Oleh:
Dahlan Iskan
TIDAK hanya ”perusuh” Disway yang menyangka ia bukanlah seorang Tionghoa. Pun saya. Bahkan orang di Shanghai sana. Apalagi kalau ia bercerita soal sekolahnya: SMA Taruna Nusantara. Atau kuliah lanjutannya: Institut Teknologi Bandung. Pun kesehariannya dulu: aktivis mahasiswa.
Renard Widarto sendiri sudah tidak merasa suku apa pun kecuali suku Indonesia. Ia tidak bisa bahasa Mandarin. Matanya tidak sipit. Bahasa Jawanya kental. Kulitnya sudah dekat ke cokelat.
Ciri-ciri orang Tionghoa yang saya kenal kebanyakan tidak seperti Renard. Sejak muda ciri Renard sudah seperti itu. Jadi, sejak mengenalnya sebagai mahasiswa ITB sampai Renard sudah menjadi doktor, anggapan saya ia itu orang Jawa Semarang.
Apalagi lahir, SD, dan SMP di Semarang. Setelah lulus ITB (teknik sipil) pun pulangnya ke Semarang: melanjutkan S-2 dan S-3 (ekonomi) di Universitas Diponegoro.
Lalu perusahaan kontraktornya juga dimulai dari Semarang meski sekarang sudah merambah Jakarta.
Hanya hokinya yang sangat Tionghoa. Ia merasa perjalanan hidupnya penuh dengan keberuntungan. Pun ketika mendapatkan tiket lungsuran seharga USD6.000 (dua lembar berarti USD12.000) untuk nonton Piala Dunia bersama istrinya. Itu, menurut saya, bukan lagi keberuntungan biasa, tapi keberuntungan di atas hoki.
“Keberuntungan di atas hoki” adalah 双喜. Kebahagiaan ganda.
Hoki pertama: secara kebetulan Renard menemukan dari daerah mana leluhurnya.
Hoki kedua: yang mempertemukan keluarga leluhur itu punya dua tiket kelas istimewa –tapi tidak jadi berangkat ke Amerika.
Saking bahagianya orang itu menemukan keluarga yang terpisah nun di Indonesia tiket itu pun diberikan kepadanya.
“Ternyata asal usul nenek moyang saya dari satu desa kecil di Yantai,” ujar Renard ketika bertemu saya di Times Square, jantung kota New York. Hari itu ia baru tiba dari Dallas nonton pertandingan Piala Dunia di kota terbesar Texas itu.
Di Texas, Renard punya keberuntungan yang lain lagi: tim yang bertanding adalah Argentina.














Discussion about this post