Siang, sudah memberi pengaruh luas di Utara Sulawesi, termasuk di Gorontalo. Di awal 1920-an, pembaca koran ini di Gorontalo sudah meluas, kendati hanya diwakili oleh beberapa orang terpelajar dan yang memiliki posisi di masa itu, antara lain: B. Hadjoe di Atinggola, B.G. Logor di Kota, H.H. Maaroef, R. Sijar dan K. Wartabone di Kwandang, N. Alie di Kabila, S. Alie di Telaga, J. Niode di Kota dan L.A. Rumapuk di Bumbulan. Selain itu, yang tergolong aktif membaca dan bahkan di antaranya sangat disegani tulisan-tulisannya di Tjahaja Siang adalah S. Moha, Dj Niode, B. Olii, A. Datau, D. Kaluku dan M. Dungga.

Bukan tanpa alasan mengapa dikemudian hari semangat belajar yang besar dari “generasi Gorontalo cerdas” itu akhirnya berjalan-seiring dengan arus nasionalisme dan pluralisme (di) Gorontalo dan di luar kawasan ini. Sejak akhir 1930-an sampai 1950-an, “generasi terbaik” Gorontalo itu benar-benar memiliki tempat istimewa dalam sejarah keindonesiaan kita. Tak perlu heran kalau begitu banyak bidang keilmuan dan profesi yang berhasil menjejer nama-nama “manusia Gorontalo” di panggung sejarah bangsa.

Jejaring nasionalisme Jawa dan misi pendidikannya sangat besar perannya di awal 1930-an di Gorontalo. Di sektor pendidikan terutama. Hal ini bisa kita rasakan misalnya, kalau kita merujuk riwayat pendidikan seorang tokoh Gorontalo di Makassar dan Bandung bernama Ismail Napu. Beliau merasakan betapa besar jasa Rekso-Soerjo Instituut ketika ia menempuh pendidikan HIS swasta tahun 1930. Di era ini juga, berdiri sendirilah perguruan swasta oleh R. Soeryokoesoema (1935) dengan nama “Taman Putra”. Demikian pula dengan kerja-kerja Rekso-Soemitro dengan “Het Gorontalo Instituut”nya.

Di akhir 1930-an, makin tampak peran-perang kunci sejumlah anak-anak Gorontalo yang terdidik, antara lain Dokter Aloei Saboe, K. Kaluku, H.B Jassin, Ganie Katili, A. Dungga, dst. Di bidang jurnalistik, di Batavia mulai dikenal Allan PooE, sementara di Gorontalo sejumlah media cetak makin luas perannya, dengan pola tulisan yang sangat mondial di masa itu.

Memasuki era 1940-an, kelompok Perempuan Gorontalo malahan menunjukkan prestasinya yang sangat hebat, antara lain oleh Saripa Hala, Nafsia Hulalata, Ina Datau, MaU Dambea, Suus Wartabone, Ruaida Intan Uno-Monoarfa, Mariana Lamadilauw, dst (Amin, 2014; Eraku, 2007). Sejak era itu pula, sudah tercatat perempuan Gorontalo yang sukses belajar di Djokjakarta dan Semarang, misalnya Marie Datau dan Hadidja Datau.

Tak lama setelah Kemerdekaan, perempuan Gorontalo sudah bergerak di Djokjakarta dan di Malang. Perempuan itu bernama Siti Fatimah Usoeloe. Tinggal di Kaoeman 260a, Djogja. Ia menulis sebuah surat panjang tertanggal 6 Januari 1947 yang dikirimkannya kepada tokoh Gorontalo, HB Jassin, yang ketika itu namanya sudah berkibar di Batavia/Jakarta.

Pekik “Tetap Merdeka!” tertulis dalam suratnya kepada H.B. Jassin tersebut, sebagai balasan untuk surat H.B. Jassin sebelumnya (22 Desember 1946). Mereka saling berbagi kabar, termasuk saling bertanya tentang orang-orang Gorontalo yang pada masa itu tengah berada di tanah Jawa. Dengan gaya panggilan akrab ala Gorontalo, kata “Ma’ Ade” juga tetap dipakai keduanya dengan hangat.

Rupanya St Fatimah Usoeloe adalah pembaca aktif majalah Pantja Raja, sebuah majalah terpandang yang diterbitkan Balai Pustaka (1945-1947) ketika H.B Jassin bekerja sebagai Redaktur.

Melalui korespondensi keduanya, kita juga bisa tahu bahwa ternyata sejak tanggal 12-13 Oktober 1946, telah berdiri “Keroekoenan Keloearga Teloek Gorontalo (KKTG) di Djogjakarta, dengan alamat pengurus pusat KKTG: Kaoeman 260a, Djokja.

Tak lama setelah itu, berdiri pula cabang KKTG di Malang pada 4 November 1946 dengan alamat Abdoera’oef, Taloenkolom 6B/25, Malang. Demikian juga di Solo, KKTG tengah diusahakan berdiri cabang oleh S. Olii di Keprabon Koelon 66. Tampaknya, inilah jejak pertama persaudaraan (kebangsaan) Gorontalo yang bersemai secara nasional.

Pelajaran berharga yang mungkin harus dikerjakan sekarang ini, di tengah-tengah fasilitas hidup dan jaringan organisasi yang semakin baik dan merata, barangkali adalah tentang “kekeluargaan Gorontalo” itu sendiri di panggung nasional. Tokoh yang banyak bertengger di sektor kekuasaan dan di sektor profesional hendak memerankan apa?

Adakah kepentingan lintas generasi yang kini tengah dikerjakan? Seperti apakah etik publik, wawasan daya saing daerah dan perubahan kemakmuran bagi semua golongan dikerjakan? Saya rasa, kita relatif masih terkesima dengan ketokohan yang posisional. Kita masih lemas menggemakan kegorontaloan yang produktif karena menata etika publik, pembinaan generasi baru, menguatkan produktivitas daerah, dan mengokohkan kegairahan berilmu pengetahuan.***

Penulis adalah parner di Voice-of-HaleHepu;
Pos-el: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminHarian Persepsipersepsispektrum sosialTulisan Basritulisan persepsi

Related Posts

Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Melampaui Polemik Rumah Jawatan Kantor Pos

Thursday, 10 September 2026
Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Wednesday, 9 September 2026
Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Mengukur Sisa Waktu Kepala Daerah

Wednesday, 9 September 2026
Yusran Lapananda

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Tuesday, 8 September 2026
Basri Amin

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Monday, 7 September 2026
Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Sunday, 6 September 2026
Next Post
SEGERA PRODUKSI : Pertambangan emas Pani Gold Project di kawasan Gunung Pani, Kabupaten Pohuwato, yang diprediksi mulai melakukan aktivitas produksi pada awal tahun 2026 mendatang. (foto : jitro paputungan / gorontalo post)

Pani Gold Project, Royalti untuk Daerah Rp 15 Triliun

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Harfest 2026, BI Buka Jalan UMKM Gorontalo Tembus Pasar Ekspor

Harfest 2026, BI Buka Jalan UMKM Gorontalo Tembus Pasar Ekspor

Thursday, 10 September 2026
Meriahkan Harfest 2026, Yura Yunita Akan Tampil di Gorontalo

Meriahkan Harfest 2026, Yura Yunita Akan Tampil di Gorontalo

Thursday, 10 September 2026
Poltekkes Gorontalo dan Warga Tinelo Olah Sampah Plastik Menjadi Furnitur Ecobrick

Poltekkes Gorontalo dan Warga Tinelo Olah Sampah Plastik Menjadi Furnitur Ecobrick

Wednesday, 9 September 2026
Berkendara Saat Hujan Abu dan Asap, Honda Bagi Tips Agar Tetap Nyaman

Berkendara Saat Hujan Abu dan Asap, Honda Bagi Tips Agar Tetap Nyaman

Wednesday, 9 September 2026

Pos Populer

  • Harfest 2026, BI Buka Jalan UMKM Gorontalo Tembus Pasar Ekspor

    Harfest 2026, BI Buka Jalan UMKM Gorontalo Tembus Pasar Ekspor

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Meriahkan Harfest 2026, Yura Yunita Akan Tampil di Gorontalo

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • 86 SPBU di Sulawesi Kena Sanksi Pertamina

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Poltekkes Gorontalo dan Warga Tinelo Olah Sampah Plastik Menjadi Furnitur Ecobrick

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Berkendara Saat Hujan Abu dan Asap, Honda Bagi Tips Agar Tetap Nyaman

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.