logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Pengaruh Krisis Ekonomi Global Terhadap Pembiayaan dan Akses Pendidikan Tinggi  

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 19 May 2026
in Persepsi
0
Pengaruh Krisis Ekonomi Global Terhadap Pembiayaan dan  Akses Pendidikan Tinggi   

ilustrasi (dioleh IA)

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dr. Arifin Suking, S.Pd, M.Pd.,
Irma Atusi,
Intan Syafitri H. Ismail,
Nurul Fadila Putri,
Wirda Yanti

 

Krisis ekonomi global merupakan fenomena yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan, termasuk pendidikan tinggi. Kondisi ini biasanya ditandai dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi, meningkatnya angka pengangguran, serta melemahnya daya beli masyarakat. Dampak tersebut secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi kemampuan pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat dalam membiayai pendidikan. Akibatnya, keberlangsungan pendidikan tinggi menjadi terancam, baik dari sisi pembiayaan maupun aksesibilitasnya.

Pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas. Namun, biaya yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi tidaklah sedikit. Ketika krisis ekonomi terjadi, banyak pihak mengalami keterbatasan finansial sehingga prioritas pengeluaran bergeser dari investasi jangka panjang, seperti pendidikan, ke kebutuhan dasar yang lebih mendesak. Hal ini berdampak pada menurunnya angka partisipasi pendidikan tinggi, khususnya di kalangan masyarakat berpenghasilan rendah. Selain itu, meningkatnya biaya pendidikan yang tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan masyarakat turut memperbesar kesenjangan akses pendidikan.

Related Post

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Dari sisi pemerintah, krisis ekonomi menyebabkan penurunan penerimaan negara yang berdampak pada berkurangnya alokasi anggaran pendidikan. Padahal, pendidikan tinggi membutuhkan investasi berkelanjutan untuk pengembangan sarana dan prasarana, peningkatan kualitas dosen, serta penelitian dan inovasi. Keterbatasan anggaran ini membuat berbagai program pengembangan perguruan tinggi terpaksa ditunda atau bahkan dibatalkan.

Sementara itu, perguruan tinggi juga menghadapi tekanan finansial yang cukup besar. Untuk menutupi kekurangan dana operasional, banyak institusi yang akhirnya menaikkan biaya kuliah. Meskipun langkah ini dapat membantu menjaga keberlangsungan operasional kampus, kebijakan tersebut berpotensi membebani mahasiswa dan keluarga mereka. Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa yang mengalami kesulitan membayar biaya pendidikan, menunda studi, atau bahkan terpaksa menghentikan pendidikan mereka.

Di tingkat masyarakat, krisis ekonomi berdampak langsung pada kondisi finansial keluarga. Penurunan pendapatan dan meningkatnya biaya hidup membuat pendidikan tinggi tidak lagi menjadi prioritas utama. Banyak keluarga lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan pokok dibandingkan membiayai pendidikan anak di perguruan tinggi. Kondisi ini terutama dirasakan oleh kelompok ekonomi menengah ke bawah, sehingga kesenjangan sosial dalam akses pendidikan semakin melebar.

Selain itu, krisis ekonomi juga berdampak pada program beasiswa dan bantuan pendidikan. Keterbatasan anggaran menyebabkan jumlah penerima beasiswa menjadi lebih terbatas. Akibatnya, banyak mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa krisis ekonomi tidak hanya memengaruhi aspek finansial, tetapi juga berpotensi menghambat pengembangan sumber daya manusia di masa depan.

Krisis ekonomi juga memengaruhi minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dalam kondisi ekonomi yang sulit, sebagian individu lebih memilih untuk langsung bekerja guna membantu perekonomian keluarga. Dampaknya adalah penurunan angka partisipasi pendidikan tinggi, yang pada akhirnya dapat mengurangi jumlah tenaga kerja terdidik di masa mendatang.

Dari sisi kualitas, keterbatasan dana yang dialami perguruan tinggi dapat berdampak pada menurunnya mutu layanan pendidikan. Fasilitas pembelajaran, laboratorium, akses teknologi, serta kegiatan penelitian menjadi terbatas. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, maka kualitas lulusan juga berpotensi menurun, sehingga daya saing sumber daya manusia ikut terdampak. Padahal, dalam situasi krisis, kebutuhan akan tenaga kerja yang kompeten dan inovatif justru semakin meningkat.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, perguruan tinggi dituntut untuk lebih adaptif dan inovatif. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan sistem pembelajaran berbasis digital, seperti kelas daring. Selain dapat menekan biaya operasional, metode ini juga berpotensi memperluas akses pendidikan. Namun, penerapannya tetap memerlukan dukungan infrastruktur yang memadai agar dapat berjalan secara efektif dan merata.

Selain inovasi dalam pembelajaran, kerja sama antara perguruan tinggi dengan dunia industri juga menjadi solusi penting. Melalui kolaborasi ini, perguruan tinggi dapat memperoleh sumber pendanaan tambahan sekaligus meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan pasar kerja. Program magang, penelitian bersama, serta pendanaan dari sektor swasta dapat membantu menjaga stabilitas pendidikan tinggi di tengah krisis.

Untuk mengatasi dampak krisis ekonomi terhadap pendidikan tinggi, diperlukan strategi yang komprehensif. Pemerintah perlu menjaga komitmen terhadap pendanaan pendidikan melalui pemberian subsidi, beasiswa, serta bantuan biaya kuliah bagi mahasiswa kurang mampu. Perguruan tinggi juga perlu mengembangkan sumber pembiayaan alternatif, seperti hibah penelitian, kerja sama dengan dunia usaha, dan program kewirausahaan kampus. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperluas akses pendidikan.

Secara keseluruhan, krisis ekonomi global memiliki dampak signifikan terhadap pembiayaan dan akses pendidikan tinggi. Dampak tersebut meliputi berkurangnya anggaran pemerintah, meningkatnya biaya kuliah, menurunnya kemampuan masyarakat dalam membiayai pendidikan, terbatasnya program beasiswa, serta ancaman terhadap kualitas pendidikan. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat memperbesar kesenjangan sosial dan menghambat pembangunan sumber daya manusia.

Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, dan masyarakat untuk menciptakan sistem pendidikan tinggi yang berkelanjutan dan inklusif. Dengan kebijakan yang tepat dan inovasi yang berkelanjutan, pendidikan tinggi diharapkan tetap dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat serta mampu mencetak generasi yang unggul dan berdaya saing di tengah tantangan global. (*)

Daftar Pustaka

Juliharti, L., Rusdinal, & Hadiyanto. (2023). The Problematika kebijakan ekonomi di tengah Resesi Ekonomi dan dampaknya terhadap dunia pendidikan. Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, 9(2), 1571–1578. https://doi.org/10.36989/didaktik.v9i2.853

Kewirausahaan, D. P. (2005). Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 2 Nomor 3, Mei 2005. Ekonomi & Pendidikan, 2(3), 48–64.

Rifka Alkhilyatul Ma’rifat, I Made Suraharta, I. I. J. (2024). No Title 済無No Title No Title No Title. 2(54), 306–312.

Sihono, T. (2012). Dampak Krisis Finansial Amerika Serikat Terhadap Perekonomian Asia. Jurnal Ekonomi Dan Pendidikan, 6(1), 1–20. https://doi.org/10.21831/jep.v6i1.586

Sukriati, Maallah, M. N., Hamran, Jupri, & Kahri, S. R. (2025). Resiliensi Pendidikan Islam Pasca Krisis: Dampak Ekonomi terhadap Akses Pendidikan Madrasah dan Strategi Adaptasi Keluarga Muslim. Jurnal Ilmiah Multidisiplin Mahasiswa Dan Akademisi , 1(5), 15–25. https://jurnal.yayasanmeisyarainsanmadani.com/index.php/intelektual/article/view/439

Penulis adalah Dosen Pengampuh Mata Kuliah, dan Mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan, FIP, UNG

Tags: Arifin SukingFIPIntan Syafitri H. IsmailIrma AstutiManajemen PendidikanNurul Fadila PutriUNGWirda Yanti

Related Posts

Iwan Lakoro

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Tuesday, 9 June 2026
Husin Ali

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Monday, 8 June 2026
Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Muh. Amier Arham

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Thursday, 4 June 2026
Yusran Lapananda

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Tuesday, 26 May 2026
Basri Amin

Sehat yang Sesat

Monday, 25 May 2026
Next Post
Warga Antusias Ikuti Edukasi Aplikasi HALO STROKE, Dinilai Sangat Membantu Pendamping Pasien Stroke

Warga Antusias Ikuti Edukasi Aplikasi HALO STROKE, Dinilai Sangat Membantu Pendamping Pasien Stroke

Discussion about this post

Rekomendasi

Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

Tuesday, 9 June 2026
Suasana perayaan HUT ke-68 Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea pada Ahad (7/6/2026) malam, di rumah pribadinya. (Foto: Prokopim)

Perayaan HUT ke-68 Adhan, Tak Pake APBD, Dirayakan Bareng Anak Yatim

Tuesday, 9 June 2026
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea dan Wawali Indra Gobel tengah menikmati jajanan di Street Food Jilid II. (Foto: Prokopim)

Street Food Jilid II Diserbu Pengunjung, Omzet UMKM Capai Rp222 Juta dalam Semalam

Tuesday, 9 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026

Pos Populer

  • Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

    Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.