logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Patriotisme “Daerah Istimewa” Gorontalo  

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Monday, 25 January 2021
in Persepsi
0
Negeri yang Ke(gemuk)an   

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Tepian Utara Nusantara (Miangas, Manado, Popayato)

Menyoal Paradoks Pembangunan di Gorontalo: Pertumbuhan Tinggi, Kemiskinan Teguh

“Emas Merah” Nusantara: Potensi Bioprospeksi Tanaman Tepurang di Gorontalo

Guru Gosip dan Guru Gagasan

Oleh :
Basri Amin

Nostalgia “23 Januari” tak akan berarti apa-apa tanpa penghayatan, pengetahuan, dan tanggung jawab. Rutinitas tak akan membuat kita (mampu) beranjak jauh ke masa depan. Di tengah putaran waktu yang dililit ketidakpastian, terbukti bahwa sejarah Gorontalo yang benar ternyata dibentuk oleh “manusia sadar”. Secara formal, nasionalisme Gorontalo hadir cukup dini. “Gorontalo istimewa!”. Bahkan, praktik “Bahasa Indonesia” yang politis dan yang humanis amat terasa. Tercatat, organisasi kebangsaan pertama di Gorontalo bernama: “Sinar Budi”. Ia berdiri tak lama setelah Boedi Oetomo hadir di Jawa (1912).

Pada Kongres Jong Islamieten Bond (JIB) tahun 1931 di Jogjakarta, “srikandi Gorontalo” bernama Marie Olii menjadi peserta utama yang aktif. Di masa yang sama, tokoh JIB Gorontalo, Giu Thanib, telah membawakan ceramah berjudul: “Islam dan Cita-Cita Kemerdekaan”, bertempat di bioskop “Murni” Gorontalo. JIB sendiri sudah berdiri di Gorontalo tahun 1930, dengan tokoh-tokohnya: Djafar Arbie, Tjani Lamato, Marie Olii, Hawa Arbie dan S. Kirdiat (Sumber: Pedjuang Nasional, 1957: 4-5).

Setelah itu, tahun 1931, berdiri pula Partij Indonesia yang dipimpin oleh Nani Wartabone dan Surjo Kusumo. Di tahun yang sama, Partai Sjarikat Islam Indonesia (PSII) didirikan oleh: Abdullah Tumu, Ahmad Hippy dan Gaffar Usu. Pada periode 1934-1939, pergerakan kebangsaan itu semakin membesar dan membumi di Gorontalo. Tokohnya cukup banyak dan terorganisir, antara lain yang cukup lama tak disebut-sebut namanya adalah Ibrahim Muhammad.

Delapan tahun kemudian (1939), arus nasionalisme Gorontalo itu makin melembaga. Untuk kali pertama, kekuatan Nasional itu hadir-aktif menggerakkan “kemerdekaan”. Adalah GAPI (Gabungan Politik Indonesia), dengan doktrin “Indonesia Berparlemen” berdiri di Gorontalo (Oktober 1939). Adalah Kusno Danupoyo, nasionalis Jawa yang memilih berjuang di Gorontalo di masa itu, yang bertindak sebagai Ketua (1941). Sebelumnya, GAPI juga dipimpin oleh nasionalis Jawa yang sudah lama menggerakkan pencerdasan dan publikasi-publikasi pendidikan kerakyatan, bernama Rekso Sumitro. Tercatat bahwa majalah pertama kalangan terdidik Gorontalo, Poe-Noewa, terbit pada November 1932, antara lain karena dukungan besar Rekso Soemitro (Amin, 2012).

Kehadiran “orang Jawa” dan peran jaringan (kebangsaan) yang bergejolak di Jawa membawa pengaruh sangat cepat di bumi Gorontalo. Dalam urusan ini, Jawa bukan sebagai nama suku, tetapi sebagai “ruang sejarah”; sebagai “medan cita-cita” bangsa. Itu sebabnya, bahasa Jawa tak pernah menjadi “bahasa nasional”, sama dengan bahasa daerah lainnya. Yang akhirnya disepakati adalah “bahasa dan bangsa Indonesia”. Sebuah invensi politik modern yang sangat hebat: menemukan bahasa bersama! Lebih lanjut, bersama atau dengan bahasa (nasional) itu pula kita mengisi banyak ruang kosong: pengetahuan, khasanah lokal, keragaman, dan perjumpaan lain di antara suku-suku bangsa (di Nusantara) dan bahasa-bahasa lain dari berbagai kawasan: India, Eropa dan Asia lainnya.

Dalam konsolidasi kemerdekaan Gorontalo dikenal “Komite 12”, yaitu: Nani Wartabone, R.M. Kusno Danupoyo, Oe H. Buluati, A.R Ointoe, Usman Monoarfa, Usman Hadju, Usman Tumu, A.G. Usu, M. Sugondo, R.M Danuwatio, Sagaf Alhasni dan Hasan Badjeber. Merekalah yang menyusun strategi “kemerdekaan Gorontalo” (1942) dan di kemudian hari memimpin apa yang disebut “Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo (PPPG). Uniknya, di masa itu, tercatat seorang (berdarah) Tiongkhoa bernama sersan mayor Keng Hong dalam kedudukan sebagai Kepala Penghubung dalam organisasi Pertahanan Nasional (Kepolisian) di Gorontalo pasca merdeka 23 Januari. Pasukan Pengawal Kota dikomandani oleh tokoh Pandu dan terlatih militer, Kapten Ibrahim Muhammad.

Ceritanya sangat panjang. Begitu banyak nama “pahlawan Gorontalo” yang mestinya kita muliakan-setara dan kita denyutkan kembali spirit beliau. Mereka semua adalah pelaku sejarah yang heroic, berasal dari etnik, agama atau ras yang berbeda: Gorontalo, Jawa, Arab, Tiongkhoa, Minahasa, dll. Itulah yang bisa kita baca dalam publikasi resmi Yayasan 23 Januari 1942 Jakarta, “Perjuangan Rakyat di Daerah Gorontalo: Menentang Kolonialisme dan Mempertahankan Negara Proklamasi” (83 halaman), yang terbit tahun 1981. Sebuah karya kolaborasi antara IKIP Negeri Manado Cabang Gorontalo dan Yayasan 23 Januari (Jakarta, ketua: Ary Mochtar Pedju). Hebatnya, buku ini diberi (pengakuan) sepatah kata oleh Wakil Presiden R.I, Adam Malik.

Politik buruk sangka dikalahkan dengan gigih oleh politik jiwa merdeka. Tokoh besar Gorontalo, Nani Wartabone, adalah “organisator” rakyat yang tuntas-cerdas menempatkan kekuatan kebangsaan. Tak heran jika beberapa “aparat kolonial” berhasil dimanfaatkan beliau bersama-sama Kusno Danupoyo. Orang-orang seperti Pendang Kalengkongan, Ardani Ali, Achmad Tangahu, A. Paomei, dll menjadi kekuatan perlawanan yang signifikan: membocorkan rencana kolonial, merebut kantor pos, merebut senjata dan perlengkapan, memaksa dan menangkap petinggi Belanda di Gorontalo, menguasai titik-titik pelarian, pelabuhan, dst.

Kini, Kemerdekaan tahun 1942” itu hendak dimaknai seperti apa? Musuh kita adalah kelambanan kita. Kita bebal berubah. Kita suburkan tradisi basa-basi, status quo, dan mental “merampok” sumberdaya bangsa. Generasi (nyaris) lumpuh karena globalisme dan gaya hidup, serta rapuhnya keteladanan. Kita tak lagi (semata) berhadapan dengan bangsa luar (kolonial), tetapi berhadapan dengan “sesama bangsa sendiri”.

Kita masih terbiasa dengan tema pribumi dan non-pribumi, mayoritas dan minoritas, putra daerah dan pendatang, dst. Kini, nalar dikotomis, mental kelompok, dan pragmatisme jangka pendek adalah penyakit kanker kebangsaan kita. Yang mulia Nani Wartabone akhirnya mengajarkan kita tentang martabat dan ketokohan. Beliau meninggalkan semua pangkat, jabatan, dan kehormatannya. Sambil mengukuhkan sektor pendidikan di Gorontalo, hingga akhir hayatnya, Nani Wartabone (terbukti!) memilih kehormatan yang lain: menjadi Petani!. Beliau tak mau menjadi “tokoh terus-menerus” dan melupakan generasi penerus bangsanya. ***

Tags: 23 januaribasri amindaerah istimewa gorontalogorontalo istimewapatriotisme

Related Posts

Basri Amin

Tepian Utara Nusantara (Miangas, Manado, Popayato)

Monday, 11 May 2026
Ridwan Monoarfa

Menyoal Paradoks Pembangunan di Gorontalo: Pertumbuhan Tinggi, Kemiskinan Teguh

Monday, 11 May 2026
“Emas Merah” Nusantara: Potensi Bioprospeksi Tanaman Tepurang di Gorontalo

“Emas Merah” Nusantara: Potensi Bioprospeksi Tanaman Tepurang di Gorontalo

Tuesday, 5 May 2026
Basri Amin

Guru Gosip dan Guru Gagasan

Monday, 4 May 2026
Ridwan Monoarfa

Selamat Hari Buruh 1 Mei: Blok Politik Buruh, atau Partai Buruh?

Friday, 1 May 2026
Muh. Amier Arham

Pertambangan Rakyat; Penambang Tenang, Pemda Senang

Friday, 1 May 2026
Next Post
430 Koperasi Gorontalo Mati Suri, Dinas Kumperindag Segera Turunkan Tim

430 Koperasi Gorontalo Mati Suri, Dinas Kumperindag Segera Turunkan Tim

Discussion about this post

Rekomendasi

Basri Amin

Tepian Utara Nusantara (Miangas, Manado, Popayato)

Monday, 11 May 2026
Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

Saturday, 9 May 2026
Ridwan Monoarfa

Menyoal Paradoks Pembangunan di Gorontalo: Pertumbuhan Tinggi, Kemiskinan Teguh

Monday, 11 May 2026
“Langgu” Mengguncang Panggung Bulan Sastra UNG, Angkat Mistisisme dan Kearifan Lokal

“Langgu” Mengguncang Panggung Bulan Sastra UNG, Angkat Mistisisme dan Kearifan Lokal

Sunday, 3 May 2026

Pos Populer

  • Pikap Hantam Pohon Satu Penumpang Tewas, Telur ‘Taambor’

    Pikap Hantam Pohon Satu Penumpang Tewas, Telur ‘Taambor’

    87 shares
    Share 35 Tweet 22
  • Pesta Miras Saat Jam Sekolah, Sebelas Pelajar Diamankan

    71 shares
    Share 28 Tweet 18
  • Korupsi TKI DPRD Kabgor, Kejati Didesak Seret Semua Oknum Terlibat

    71 shares
    Share 28 Tweet 18
  • HA Susul STA ke Lapas, Eks Aleg Masuk Bui Bertambah

    83 shares
    Share 33 Tweet 21
  • Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

    54 shares
    Share 22 Tweet 14
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.