oleh:
Basri Amin
SULIT membayangkan bagaimana suasana batin seorang ayah dan ibu “melepas” putrinya yang seorang dokter memasuki dunia barunya bernama “rumah tangga!” Ini tak sekedar dua kata, Rumah-Tangga, yang bersatu karena pilihan-sadar, penunaian sariat Agama, komitmen hidup-bersama, dan karena restu dua keluarga besar.
Pasangan ini memutuskan tekad besar dalam sejarah hidup mereka. Mereka tentu saja tidak sedang merancang ‘jalan mulus’ tetapi, terutama, mereka memilih-menerima Amanah abadi dari kesejatian manusiawinya untuk ‘jalan panjang’ penghidupan mereka. Ribuan orang menjadi saksinya! Keluarga besar keduanya dari kalangan terpandang, terdidik, dan menyandang reputasi sebagai pengabdi masyarakat.
Kami hadir. Ahad 1 Februari 2026. Kami menyaksikan sebuah perayaan Cinta dengan fondasi Agama, Kekeluargaan dan Persahabatan yang luas. Sebuah acara di mana rasa Syukur, Kehormatan, Penghargaan dan Warisan Cinta bisa hadir bersama-sama, dan saling-menyapa. Alhamdulillah!
Ikatan Cinta sejati rupanya menicayakan energi besar, yakni kerelaan ‘melepaskan’ yang ‘terbaik’ –-bahkan yang terluhur dan yang terjaga — dari apa-apa yang selama ini menjadi milik kita sebagai titipan dan amanahNya.
Cinta yang luhur senantiasa butuh kerelaan besar untuk bisa melangkah dengan pengalaman-pengalaman baru, beserta tanggung jawab dasariahnya. Cinta selamanya hidup di antara fantasi-fantasi hidup yang melintasi kepemilikan fisikal dan kebebasan emosional yang super-interaktif menuju petualangan ruhani yang super-afektif dalam mendekap sela-sela ciptaaNya yang serba misteri.
Setiap ikatan-Cinta tertanam aura-energi yang besar di dalam jiwa Manusia; tetapi di ujung terjauhnya yang misteri, selalu pula dibayangi oleh guncangan dan resikonya masing-masing! Waktu akan terus menguji-nya. Dan karena itulah, Keluarga harus selalu bisa disegarkan sebagai “Rumah yang ber-tangga dan yang ber-tetangga…” Ini adalah soal ruang, ikatan-ikatan, olah-rasa dan pencapaian, di mana setiap energi dan esensi kerumah-tanggaan tak bisa lepas dan karakter dasar “Tangga” itu sendiri –pasti naik-turun, sesekali licin, dan sesekali pula harus di-cek dan dipastikan pemeliharaannya—. Tak jarang sebuah “tangga” adalah juga simbol estetika dan espektasi tertentu yang tak ternilai harganya. Ia adalah solusi sekaligus.
Di alam praktis, Cinta membebaskan sekaligus menawarkan batas-batas terbaik dalam relasi kita sebagai masyarakat manusia. Di antara setiap batas itulah, Cinta adalah sekaligus ujian-ketidakpastian yang mutlak –yang di dalamnya memendam banyak rahasia ego kita dan pencarian ruang bersama di setiap relung perbedaan yang kita miliki. Perbedaan itu sendiri punya narasi yang panjang ke belakang dan ke masa depan.
Saya merenung tentang Keluarga sendiri. Saya mengalami “rasa terpisah” yang semakin melebar. Bukan semata karena saya ditinggal ibunda tercinta sejak kecil, tetapi juga karena tarikan belajar ke banyak tempat dan koneksi kerja yang terlalu variatif, terbukti membawa saya kepada ikatan-ikatan kekeluargaan yang terus meluas dan melebar. Saya juga di-tinggal oleh seorang adik yang demikian dekat obsesinya dengan saya, namun saya tak bisa lagi mewujudkan cita-cita besarnya karena keterbatasan sumberdaya yang melilit.
Di masa kini, Keluarga dan Kekeluargaan mengalami guncangan di sana-sini. Kita tak bisa lagi menutup diri bahwa keluarga dengan identitas baru semakin rentan dengan isu-isu kedayatahanan. Telah lahir generasi-keluarga baru yang dikepung dengan teknologi komunikasi super-cepat yang rentan lepas kontrol dan lepas nilai.
Dampaknya luas sekali, lihat saja soal kondisi meja-meja makan kita di rumah-rumah kita saat ini. Tradisi “masak di dapur” tak lagi sepenuhnya menjadi fondasi obrolan dan urusan keseharian yang bernilai di rata-rata keluarga kita. Mentalitas “membeli-pesanan” dan “makan-selera di luar” semakin membentuk tradisi keluarga saat ini. Ledakan selera dan gaya hidup tak lagi mudah dikontrol, dengan beragam alasan.
CINTA tetaplah harus menjadi dasar-alasan yang utama dalam menilai setiap bagian dari pertumbuhan kita saat ini. Ini adalah warisan kemanusiaan yang harus mampu kita baca sisi-sisi misterinya, agar tidak menimbulkan luka yang terus menganga karena egoisme atau fantasi sepihak kita sendiri.
Ia harus dimaknai dengan respek karena di balik kata “Cinta” –-dengan huruf C besar—akan mengantarkan kita untuk melihat rasa Syukur yang memberi kita Daya Hidup, terutama untuk “menerima apa-apa yang (belum) berhasil kita terima” di dunia yang fana ini.
Meski demikian, Cinta adalah konsep yang tetap rentan dibatasi atau dibelokkan pengertiannya. Di lapisan “kasar”nya tetap saja ada potensi kepalsuan dan ketidakpastian yang sama-sama rentan dihayati di dunia nyata. Terbukti, tidak semua orang punya wawasan yang sama. Tak sedikit pula yang punya jejak sejarah dan jarak besar dengan kata ini. Karena itulah, ia sebaiknya dipupuk dan dihidup-hidupi di berbagai alam dan arena hidup, agar buah-buah manisnya bisa tampak beragam, variatif ukuran-rasanya dan kelak menjadi benih-benih regenerasi yang ditabur oleh siapa pun.
Cinta menyelamatkan setiap harapan –-dan mampu membangkitkan yang lemah dan yang jatuh, serta menerbangkan jauh bagi yang bercita-cita–. Tentu, kita tak bisa sepenuhnya pasti di “rumah tangga” yang mana dan yang seperti apa Ia menjadi energi maha kuat guna membina buah-buah Cinta yang diwariskan oleh setiap pilihan Hidup dan jenis Bahagia yang kita jalani.***












Discussion about this post