Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Ikan sapu-sapu yang selama ini dikenal sebagai hama perairan ternyata menyimpan potensi ekonomi yang menjanjikan.
Melalui pelatihan yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Negeri Gorontalo (UNG), masyarakat Desa Limehe Timur, Kecamatan Tabongo, kini dibekali keterampilan mengolah ikan sapu-sapu menjadi tepung ikan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ikan dan ternak.
Kegiatan yang melibatkan sekitar 25 peserta dari kelompok usaha Laskar Kreasi Sapu-sapu (LAKRESA), nelayan, serta masyarakat setempat ini merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM).
Program tersebut dirancang untuk menjawab dua tantangan sekaligus, yakni mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang semakin mendominasi Danau Limboto serta menciptakan peluang usaha baru berbasis sumber daya lokal.
Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya mendapatkan materi teoritis mengenai potensi pemanfaatan ikan sapu-sapu, tetapi juga terlibat langsung dalam proses produksi tepung ikan.
Tahapan yang dipraktikkan meliputi pemilihan dan penanganan bahan baku, perendaman, pembersihan, pengeringan, penggilingan, pengayakan hingga pengemasan produk sesuai standar sanitasi dan keamanan pangan.
Selain keterampilan teknis, peserta juga memperoleh pembekalan mengenai pengelolaan usaha, strategi pemasaran, dan literasi keuangan guna mendukung keberlanjutan usaha yang akan dikembangkan.

Ketua Tim Pengabdian, Sri Rahayu Kalaka, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa selama ini ikan sapu-sapu lebih banyak dipandang sebagai ancaman bagi ekosistem perairan.
Padahal, kata dia, kandungan protein yang dimiliki ikan tersebut cukup tinggi dan berpotensi menjadi bahan baku tepung ikan yang bernilai ekonomis.
“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu tidak harus selalu dianggap sebagai masalah. Dengan pengolahan yang tepat, ikan ini dapat menjadi komoditas yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekaligus membantu mengurangi tekanan spesies invasif di Danau Limboto,” jelasnya.
Pemerintah Desa Limehe Timur menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Menurut pemerintah desa, pelatihan ini tidak hanya menawarkan solusi terhadap persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama bagi generasi muda yang ingin mengembangkan usaha produktif di desa.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Salah seorang peserta mengaku baru mengetahui bahwa ikan sapu-sapu dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual.
Ia berharap program pendampingan dapat terus berlanjut sehingga masyarakat mampu membangun usaha produksi tepung ikan secara mandiri dan berkelanjutan.
Melalui program ini, Tim Pengabdian UNG berharap lahirnya unit-unit usaha berbasis potensi lokal yang mampu memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus mendukung upaya pelestarian ekosistem Danau Limboto.
Pemanfaatan ikan sapu-sapu menjadi produk bernilai tambah diyakini dapat menjadi salah satu solusi inovatif dalam mengatasi persoalan lingkungan dan ekonomi secara bersamaan.
Tim pelaksana juga menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia atas dukungan pendanaan melalui program pemberdayaan kemitraan masyarakat (PKM) tahun anggaran 2026.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong lahirnya inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat serta memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.(rls)












Discussion about this post