logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Diplomasi Jalur Kedua  

Lukman Husain by Lukman Husain
Tuesday, 19 May 2026
in Persepsi
0
Diplomasi Jalur Kedua  

ilustrasi diplomasi. (

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Oleh:
Dr.Arifin Suking,S.Pd,M.Pd.,
Siti Fadila Sufari Belembele,
Lestari I.R. Kadir,
Riska,
Putri Anatasia Salindeho,
Zulfa Anastasya Kalay

 

PENDAHULUAN

Diplomasi Jalur Kedua (Track Two Diplomacy) muncul sebagai jembatan krusial untuk mengisi kekosongan tersebut melalui keterlibatan aktor-aktor non-pemerintah. Dengan melibatkan akademisi, tokoh masyarakat, mantan diplomat, hingga organisasi non-profit, jalur ini menawarkan pendekatan yang lebih santai, bersifat rahasia, dan bebas dari tekanan politik praktis. Fokus utamanya bukan pada pencapaian kesepakatan hukum seketika, melainkan pada pembangunan pemahaman bersama dan eksplorasi solusi inovatif yang mungkin dianggap terlalu berisiko jika dibicarakan dalam forum resmi pemerintah.

Secara naratif, Diplomasi Jalur Kedua dapat dipandang sebagai “diplomasi akar rumput” yang bekerja di balik layar untuk melunakkan kerasnya dinding kedaulatan negara. Pentingnya jalur ini terletak pada kemampuannya untuk mendeteksi akar masalah yang sering kali terabaikan dalam narasi besar politik luar negeri. Sebagai pendahuluan menuju perdamaian yang lebih formal, narasi diplomasi ini menjadi menarik untuk dikaji lebih dalam sebagai instrumen yang mampu mengubah rasa saling curiga menjadi rasa saling percaya, yang pada akhirnya memuluskan jalan bagi terciptanya stabilitas internasional yang lebih harmonis.

PEMBAHASAN

Keunggulan utama dari Diplomasi Jalur Kedua terletak pada fleksibilitasnya yang luar biasa dibandingkan dengan diplomasi jalur pertama yang kaku. Dalam pertemuan formal, setiap kata yang diucapkan oleh seorang diplomat dianggap sebagai representasi resmi negara, sehingga ruang untuk spekulasi dan eksperimen ide menjadi sangat terbatas. Sebaliknya, pada Jalur Kedua, para peserta dapat mengeksplorasi solusi-solusi “di luar kotak” tanpa takut akan konsekuensi politik atau kritik dari media massa. Keleluasaan ini memungkinkan munculnya terobosan-terobosan kreatif yang sering kali tidak terpikirkan dalam suasana perundingan yang penuh tekanan.

Lebih jauh lagi, Diplomasi Jalur Kedua berfungsi sebagai instrumen untuk memecah kebuntuan psikologis antarpihak yang berkonflik. Sering kali, konflik internasional dipelihara oleh prasangka mendalam dan dehumanisasi terhadap pihak lawan yang dikonstruksi selama bertahun-tahun. Melalui dialog informal, para aktor seperti akademisi atau tokoh masyarakat dapat berinteraksi sebagai sesama manusia, bukan sebagai representasi ideologi yang berseberangan. Proses “memanusiakan” lawan ini merupakan langkah krusial dalam membangun rasa saling percaya (trust-building) yang menjadi fondasi dasar bagi setiap perdamaian yang berkelanjutan.

Dalam praktiknya, Jalur Kedua juga bertindak sebagai saluran komunikasi cadangan yang tetap terbuka saat hubungan diplomatik resmi terputus sepenuhnya. Ketika dua negara menarik duta besarnya dan menutup pintu negosiasi, interaksi di tingkat non-pemerintah sering kali menjadi satu-satunya jembatan yang tersisa. Melalui konferensi atau diskusi meja bundar yang tidak dipublikasikan, informasi sensitif dapat dipertukarkan dan niat baik dapat disampaikan secara halus. Hal ini menjaga agar ketegangan tidak meningkat menjadi konfrontasi fisik yang tidak terkendali akibat kegagalan komunikasi.

Namun, efektivitas diplomasi ini sangat bergantung pada mekanisme “transfer” hasil diskusi ke tingkat pengambil kebijakan. Tantangan terbesar muncul ketika rekomendasi brilian yang dihasilkan di Jalur Kedua gagal menembus birokrasi pemerintahan yang konservatif. Para peserta Jalur Kedua harus memiliki jaringan yang kuat dengan para elite politik agar ide-ide mereka tidak sekadar menjadi wacana di menara gading. Sinergi yang apik terjadi ketika pemerintah secara diam-diam memberikan “lampu hijau” kepada aktor Jalur Kedua untuk menjajaki kemungkinan damai sebelum jalur resmi benar-benar melangkah masuk.

Terakhir, Diplomasi Jalur Kedua memberikan ruang bagi isu-isu kontemporer yang sering kali terabaikan dalam agenda keamanan tradisional, seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, dan hak asasi manusia. Dengan melibatkan pakar dari berbagai disiplin ilmu, diplomasi ini mampu memetakan akar permasalahan konflik yang lebih luas dan sistemik. Pendekatan multidimensi ini membantu para pembuat kebijakan untuk memahami bahwa perdamaian bukan sekadar tiadanya perang, melainkan terciptanya ekosistem kerja sama yang saling menguntungkan di berbagai sektor kehidupan masyarakat.

PENUTUP

Sebagai simpulan, Diplomasi Jalur Kedua adalah kompas moral sekaligus laboratorium intelektual dalam arsitektur hubungan internasional modern. Ia mengisi ruang-ruang kosong yang tidak bisa dijangkau oleh kekuasaan negara, memberikan kesempatan bagi akal sehat dan empati untuk berbicara di atas kebisingan retorika politik. Meskipun tidak memiliki otoritas hukum untuk memaksakan sebuah perjanjian, kekuatan pengaruh dan kemampuannya dalam mencairkan hubungan yang beku menjadikan jalur ini sebagai mitra tak terpisahkan bagi diplomasi resmi dalam mencapai stabilitas global.

Pada akhirnya, keberhasilan perdamaian dunia tidak hanya ditentukan oleh apa yang tertulis di atas kertas perjanjian formal, tetapi juga oleh hubungan emosional dan intelektual yang dibangun oleh masyarakat sipil. Diplomasi Jalur Kedua mengingatkan kita bahwa di balik tembok kedaulatan negara yang tebal, terdapat kebutuhan manusiawi yang sama untuk hidup berdampingan secara damai. Dengan terus merawat jalur-jalur komunikasi informal ini, dunia memiliki peluang yang lebih besar untuk mengubah puing-puing ketidakpercayaan menjadi pilar-pilar kerja sama yang kokoh bagi generasi mendatang. (*)

 

SUMBER REFERENSI

Huda, M. S. (2021). “Track Two Diplomacy and Energy Cooperation in South Asia: A New Narrative of Peacebuilding”. International Affairs, Vol. 97, No. 1, Hal. 125–144.

Jones, P. (2024). The Evolution of Informal Dialogue: Track Two Diplomacy in an Age of Great Power Competition. Oxford: Oxford University Press. Hal. 89–112.

Esmailian, S., & Jalali, M. (2023). “The Role of Academic Institutions in Track Two Diplomacy: Building Bridges in Times of Crisis”. Journal of International Relations and Development, Vol. 26, No. 2, Hal. 312–334.

Ammour, L. G. (2022). Non-State Actors and Peacebuilding: New Dynamics of Track Two Diplomacy in Global South. London: Routledge. Hal. 45–67.

Pruitt, D. G., & Kim, S. H. (2025). Social Conflict: Escalation, Stalemate, and Settlement (5th Edition). New York: McGraw-Hill Education. Hal. 210–225.

Fletcher, A., & Moon, T. (2026). “Digital Interventions in Track Two Diplomacy: The Future of Informal Dialogue”. Global Policy Journal, Vol. 17, No. 3, Hal. 15–29.

Penulis adalah dosen pengampuh, dan mahasiswa Jurusan Manajemen Pendidikan, FIP, Universitas Negeri Gorontalo

Tags: Arifin SukingDiplomasi Jalur KeduaFIPJurusan Manajemen PendidikanLestari I.R KadirPutri Anatasia SalindehoRiskaSiti Fadilah Sufari BelembeleUNGZulfa Anatasya Kalay

Related Posts

Iwan Lakoro

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Tuesday, 9 June 2026
Husin Ali

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Monday, 8 June 2026
Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Muh. Amier Arham

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Thursday, 4 June 2026
Yusran Lapananda

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Tuesday, 26 May 2026
Basri Amin

Sehat yang Sesat

Monday, 25 May 2026
Next Post
Pengaruh Krisis Ekonomi Global Terhadap Pembiayaan dan  Akses Pendidikan Tinggi   

Pengaruh Krisis Ekonomi Global Terhadap Pembiayaan dan Akses Pendidikan Tinggi  

Discussion about this post

Rekomendasi

Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

Tuesday, 9 June 2026
Suasana perayaan HUT ke-68 Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea pada Ahad (7/6/2026) malam, di rumah pribadinya. (Foto: Prokopim)

Perayaan HUT ke-68 Adhan, Tak Pake APBD, Dirayakan Bareng Anak Yatim

Tuesday, 9 June 2026
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea dan Wawali Indra Gobel tengah menikmati jajanan di Street Food Jilid II. (Foto: Prokopim)

Street Food Jilid II Diserbu Pengunjung, Omzet UMKM Capai Rp222 Juta dalam Semalam

Tuesday, 9 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026

Pos Populer

  • Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

    Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.