Oleh:
Dr. Arifin Suking, S.Pd., M.Pd,
Ameliawaty Amir,
Asmiranda J. Kasim,
Sri Fahlawati Djakaria,
Valencia Gais
Abstrak
Geopolitik tidak hanya memengaruhi hubungan antar negara, tetapi juga memberikan dampak tidak langsung terhadap dunia pendidikan melalui konsep hidden curriculum. Konflik antara Iran dan Amerika Serikat menjadi salah satu isu yang secara tidak langsung membentuk cara berpikir nilai dan ideologi mahasiswa di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana geopolitik berfungsi sebagai hidden curriculum dalam pendidikan tinggi. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif. Hasil kajian menunjukan bahwa konflik geopolitik mempengaruhi pembentukan perspektif mahasiswa melalui media, diskusi akademik dan interaksi sosial. Hal ini menunjukan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui kurikulum yang formal, tetapi juga melalui pengalaman sosial yang bersifat tidak langsung.
Pendahuluan
Dalam dunia pendidikan, kurikulum tidak hanya terbatas pada dokumen resmi yang dirancang oleh lembaga pendidikan, tetapi juga mencakup nilai-nilai yang tidak tertulis yang dikenal sebagai hidden curriculum. Konsep ini menentukan bahwa proses pendidikan berlangsung tidak hanya melalui pembelajaran formal, tetapi juga melalui pengalaman sosial dan budaya di lingkungan pendidikan. Sebagaimana dikemukakan oleh (Gultom, 2025, hlm. 151) “hidden curriculum adalah segala sesuatu yang dipelajari siswa disekolah yang tidak secara eksplisit tertulis dalam kurikulum formal, melainkan diperoleh melalui interaksi sosial, kegiatan non-akademik dan budaya sekolah”. Selain itu (Mustikaweni et al., 2025, hlm. 192) menyatakan bahwa “hidden curriculum dapat menjadi pondasi penting dalam mendidik generasi yang siap menghadapi tantangan global dengan pemahaman yang mendalam tentang keberagaman”.
Dalam perspektif geopolitik, pendidikan menjadi arena strategis untuk membentuk kesadaran global. Geopolitik sendiri dapat dipahami sebagai kajian mengenai hubungan antara kekuasaan, wilayah, dan kepentingan negara dalam skala internasional. Dalam konteks Indonesia, kajian geopolitik sering dikaitkan dengan pembentukan wawasan kebangsaan dan posisi negara dalam percaturan global (Akmaliza, 2022). Namun, dalam praktiknya, geopolitik tidak hanya diajarkan sebagai teori, melainkan juga hadir dalam bentuk narasi, framing media, dan diskusi akademik yang membentuk cara pandang mahasiswa terhadap konflik global.
Dalam era globalisasi, berbagai dinamika geopolitik secara tidak langsung masuk ke dalam proses pembelajaran dan membentuk cara berpikir mahasiswa. Mahasiswa tidak dapat dilepaskan dari pengaruh isu-isu geopolitik internasional, salah satunya adalah konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Konflik ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana isu global dapat menjadi bagian dari hidden curriculum dalam pendidikan. Dalam dokumen kebijakan pendidikan disebutkan bahwa “kurikulum tersembunyi merupakan pengakuan adanya nilai-nilai dan pembelajaran yang melekat secara implisit pada kurikulum formal”.
Pembahasan
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat merupakan salah satu isu geopolitik yang memiliki dampak luas, tidak hanya pada bidang politik dan ekonomi, tetapi juga pada wacana pendidikan. Konflik ini tidak semata-mata dilatarbelakangi oleh perbedaan ideologi, tetapi juga oleh kepentingan strategis seperti energi, keamanan, dan pengaruh regional. Sebagaimana dijelaskan dalam analisis geopolitik kontemporer, konflik di Timur Tengah saat ini “tidak lagi semata-mata terjadi karena perbedaan ideologi atau klaim wilayah, tetapi dipicu oleh kompetisi atas aset geostrategis”. Narasi semacam ini sering masuk ke dalam bahan diskusi di ruang kelas, baik dalam mata kuliah hubungan internasional, pendidikan kewarganegaraan, maupun studi kawasan.
Melalui diskusi tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari fakta, tetapi juga menyerap perspektif tertentu. Misalnya, bagaimana media Barat sering membingkai Iran sebagai ancaman global, atau sebaliknya, bagaimana narasi alternatif melihat Amerika Serikat sebagai aktor hegemonik. Tanpa disadari, mahasiswa mulai membangun posisi ideologinya sendiri berdasarkan informasi yang diterima. Inilah bentuk nyata dari hidden curriculum, di mana pendidikan menjadi medium internalisasi nilai dan sudut pandang geopolitik.
Lebih jauh lagi, hidden curriculum dalam konteks geopolitik juga terlihat dalam pemilihan materi ajar, referensi, dan sudut pandang dosen. Ketika dosen menggunakan sumber-sumber tertentu yang dominan berasal dari perspektif Barat, maka secara tidak langsung mahasiswa akan cenderung memahami konflik antara Iran dan Amerika Serikat dari sudut pandang tersebut. Sebaliknya, jika digunakan sumber dari dunia Islam atau negara berkembang, maka perspektif yang terbentuk juga akan berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk kerangka berpikir dan orientasi nilai mahasiswa.
Selain itu, hidden curriculum juga terbentuk melalui pengalaman sosial dan lingkungan pendidikan. Dalam (Imawan, 2025, hlm. xiii) disebutkan bahwa pembentukan nilai melalui hidden curriculum dapat terjadi melalui pembiasaan, interaksi sosial, dan budaya institusi pendidikan. Dengan kata lain, mahasiswa tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari bagaimana suatu isu dibahas, siapa yang dianggap benar, dan nilai apa yang ditekankan dalam diskusi. Dalam konteks konflik Iran–AS, cara dosen memfasilitasi diskusi, pilihan literatur, hingga sikap terhadap perbedaan pendapat turut membentuk pemahaman mahasiswa secara tidak langsung.
Dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia, fenomena ini menjadi semakin relevan. Indonesia sebagai negara non-blok memiliki posisi unik dalam memandang konflik global. Namun, mahasiswa Indonesia tetap terpapar oleh berbagai narasi global melalui media digital, jurnal internasional, dan diskursus akademik. Hal ini menjadikan ruang kelas sebagai arena pertemuan berbagai perspektif geopolitik yang berpotensi membentuk identitas intelektual mahasiswa.
Di sisi lain, hidden curriculum juga dapat memberikan dampak positif apabila dikelola dengan baik. Diskusi mengenai konflik Iran–AS dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis, analisis geopolitik, serta pemahaman lintas budaya. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa hidden curriculum dapat menjadi instrumen penting dalam membentuk karakter dan kesiapan menghadapi tantangan global (Mustikaweni et al., 2025, hlm. 192) . Mahasiswa dapat diajak untuk tidak hanya menerima satu narasi, tetapi juga membandingkan berbagai perspektif dan membangun argumen yang rasional. Dengan demikian, hidden curriculum tidak selalu bersifat negatif, tetapi justru dapat menjadi alat pembelajaran yang efektif apabila disadari dan diarahkan.
Namun demikian, terdapat pula risiko yang perlu diwaspadai. Tanpa adanya kesadaran kritis, hidden curriculum dapat menjadi sarana indoktrinasi ideologi tertentu. Mahasiswa dapat terjebak dalam pola pikir yang bias tanpa menyadari bahwa perspektif tersebut dibentuk oleh narasi tertentu. Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk menciptakan ruang dialog yang terbuka dan inklusif, sehingga mahasiswa dapat mengeksplorasi berbagai sudut pandang secara seimbang.
Selain itu, integrasi isu geopolitik dalam pendidikan juga perlu mempertimbangkan konteks lokal. Indonesia memiliki nilai-nilai kebangsaan seperti Bhinneka Tunggal Ika yang dapat menjadi landasan dalam memahami konflik global secara lebih bijak. Dengan pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen informasi global, tetapi juga mampu mengkontekstualisasikan dalam kerangka nasional dan kemanusiaan.
Penutup
Geopolitik sebagai hidden curriculum menunjukkan bahwa pendidikan tidak pernah benar-benar netral. Konflik Iran–Amerika Serikat hanyalah salah satu contoh bagaimana dinamika global dapat mempengaruhi proses pembelajaran dan pembentukan karakter mahasiswa. Oleh karena itu, penting bagi dunia pendidikan untuk menyadari keberadaan hidden curriculum dan mengelolanya secara kritis dan reflektif. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran global yang adil, kritis, dan berimbang. (*)
Daftar Pustaka
Akmaliza, A. (2022). Geopolitik Indonesia. Jurnal Riset Pendidikan dan Pengajaran, 1(2).
Dwi Sulisworo, T. (2012). Geopolitik Indonesia. Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan.
Gultom, T. W. (2025). Implementasi hidden curriculum pada kegiatan latihan dasar kepemimpinan siswa (LDKS) di sekolah menengah atas. SABANA: Sosiologi, Antropologi, dan Budaya Nusantara, 4(1), 150–163.
Imawan, M. (2025). Implementasi hidden curriculum dalam membangun karakter santri di era society 5.0 di Pondok Pesantren Modern Al-Istiqamah Ngatabaru Kabupaten Sigi. UIN Datokarama Palu.
Mustikaweni, M. C. T., Attalina, S. N. C., & Hamiddaturohmah. (2025). Analisis penerapan hidden curriculum dalam mewujudkan kebhinekaan global di sekolah dasar. Jurnal Jendela Pendidikan, 5(1), 192–203.
Rahman, M. F., Najah, S., Furtuna, N. D., & Anti, A. (2020). Bhinneka Tunggal Ika sebagai benteng terhadap risiko keberagaman bangsa Indonesia. Al-Din: Jurnal Dakwah dan Sosial Keagamaan, 6(2).
SindoNews. (2025). Aset geostrategis Iran dan pelajaran bagi Indonesia dalam era multipolar. https://nasional.sindonews.com/read/1582789/18/aset-geostrategis-iran-dan-pelajaran-bagi-indonesia-dalam-era-multipolar-1750421179
Wantannas RI. (2020). Bela Negara Era 5.0. Jakarta: Dewan Ketahanan Nasional Republik Indonesia.
Penulis adalah dosen pengampuh mata kuliah penulisan karya ilmiah, dan mahasiswa jurusan Manajemen Pendidikan, FIP, UNG













Discussion about this post