logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Lukman Husain by Lukman Husain
Friday, 15 May 2026
in Persepsi
0
Muh. Amier Arham

Muh. Amier Arham

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

oleh:
Muh. Amier Arham

 

Capaian pertumbuhan ekonomi pada Quartal I tahun 2026 secara nasional dan regional patut diberikan apresiasi, bukan tanpa alasan karena di tengah tekanan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi global, serta tekanan fiskal, ekonomi masih dapat tumbuh impresif. Secara nasional pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen, menjadikan salah satu yang tertinggi di kawasan Asia.

Bahkan Indonesia memimpin pertumbuhan ekonomi di antara negara-negara G20 melampaui raksasa ekonomi dunia seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Arab Saudi, namun masih lebih rendah dari India. Sementara di tingkat regional, pertumbuhan ekonomi Gorontalo mencapai 7,68 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir dan menempatkan Gorontalo di posisi keempat tertinggi secara nasional.

Related Post

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Grafis 10 besar provinsi di Indonesia dengan pertumbuhan ecónomi tertinggi quartal I tahun 2026. sumber: bps

Capaian pertumbuhan ekonomi pada Quartal I yang melesat tidak terlepas dari momentum hari raya idul fitri, dan penyaluran THR, menyebabkan pengeluaran konsumsi rumah tangga meningkat, serta percepatan realisasi belanja pemerintah. Meningkatnya konsumsi rumah tangga memberi multiplier effect terhadap pertumbuhan lapangan usaha akomodasi, makanan dan minuman sebesar 13,14 persen, kemudian disusul oleh sektor transportasi dan pergudangan sebesar 8,04 persen karena dorongan aktifitas mudik.

Sektor lain yang menopang pertumbuhan ekonomi adalah jasa-jasa lainnya sebesar 9,91 persen, jasa-jasa lain dimaksud disini kategori yang mencakup berbagai kegiatan layanan perorangan, sosial, dan hiburan. Artinya sektor yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi tidak beranjak jauh dari sumbanga komponen konsumsi rumah tangga (masyarakat) sehingga terjadi pertumbuhan tinggi pada awal tahun, yang lebih banyak ditopang oleh faktor kegiatan sementara. Sektor informasi dan telekomunikasi turut berperan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi, dimana sektor ini tumbuh sebesar 7,14 persen, tingginya capaian laju pertumbuhan sektor ini tidak terlepas dari kebijakan pelaksanaan Work from Anyway (WFA).

Bagaimana dengan sektor produktif? Misalnya sektor industri pengolahan. Lapangan usaha ini memang mengalami pertumbuhan positif (5,04 %), sub sektor yang menjadi penggerak utama adalah industri mesin dan perlengkapan. Secara kumulatif trend pertumbuhan sektor industri pengolahan cukup baik, walaupun patut kiranya saya memberi catatan, tidak lain karena sektor manufaktur penanda ekonomi suatu negara mengalami pergeseran struktur ekonomi, sekaligus menggeser komposisi tenaga kerja dari sektor non produktif dibanding di kuar sektor industri.

Catatan saya ihwal capaian pertumbuhan sektor industri tidak didukung oleh laju pertumbuhan sektor yang terkait langsung, seperti sektor listrik dan gas. Sektor utilitas ini justru mengalami pertumbuhan negatif secara y-o-y sebesar -0,99 persen dan lebih dalam lagi secara qartal to quartal (-5,23 %). Padahal sejatinya kedua sektor tersebut memiliki korelasional positif, bilamana sektor industri tumbuh positif maka sektor utilitas mengalami kenaikan.

Hal inipun disoroti oleh Lembaga Penyeledikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), dalam kajian mereka menemukan adanya inkonsistensi internal dalam data produksi BPS. Sehingga kondisi ini sulit dijelaskan secara logis karena industri manufaktur merupakan pengguna listrik terbesar di Indonesia. Jika pasokan listrik mengalami kontraksi, maka pertumbuhan manufaktur tersebut sulit dibenarkan secara fisik. Kritik dari LPEM FEB UI valid secara akademik, sebab dalam statistik makro ekonomi penting melihat konsistensi lintas sektor dan lintas indikator. Walaupun demikian patut kita cermati, agar tidak terlalu cepat menyimpulkan bahwa ada faktor kesengajaan (berbohong dengan statistik).
Dalam pandangan kolega saya (Prof. Bambamg Juanda), ahli statistik IPB University lewat diskusi WAG Forum Ekonom Kementerian Keuangan, menilai bahwa setidaknya ada beberapa kemungkinan yang perlu dilihat, misalnya, adanya efisiensi penggunaan energi terutama dari pengguna sektor pemerintah dan utilitas rumah tangga, serta pertumbuhan sektor industri lebih besar di drive oleh subsektor minim energy-insentive.

Ini baru kemungkinan, namun poin penting kritikan dari LPEM FEB UI pada persoalan perlunya menjaga kredibilitas data statistik, sebab ada indikator lainpun menunjukkan ekonomi sedang melambat, alhasil terjadi anomali. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat 8.389 pekerja terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada kuartal pertama, gelombang PHK masih sangat mendominasi sektor padat karya serta industri manufaktur. Anomali lainnya adalah penurunan konsumsi kelas menengah pada kuartal pertama, ini merupakan tren yang disebabkan oleh meningkatnya biaya hidup (seperti inflasi pangan dan energi) yang tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan riil.

Alhasil, kelompok ini terpaksa menahan belanja atau menggunakan tabungan untuk kebutuhan pokok demi mempertahankan kelangsungan hidup. Persoalan pokok lainnya yang patut diperbincangkan bukan seberapa besar pertumbuhan ekonomi secara statistik, namun bagaimana pemerintah menjadi katalisator agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya menciptakan —growth without gain—, ekonomi tumbuh namun transmisi ke kesejahteraan masih melemah.

Capaian pertumbuhan tinggi tidak selamanya mencerminkan realitas, dan sebaliknya pertumbuhan yang rendah tidak selalu buruk. Terhadap perbandingan ekonomi Tiongkok misalnya, pada Quartal I tahun 2026 pertumbuhan ekonomi negeri tirai bambu ini hanya tumbuh sebesar 5,0 persen, ditopang oleh kierja ekspor yang kuat dan melonjaknya output sektor manufaktur. Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia kendatipun lebih tinggi, namun masih sangat rapuh karena lebih banyak ditopang oleh faktor musiman.

Belum lagi akan menghadapi tekanan serius akibat utang jatuh tempo tertinggi yang mencapai Rp. 833,96 triliun dan defisit APBN mencapai Rp240,1 triliun (0,93% PDB). Posisi utang pemerintah saat ini mendekati Rp. 10.000 triliun, menciptakan beban likuiditas tinggi, efeknya terhadap kemampuan belanja pemerintah untuk sektor produktif yang dapat menciptakan pertumbuhan berkualitas terbatas. Sementara pembentukan modal dari sektor swasta masih lemah, pelemahan kinerja sektor swasta pada awal tahun tercermin dari terbatasnya serapan tenaga kerja, tertahannya laju investasi, serta peningkatan biaya input yang menekan margin keuntungan perusahaan.

Melihat fenomena seperti itu mencerminkan proses terjadinya —Crowding Out—, sekalipun belum bersifat mutlak, namun menjadi risiko yang patut untuk diwaspadai dalam perekonomian Indonesia saat ini. Hal ini terjadi karena tingginya kebutuhan pembiayaan fiskal pemerintah untuk program strategis bersaing dengan ketersediaan modal bagi sektor swasta di pasar keuangan, termasuk upaya menutupi defisit fiskal dengan menarik utang baru di pasar keuangan yang dapat mengerek suku bunga.

Eskalasi konflik di Timur Tengah serta ketidakpastian ekonomi global, ditambah dengan tekanan fiskal yang kian berat, kebijakan efisiensi sejatinya berlaku pada semua level dan aspek, sehingga mencerminakn konsistensi kebijakan untuk memperkuat kepercayaan pasar. Selain itu perlunya perbaikan government spending, karena ini sangat krusial untuk mencegah pemborosan dan memastikan dana publik benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Langkah utama mencakup efisiensi belanja nonprioritas, perbaikan tata kelola birokrasi bagi pengelola anggaran jumbo, dan alokasi yang berfokus pada infrastruktur serta program perlindungan sosial yang tepat sasaran.

Mencermati kondisi perekonomian global, pada Quartal II 2026, perekonomian domestik menghadapi tantangan meliputi gejolak geopolitik global, tekanan inflasi akibat gangguan rantai pasok, volatilitas nilai tukar mata uang lokal yang bertahan pada angka di atas Rp. 17.000, dan suku bunga global yang tinggi. Di luar itu, komponen investasi diharapkan menjadi prime mover pertumbuhan ekonomi sampai akhir tahun tercermin belum menggembirakan, bahkan terjadi perlambatan investasi asing. Ketidakpastian global menahan laju aliran investasi, sehingga pemerintah perlu merumuskan terobosan baru agar pertumbuhan tidak hanya bertumpu pada konsumsi domestik, serta sebatas mengejar pertumbuhan tinggi tapi bersifat —Gowth without Inclusion/Development. (*)

Penulis adalah Pengamat Ekonomi FEB UNG

 

Tags: Catatan Prof Amier ArhamCrowding OutEkonom UNGEkonomi Gorontalopertumbuman ekonomiProf. Amier Arham

Related Posts

Iwan Lakoro

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Tuesday, 9 June 2026
Husin Ali

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Monday, 8 June 2026
Basri Amin

Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

Monday, 8 June 2026
Muh. Amier Arham

Pertumbuhan Ekonomi Melesat Menuju Proses Crowding Out

Thursday, 4 June 2026
Yusran Lapananda

TGR, Kini Mengikat dan Didahulukan

Tuesday, 26 May 2026
Basri Amin

Sehat yang Sesat

Monday, 25 May 2026
Next Post
Waspada Oli Palsu, DAW DAW Edukasi Konsumen Pentingnya Menggunakan Oli Asli Honda

Waspada Oli Palsu, DAW DAW Edukasi Konsumen Pentingnya Menggunakan Oli Asli Honda

Discussion about this post

Rekomendasi

Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

Tuesday, 9 June 2026
Suasana perayaan HUT ke-68 Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea pada Ahad (7/6/2026) malam, di rumah pribadinya. (Foto: Prokopim)

Perayaan HUT ke-68 Adhan, Tak Pake APBD, Dirayakan Bareng Anak Yatim

Tuesday, 9 June 2026
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea dan Wawali Indra Gobel tengah menikmati jajanan di Street Food Jilid II. (Foto: Prokopim)

Street Food Jilid II Diserbu Pengunjung, Omzet UMKM Capai Rp222 Juta dalam Semalam

Tuesday, 9 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026

Pos Populer

  • Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

    Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.