logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Lonjakan Harga BBM Sebagai Dampak Perang Timur Tengah

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 19 May 2026
in Persepsi
0
Lonjakan Harga BBM Sebagai Dampak Perang Timur Tengah

ILUSTRASI Lonjakan Harga BBM Sebagai Dampak Perang Timur Tengah . (foto: diolah AI)

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Oleh:
Dr.  Arifin Suking, S.Pd., M.Pd,
Erin Daud,
Hapsa Z Yusup,
Fatmah Djua,
Amelia Djafar,
Amelia Lasman

Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan salah satu komoditas strategis yang berperan penting dalam menggerakkan berbagai sektor ekonomi, baik dalam lingkup nasional maupun internasional. (Nizar, 2012) menjelaskan bahwa minyak bumi memiliki fungsi utama sebagai sumber energi dalam kegiatan industri, terutama untuk pembangkit listrik, pengoperasian mesin produksi, serta distribusi hasil produksi menuju pasar. Hal tersebut menunjukkan bahwa perubahan harga minyak dunia tidak hanya memengaruhi sektor transportasi, tetapi juga berdampak luas terhadap keseluruhan proses produksi barang dan jasa.

Indonesia termasuk negara yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap perubahan harga minyak dunia. Menurut (Karso, 2025), ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak dan bahan baku menyebabkan perekonomian nasional sangat mudah terdampak oleh fluktuasi harga komoditas global, terutama ketika harga minyak dunia diperkirakan melampaui US$100 per barel. Kondisi tersebut menjadi semakin serius karena sejak tahun 2003 Indonesia telah berstatus sebagai negara net importer minyak.

Esai ini bertujuan untuk menjelaskan sekaligus membuktikan bahwa kenaikan harga BBM yang terjadi pada periode 2025–2026 merupakan akibat langsung dari meningkatnya konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Seluruh argumentasi dalam tulisan ini dibangun berdasarkan data empiris dan sumber akademik yang telah terverifikasi.

Kawasan Timur Tengah memiliki posisi yang sangat penting dalam sistem energi dunia. Data yang dikutip oleh (Harga Minyak Melonjak Tajam Akibat Konflik Timur Tengah, Dampak Besar Bagi Ekspor Indonesia – Sekolapedia, 2026) menunjukkan bahwa wilayah tersebut, meskipun hanya mencakup sekitar 3,4 persen permukaan bumi, menyimpan sekitar 48 persen cadangan minyak dunia dan 38 persen cadangan gas alam global. Besarnya cadangan tersebut menjadikan negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, Kuwait, dan Uni Emirat Arab sebagai penyumbang utama produksi minyak dunia.

Pengaruh besar kawasan tersebut semakin diperkuat dengan keberadaan Organization of the Petroleum Exporting Countries. Berdasarkan informasi dari (Mengenal the Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), penggali ladang minyak dunia, 2016)  negara-negara anggota OPEC menguasai sekitar 75 persen cadangan minyak mentah dunia dan menyumbang sekitar 40 persen produksi minyak global. Dengan dominasi tersebut, keputusan yang diambil dalam forum OPEC mampu memengaruhi harga minyak internasional, termasuk harga BBM yang dibayarkan masyarakat Indonesia di SPBU.

Selain memiliki pengaruh besar terhadap produksi minyak, Timur Tengah juga mengendalikan jalur distribusi energi paling strategis di dunia, yaitu Selat Hormuz. Berdasarkan data (kurniawan, 2026)  sekitar 20,9 juta barel minyak per hari melewati jalur tersebut pada tahun 2023. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 20 persen konsumsi petroleum liquids dunia, sementara hampir seperlima perdagangan LNG global juga bergantung pada selat ini. Oleh karena itu, Selat Hormuz bukan hanya wilayah geografis biasa, tetapi menjadi titik paling penting dalam rantai distribusi energi global.

Hubungan antara konflik geopolitik di Timur Tengah dengan kenaikan harga minyak dunia sebenarnya bukanlah fenomena baru. Nizar (2012) mencatat bahwa konflik di Timur Tengah dan Iran pada tahun 1973 serta 1978 pernah memicu krisis harga minyak dunia. Selain itu, ketegangan berkepanjangan seperti konflik antara Amerika Serikat dan Iran juga terus memberikan tekanan terhadap kenaikan harga minyak dalam jangka panjang. Pola historis tersebut terus berulang hingga era modern dengan dampak yang semakin besar.

Pada periode 2025–2026, eskalasi konflik mencapai titik yang sangat serius ketika Iran menutup Selat Hormuz sebagai bentuk respons terhadap serangan militer Amerika Serikat dan Israel. (Konstelasi Minyak dalam Konflik Timur Tengah – Kompaspedia, 2026) melaporkan bahwa blokade tersebut menghambat rantai pasokan energi global, menyebabkan sekitar 320 kapal energi tertahan dan distribusi minyak dunia terganggu. Dampaknya, harga minyak dunia melonjak tajam dari sekitar 70 dolar AS menjadi 113,32 dolar AS per barel, bahkan sempat mencapai 119,50 dolar AS. Kenaikan lebih dari 70 persen dalam waktu singkat tersebut menjadi salah satu lonjakan terbesar sejak krisis energi tahun 1970-an.

Dampak ekonominya juga sangat besar. (Setiawan, 2026) mencatat bahwa pembatasan akses di Selat Hormuz menyebabkan harga minyak dunia menembus angka 100 dolar AS per barel dan bahkan mencapai sekitar 126 dolar AS pada puncaknya. Gangguan distribusi tersebut disebut sebagai salah satu disrupsi pasokan energi terbesar sejak krisis minyak global dekade 1970-an. Fakta ini menunjukkan bahwa stabilitas geopolitik di Timur Tengah memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pergerakan harga minyak dunia.

Indonesia tidak dapat menghindari dampak dari krisis energi global tersebut. (Ibrahim, t.t.) menjelaskan bahwa meskipun Indonesia tidak secara langsung mengimpor minyak dari kawasan konflik, dampak tidak langsung tetap sangat terasa. Sekitar 75 persen impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia yang berfungsi sebagai pusat perdagangan dan pengolahan minyak regional. Namun, kedua negara tersebut masih bergantung pada pasokan minyak mentah dari Timur Tengah sehingga gangguan pasokan di kawasan tersebut tetap berdampak pada harga energi di Indonesia.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM juga mengakui adanya hubungan langsung antara kenaikan harga minyak dunia dengan penyesuaian harga BBM dalam negeri. (Agency, 2026) mengutip pernyataan juru bicara ESDM yang menyebutkan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan berdasarkan perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa perubahan harga BBM di Indonesia merupakan respons terhadap kondisi pasar energi global.

Kenaikan harga minyak dunia juga memberikan tekanan besar terhadap APBN Indonesia. (Arsinio, 2026) menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan subsidi energi hingga mencapai Rp210 triliun. Jika harga minyak dunia bertahan di kisaran US$100 per barel, defisit APBN 2026 diperkirakan dapat melampaui 3,3 persen PDB. Selain itu, Karso (2025) menambahkan bahwa kenaikan harga BBM akan memicu inflasi, menurunkan konsumsi rumah tangga, mendorong kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional. Dampak tersebut tentu akan semakin membebani masyarakat, khususnya kelompok ekonomi rentan.

Berdasarkan berbagai argumen dan bukti yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa kenaikan harga BBM di Indonesia merupakan dampak nyata dari konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Terdapat tiga faktor utama yang saling berkaitan, yaitu dominasi Timur Tengah terhadap cadangan minyak dunia dan pengaruh OPEC dalam mengendalikan pasokan global, penutupan Selat Hormuz akibat konflik Amerika Serikat–Israel–Iran yang menghambat sekitar 20 persen distribusi minyak dunia, serta ketergantungan Indonesia terhadap rantai pasokan regional yang tetap bergantung pada minyak dari Timur Tengah.

Secara akademis, Nizar (2012) juga membuktikan bahwa fluktuasi harga minyak dunia dapat meningkatkan inflasi domestik, memperbesar jumlah uang beredar, melemahkan nilai tukar rupiah, dan mendorong kenaikan suku bunga dalam negeri. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kerentanan Indonesia terhadap gejolak harga minyak bersifat struktural sehingga diperlukan solusi jangka panjang, seperti diversifikasi energi, pengurangan ketergantungan terhadap impor minyak, dan percepatan transisi menuju energi terbarukan. Selama dunia, termasuk Indonesia, masih bergantung pada minyak dari Timur Tengah, maka setiap konflik yang terjadi di sekitar Selat Hormuz akan terus berdampak pada harga BBM dan stabilitas ekonomi nasional. (*)

Referensi:

Agency, A. N. (2026, April 20). ESDM: Harga BBM naik seiring lonjakan minyak dunia di Timur Tengah – ANTARA News Kalimantan Barat. Antara News. https://kalbar.antaranews.com/berita/698332/esdm-harga-bbm-naik-seiring-lonjakan-minyak-dunia-di-timur-tengah

Arsinio, D. (2026, Maret 25). Krisis Selat Hormuz: Guncangan Harga Minyak Dunia dan Dampaknya bagi Indonesia serta Pasar Globalhttps:       //pluang. com/akademi/ berita-analisis/dampak-penutupan-selat-h ormuz-terhadap sektor- investasi

Harga Minyak Melonjak Tajam Akibat Konflik Timur Tengah, Dampak Besar bagi Ekspor Indonesia – Sekolapedia. (2026, Mei 25). https:// daftarsekolah. spmb.teknokrat.ac.id/2026/03/harga-minyak-melonjak-tajam-akibat-konflik-timur-tengah-dampak-besar-bagi-ekspor-indonesia/

Ibrahim, M. (t.t.). Konflik Timur Tengah dan Risiko Harga Minyak Global, Ini Dampaknya bagi Ekonomi Indonesia. Diambil 11 Mei 2026, dari https: //infobanknews.com/konflik-timur-tengah-dan-risiko-harga-minyak-global-ini-dampaknya-bagi-ekonomi-indonesia

Karso, A. J. (2025). Perang Israel-Iran, Antisipasi Dampak Terhadap Perekonomian Indonesia. Jurnal Ilmiah Multidisipin, 3(7), 520–528.https:/ doi org/10 60 126/jim.v3i7.1151

Konstelasi Minyak dalam Konflik Timur Tengah – Kompaspedia. (2026, Maret 30). https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/konstelasi-minyak-dalam-konflik-timur-tengah

kurniawan,  robby. (2026, Maret 12). Selat Hormuz: Jalur Minyak Dunia yang Bisa Guncang Ekonomi. Belajar Jual Bitcoin Beli Bitcoin | Indodax Academy. https://_/academy/selat-hormuz-jalur-minyak-dunia/

Mengenal the Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), penggali ladang minyak dunia. (2016, April 28). https://www.ajarekonomi.com/2016/04/opec-menggali-ladang-minyak-dunia.html

Nizar, M. A. (2012). DAMPAK FLUKTUASI HARGA MINYAK DUNIA TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA.

Setiawan, S. R. D. (2026, April 17). Harga Minyak Dunia Anjlok 10 Persen Usai Selat Hormuz Dibuka. https://money.kompas.com/read/2026/04/17/230305326/harga-minyak-dunia-anjlok-10-persen-usai-selat-hormuz-dibuka

Penulis adalah Dosen Pengampuh Matakuliah dan Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Gorontalo

Tags: Amelia DjafarAmelia LasmanDr.  Arifin SukingErin DaudFatmah DjuaFIPHapsa Z Yusupharga BBMJurusan Manajemen PendidikanM.PdPerang Timur TengahS.Pd.Selat HormuzUNG

Related Posts

Iwan Lakoro

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Tuesday, 9 June 2026
Husin Ali

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Monday, 8 June 2026
Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Muh. Amier Arham

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Thursday, 4 June 2026
Yusran Lapananda

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Tuesday, 26 May 2026
Basri Amin

Sehat yang Sesat

Monday, 25 May 2026
Next Post
Geopolitik Sebagai Hidden Curriculum

Geopolitik Sebagai Hidden Curriculum

Discussion about this post

Rekomendasi

Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

Tuesday, 9 June 2026
Suasana perayaan HUT ke-68 Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea pada Ahad (7/6/2026) malam, di rumah pribadinya. (Foto: Prokopim)

Perayaan HUT ke-68 Adhan, Tak Pake APBD, Dirayakan Bareng Anak Yatim

Tuesday, 9 June 2026
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea dan Wawali Indra Gobel tengah menikmati jajanan di Street Food Jilid II. (Foto: Prokopim)

Street Food Jilid II Diserbu Pengunjung, Omzet UMKM Capai Rp222 Juta dalam Semalam

Tuesday, 9 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026

Pos Populer

  • Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

    Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.