logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Dapat Apa

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 25 May 2026
in Disway
0
Dapat Apa
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

oleh:
Dahlan Iskan

Menarik mana membahas soal Prabowo yang akan melaksanakan Pasal 33 UUD 1945 atau rujak Ambon?

Bagi pembaca Disway seperti Mbak Yani rujak Ambon lebih punya kenangan tersendiri. Maka cukuplah dua kali menulis soal arah baru ekonomi di bawah Presiden Prabowo (Disway 21dan 22 Mei 2026).

Padahal sebenarnya saya masih ingin terus menulis soal yang amat penting bagi Indonesia itu. Setidaknya tentang bagaimana Presiden Prabowo berusaha menghibur sektor swasta Indonesia setelah pidato dar-der-dor yang dianggap kurang menyenangkan pihak swasta.

Related Post

Kanan Dalam

Neo Pop

Lewat Pasrah

Agus Deyang

Di podium DPR itu Presiden Prabowo memuji dua perusahaan besar Indonesia. Maksudnya: ada juga perusahaan yang bisa menjadi sangat besar tanpa menguras sumber daya alam Indonesia. Dua perusahaan itu telah membawa nama harum Indonesia di luar negeri.

Pujian pertama untuk Mayora dengan produk Kopiko-nya. Kopiko dikenal di puluhan negara. Sampai muncul di drama Korea. Lalu Kopiko sempat dianggap produk Korea.

Presiden lantas memuji Mayora. “Saya tahu itu karena presidennya suka minum kopi,” ujar Presiden Prabowo di mimbar DPR 20 Mei lalu.

Rupanya Presiden Prabowo perlu mengangkat nama Kopiko agar imbang dengan Kapal Api. Sewaktu berpidato di Jepang Presiden memuji kopi Kapal Api tanpa menyebut Kopiko. Skor Kapal Api dan Kopiko kini 1-1.

Produk lain yang juga dipuji di pidato bersejarah di DPR itu adalah Indomie. Indomie begitu dikenal di dunia, termasuk di Eropa. “Sampai orang Eropa mengira Indomie itu produk Eropa,” ujar presiden.

Di awal pidato Presiden Prabowo sangat dar-der-dor pada perusahaan swasta, utamanya perusahaan sawit dan batu bara. Di akhir pidato suasana jadi penuh gerrr oleh penyebutan Kopiko dan Indomie itu.

Bagi pembaca seperti Mbak Yani, tetap bahasan rujak Ambon lebih menarik. Dia sampai menulis dua komentar. Dikirim ke saya. Saya selalu membaca tulisan mbak Yani, sejak tulisannyi masih ”sulit dipahami”, sampai tulisannyi bagus seperti sekarang.
Untuk melihat kemajuan Mbak Yani dalam menulis saya sertakan dua tulisan di bawah ini:

Rujak Ambon

Tulisan di Disway dengan judul Rujak Ambon tentu menarik bagi pembaca wanita. Hampir semua wanita menyukai rujak, maka ulasan mengenai rujak Ambon merupakan bagian yang paling ditunggu-tunggu. Bumbu rujaknya yang tanpa terasi, manis gula aren asal Sulawesi, rasa asam sepat yang berasal dari parutan buah pala, taburan kacang tanah goreng yang melimpah, lengkap sudah.

Sayangnya tidak diakhiri dengan kesimpulan: enak. Padahal sambil kemecer pembaca sudah membayangkan enaknya makan rujak Ambon di tempat asalnya – Ambon. Maklumi saja lah, penulis rujak Ambon itu bukan ahlinya rujak, apalagi tidak disebutkan berapa butir cabai sebagai unsur terpenting dari bumbu rujak: asam-manis-pedas.

Saya pun teringat kepada seorang Oma Ambon bernama Margaretha Latulette. Biasa disapa dengan sebutan Oma Itha. Beliau berasal dari Pulau Buano meskipun sekarang menetap di kota Ambon. Mengenal beliau ketika kami sama-sama mengantar cucu sekolah. Sambil menunggu jam belajar selesai, kami mengobrol tentang banyak hal, utamanya tentang makanan khas, tradisi, dan budaya Maluku.

Dari Oma Itha, saya menjadi tahu, adanya kisah persaudaraan 3 negeri (kampung) 1 gandong di Maluku “Buano Oma Ullath”. Negeri Buano di pulau Buano, negeri Oma di Pulau Haruku, dan negeri Ullath di pulau Saparua. Pela dan gandong, prinsip hidup yang terus ditanamkan di tanah Maluku, dan ungkapan sagu salempeng patah dua, yang bermakna persaudaraan yang erat, prinsip untuk saling berbagi, senasib sepenanggungan, juga saya ketahui dari Oma Itha.

Oma yang baik hati ini, ditinggal sang suami di usia 35 tahun. Berpulang dan tidak ditemukan jasadnya. Saat itu bertepatan dengan kerusuhan besar yang sedang terjadi di Maluku. Oma Itha tetap sendiri, membesarkan kedua anaknyi hingga kini telah menjadi Oma bagi keempat cucunyi. Entah mengapa, di perjumpaan pertama, kami bisa langsung akrab. Mungkin karena kami seumuran, juga sesama pensiunan. Bedanya beliau mantan PNS, tiap bulan masih terima transfer-an, he he.

Kunjungannyi ke Depok, karena diminta oleh putranyi agar bisa merayakan Natal bersama sang Mama. Maka di tahun baru yang lalu, Oma Itha sudah pulang ke Ambon. Tinggal kembali bersama Ibundanyi yang sudah berusia 88 tahun dan adik laki-lakinyi yang memerlukan pendampingan dari Oma Itha akibat sakit serius yang dideritanya.

Setelah kepulangan Oma Itha ke Ambon, saya tidak merasa sepi, masih ada Oma-Oma lainnya yang saya sebut dengan julukan Oma super, Oma hebat, Oma keren. Mendengarkan cerita mereka, membuat waktu menunggu tidak terasa jenuh.

Meskipun sudah terpisah jarak dengan Oma Itha, kami tetap berteman. Via Facebook, beliau selalu membagikan aktivitasnyi sehari-hari, mendampingi sang Mama sekaligus merawat sang adik.

Tidak sampai hati rasanya jika harus melanjutkan komunikasi dengan membahas topik makanan dan kesenangan memasak. Cukuplah dengan menekan tombol atau atau sebaris kalimat dukungan untuk setiap aktivitas yang dibagikannyi di FB-nyi.

Tentang buah pala dan kenari, saya juga punya kenangan. Semasa kecil di desa dulu, saya dan teman-teman biasanya mencari buah kenari yang jatuh. Pohon tinggi besar yang tumbuh di tepi sungai itu membuat buah yang berjatuhan lebih banyak ke sungai. Seru saat berusaha memecah biji kenari. Rasa sakit di jari akibat tertumbuk batu ketika berusaha memecahkan bagian kulit yang keras, pulih seketika saat biji kenari yang gurih renyah itu berhasil dikeluarkan dari “cangkangnya”. Wajar saja harga kacang kenari jauh lebih mahal dibandingkan dengan kacang mede jika dipakai sebagai topping kue brownies.

Buah pala juga unik. Beda asal, beda pula cara memanfaatkannya. Ketika dulu saya di Manado, daging buah pala biasa dijadikan manisan. Teksturnya renyah karena cara pembuatannya direndam di air gula selama berhari-hari. Ada juga yang ditambahkan cabai untuk jenis manisan pala rasa pedas. Biji pala dijual terpisah, pun kulit tipis yang melapisi biji pala itu juga dimanfaatkan, dikeringkan dan dijual tersendiri, namanya fuly. Ini banyak dibeli orang sebagai oleh-oleh khas Manado.

Sedangkan buah pala yang biasa ditemukan di Bogor, berbentuk manisan kering, diberi warna hijau dan bertabur gula putih. Es buah pala yang segar, disandingkan dengan semangkuk soto kuning yang khas itu, merupakan paduan kuliner yang hanya bisa ditemukan di Suryakencana di kota Bogor. Yummy.

Des Alwi

Nama Des Alwi disebut dalam tulisan Disway hari ini, membuat saya perlu mengenang kembali jasa mendiang. Bukan jasa yang diberikan kepada saya tetapi kepada pimpinan saya ketika saya masih bekerja di Jawa Pos dulu –Bapak Dahlan Iskan. Tidak banyak orang yang tahu, bahkan mungkin tidak percaya, namun kenyataan itulah yang saya alami.

Suatu ketika di tahun 2005, saya mendapat tugas yang cukup “mendebarkan”, mengurus visa Inggris atas nama Bapak Dahlan Iskan.

Mendebarkan karena instruksi tersebut saya terima kurang dari 3 hari kerja, waktu minimal yang dibutuhkan untuk pengurusan visa pada umumnya. Maka seseorang dari Travel agen yang sudah berpengalaman mengurus visa, saya minta untuk mendampingi saya. Hari itu, Kamis, saya sudah berada di sebuah Biro di Plaza Abda Jl. Jend. Sudirman, Jakarta untuk menyerahkan form permohonan visa yang sudah ditandatangani oleh Bapak Dahlan Iskan.

Ternyata, nama yang bersangkutan, yang tertulis sebagai pemohon visa yang harus menghadap, tidak bisa diwakilkan. Saya segera menelepon ke atasan saya di Surabaya, Ibu Nany Widjaja. Beliau mengatakan: “Bapak sedang di Jakarta, hubungi saja”. Dengan sedikit rasa takut namun saya beranikan diri menghubungi nomor beliau dan mendapat jawaban: “saya sedang di Ancol, cukup tidak waktunya jika saya ke sana sekarang?” “Cukup,” jawab saya meyakinkan. Setibanya di tempat, bertepatan dengan pemberitahuan dari petugas yang mengatakan,” pelayanan ditutup sementara, waktunya istirahat”.

Saya berusaha memohon dengan alasan bahwa saya sudah sejak pagi di sini, tetap tidak bisa. Puji Tuhan, beliau tidak marah, kebetulan ada bagian dari form aplikasi yang belum diisi dan harus dilengkapi. Beliau berkata “kita cari meja”, maka meja resto Rice Bowl yang ada di gedung tersebut yang kami manfaatkan. Tentu bukan sekadar untuk menulis tapi beliau juga memesan salah satu pilihan menu yang tersedia di meja, mie ayam dan orange juice. Beliau juga bertanya menu apa yang saya pilih, saya menjawab, “sama”.

Tidak mungkin saya memilih menu yang berbeda apalagi menu yang lebih mahal dari pesanan seorang yang mengajak makan, tidak sopan rasanya. Lebih tidak sopan, ternyata saya tidak mampu menghabiskan porsi mie ayam dan orange juice saya. Beliau bertanya, “mengapa tidak dihabiskan?” Tentu saja saya merasa canggung, gugup, tidak pernah terpikirkan harus makan satu meja dengan seorang pimpinan. Tapi bukan itu jawaban saya, melainkan, “masih kenyang”. Saat hendak menulis di form aplikasi yang belum lengkap tadi, terlihat beliau menelepon putrinya –Mbak Isna lalu menelepon juga menantunya –Mbak Ivo untuk menanyakan suatu istilah “pengundang” dalam bahasa Inggris. Ketika tiba waktunya membayar, saya sengaja menjauh dari meja kasir sambil bersiaga jika mungkin dibutuhkan, sebab biasanya beliau tidak membawa uang. Ternyata membawa, he he.

Setelah waktu pelayanan dibuka kembali, kami mendapat urutan pertama yang dipanggil, beliau maju ke depan, beberapa saat kemudian beliau menoleh ke arah saya sambil bertanya, “bawa uang?” Tentu dari kantor sudah saya siapkan biaya yang diperlukan untuk pengurusan visa. Tiga hari kerja ke depan adalah hari Senin. Sedangkan hari Minggu, seharusnya beliau berangkat ke Inggris agar bisa mengikuti acara di hari Senin yang rencananya dihadiri juga oleh menteri keuangan kala itu.

Saya terus memantau alur proses pengajuan visa tersebut melalui aplikasi online yang tersedia. Plong rasanya ketika hari berikutnya, Jumat, pada layar tertera bahwa paspor sudah berada di Kedutaan Inggris. Siang harinya saya dikabari bahwa Bapak Dahlan Iskan membatalkan rencana keberangkatannya ke Inggris karena harus segera ke Singapura. Kondisi kesehatan beliau yang mengharuskannya ke Singapura sesegera mungkin.

Upaya pun dilakukan untuk mengeluarkan paspor yang sedang diproses di Kedutaan Inggris. Pertama, saya menghubungi Ibu Nany Widjaja, berusaha mendapatkan bantuan. Beliau memberikan nomor HP mendiang Bapak Djoko Susilo –mantan duta besar Swiss, yang pernah menjadi wartawan, juga koresponden Jawa Pos di Amerika dan di Inggris.

Saya pun mengikuti saran Ibu Nany, menghubungi Bapak Djoko Susilo yang kemudian mendiang menyarankan agar saya menghubungi Bapak Des Alwi disertai nomor HP yang bisa saya dihubungi. Tidak menunggu lama, saya segera menelepon mendiang Bapak Des Alwi. Mungkin karena beliau sudah lebih dulu dihubungi oleh Bapak Djoko Susilo, maka ketika saya menelepon, sebelum saya selesai bicara, beliau langsung berkata: “bilang saja Pak dirjen sudah setuju”. Suaranya berat penuh kharisma. “Clue” sudah didapat, tinggal berpacu dengan waktu.

Hari itu Jumat, jam operasional terbatas. Rekan kerja saya, Pak Ghofir, dengan RX King-nya seakan lupa bahwa ada yang memboceng di belakangnya. Palang perlintasan kereta api yang hampir menutup pun diterjangnya, whooosh.. Di belakang kami KRL jurusan Tanah Abang- Maja melesat dengan cepatnya. Puji Tuhan.

Sesampai di tujuan, sesuai prosedur, saya serahkan selembar kertas yang tertera tanggal pengambilan di hari Senin, sambil mengucapkan, “Pak Dirjen sudah setuju”. Kami diminta menunggu, tidak lama kemudian petugas menyerahkan paspor, lengkap dengan visa Inggris yang ternyata sudah disetujui. Ajaib. Seketika, dalam hati saya berucap, terima kasih kepada Bapak Des Alwi, sang pemberi “kalimat sakti” tersebut.
***

Dar Der Dor

Saya sendiri menunggu munculnya tulisan ahli yang mampu mengulas apakah Pasal 33 UUD 1945 masih bisa diterapkan di ekosistem yang serba kapitalis dan liberal seperti sekarang ini.

Saya percaya pasal 33 UUD 1945 itu bisa sukses dilaksanakan manakala ekosistemnya masih sama dengan saat pasal itu dirumuskan: yakni ekosistem di mana semua orang rela berkorban untuk negara. Tanpa pamrih. Padahal ekosistem yang ada sekarang serba seperti ini: “saya dapat apa”. (*)

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDapat ApaDISDiswayharian disway

Related Posts

Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
--

Agus Deyang

Thursday, 4 June 2026
Bambang, tengah, usai makan malam.--

Jago Cimory

Thursday, 4 June 2026
Jago Comory

Jago Comory

Wednesday, 3 June 2026
Next Post
Hasjrat Toyota Perkuat Ekosistem Fitur dan Layanan Lengkap

Hasjrat Toyota Perkuat Ekosistem Fitur dan Layanan Lengkap

Discussion about this post

Rekomendasi

Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

Tuesday, 9 June 2026
Suasana perayaan HUT ke-68 Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea pada Ahad (7/6/2026) malam, di rumah pribadinya. (Foto: Prokopim)

Perayaan HUT ke-68 Adhan, Tak Pake APBD, Dirayakan Bareng Anak Yatim

Tuesday, 9 June 2026
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea dan Wawali Indra Gobel tengah menikmati jajanan di Street Food Jilid II. (Foto: Prokopim)

Street Food Jilid II Diserbu Pengunjung, Omzet UMKM Capai Rp222 Juta dalam Semalam

Tuesday, 9 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026

Pos Populer

  • Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

    Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.