logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Dari Street Justice menuju Digital Justice

Lukman Husain by Lukman Husain
Wednesday, 14 January 2026
in Persepsi
0
Ahmad Zaenuri

Ahmad Zaenuri

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Ahmad Zaenuri

 

BEBERAPA pekan terakhir, masyarakat Gorontalo disuguhkan dengan pemberitaan media online yang secara massif melakukan ekspos kepribadian seseorang. Tak tanggung-tanggung, media ini seakan menjadi juru jaksa moral yangbertugasmelakukan pengadilan digital (digitaljustice) terhadap sikap dan perilaku seseorang.

Beberapa orang, bahkan tokoh penting, sempat menjadi sasarannya. Dalam sejumlah kasus, pola ini terbukti efektif, mengantarkan pelaku “kejahatan” secara terbuka mengakui kesalahannya, atau mempercepat proses penyidikannya di kepolisian dan lembaga peradilan. Namun pada sisi yang berbeda, menunjukkan fenomena baru berupa cara-cara cowboy peradilan digital, atas memudarnya kepercayaan publik terhadaplembaga peradilannegara.

Related Post

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Kebangkitan Ekonomi Gorontalo

Laut yang Tak Pernah Kita Kenali Sepenuhnya

Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Dahulu, ketika memasuki abad 19 ke-20, di Amerika muncul istilah “street justice” atau yang sering disebut sebagai pengadilan jalanan. Konsep ini lahir dari kekecawaan publik terhadap mekanisme hukum negara yang dianggap lemah, lambat, atau bahkan tidak adil. Dalam pemaknaan yang sama, konsep street justicejuga sering diartikan sebagai kekerasan kolektif di ruang publik sebagai respon atas tindakan kejahatan yang tidak berujung pada proses pengadilan.

Seiring dengan hal itu, kemudian muncul istilah-istilah lain yang senyawa seperti parlemen jalanan atau extra-parliamentary politics. Parlemen jalanan digunakan sebagai metafora aksi massa di ruang publik, seperti halnya dengan demonstrasi yang digunakan untuk memaksakan kehendak politik rakyat, di luar lembaga formal.

Hadirnya ruang digital, menggeser pola itu semua. Dari medan jalanan, berubah menjadi medan sosial media, seperti facebook, instagram, tiktok dan lainnya. Mengolah simpati publik terhadap suatu isueuntuk mendapatkan viralitas, enggagement, like and share. Sampai-sampai kemudian muncul istilah “no viral no justice”, ketika suatu isue dipandang tidak viral, maka sulit untuk mendapatkan keadilan.

Fenomena inilah yang nantinya memberikan ruang kepada “gorontalo karlota” dan akun-akun sejenis, dapat tumbuh sumbur di Gorontalo. Terlebih lagi, terdapat dua sisi yang saling menguntungkan. Klien mendapatkan akses aspirasinya bisa di dengar oleh netizen, yang pada akhirnya memberikan tekanan terhadap lembaga pemerintah / peradilan, sementara pemilik akun memperoleh enggagement, like dan share yang tentu akan bernilai notice pada aspek ekonomis.

Alaram bagi Prinsip Keadilan

Beberapa kasus yang diangkat oleh media-media digitaljustice tersebut, seringkaliberhasil mengantarkan atau mengadili pelaku kejahatan. Namun pada saat yang sama, menimbulkan kesan negatif atau cenderung sporadis dalam mengangkat kasus. Beberapa hal itu, terlihat misalnya sebagai berikut;

Pertama, minimnya konfirmasi dua arah. Sistem hukum kita, menganut faham “praduga tak bersalah”. Itu artinya, setiap orang atau bahkan mereka yang disangka, ditangkap atau dilaporkan di hadapan hukum, wajib dianggap tidak bersalah sampai ada keputusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht). Dengan menganut azas ini, maka tidak selayaknya mereka yang baru “dianggap” salah dipublikasi secara fulgar dengan narasi seakan-akan adalah aktor utama.

Selanjutnya, konfirmasi pemberitaan juga tidak dapat sekedar mengandalkan informan searah, namun harus menggunakan informasi banding. Kalaupun terpaksa harus menampilkan berita atau isue tertentu yang dianggap sensitif, dapat memanfaatkan celah seperti inisial, terduga, menurut informasinya dan term-term lain yang seringkali digunakan dalam dunia jurnalistik.

Kedua, cenderung menghakimi sebelum adanya ketetapan hukum. Hukuman terberat bagi pelanggar hukum sejatinya adalah hukuman sosial, dibandingkan hukuman fisik dan lainnya. Dengan hukuman sosial, seseorang dapat dikucilkan dari masyarakat, di-framing melakukan kejahatan dan asusila, atau bahkan diisolasi dari lingkungan sosialnya. Melalui hukuman sosial juga, seseorang diserang mentalnya, bahkan bisa dihancurkan secara psikologis.

Sementara, tidak jarang ditemui setelah proses pengadilan berjalan, terbukti seseorang tidak melanggar hukum. Di sinilah pentingnya azas praduga tak bersalah. Kasus yang menimpa seperti Tom Lembong adalah salah satu contoh kecil. Di mana ketika ia ditetapkan tersangka, maka hukum sosial masyarakat menganggapnya telah melakukan penyalahgunaan kewenangan, sementara bukti pengadilan tidak menunjukkan hal tersebut.

Kritik SosialPenegak Hukum dan Pentingnya Kepastian Hukum

Gorontalo karlota adalah fenomena kritik sosial atas penegakan hukum yangselama ini dipandang lambat dan tidak memberikan kepastian keadilan. Terlebih lagi, ketika pelanggarhukum adalah mereka yangdianggap memiliki akses ekonomi dan kekuasaan.

Cara-cara frontal dan sporadis Gorontalo karlota menggambarkan street justice yang berubah menjadi digitaljustice.Langkah ini adalah jalan pintasperadilan digital yang tidak membutuhkan biaya. Namun pola-pola seperti ini juga mengkhawatirkan.

Siapa yang dapat menjamin independensi Gorontalo karlota? Siapa yang akan mengawasi sepakterjangnya? Bagaimana jika portal seperti ini digunakan sebagai kampanye hitam (black campaign)?

Tidak ada kebebasan tanpa batas di dunia ini. Semua harus berjalan di atas prinsip hukum. Tidak boleh lembaga apapun merasa punya kuasa untuk menghakimiorang lain hanya berdasarkan praduga. Pada satu sisi,kita mengakui bahwa kadang kita memerlukan media untuk menyalurkan aspirasi, namun pada saat yang sama, tetap dalam batas koridor kewajaran dan tidak melaggar etika sosial lainnya. (*)

 

Penulis adalah Dosen
IAIN Sultan Amai Gorontalo

Tags: Ahmad ZaenuriHarian PersepsipersepsiTulisan Ahmad Zaenuri

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Saturday, 13 June 2026
Hendri Cahyo Dwi Safitri

Kebangkitan Ekonomi Gorontalo

Friday, 12 June 2026
Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

Friday, 12 June 2026
Laut yang Tak Pernah Kita Kenali Sepenuhnya

Laut yang Tak Pernah Kita Kenali Sepenuhnya

Friday, 12 June 2026
Iwan Lakoro

Menjaga Napas WTP Pemprov Gorontalo: Dari Kertas Kerja Menuju Kesejahteraan Nyata

Tuesday, 9 June 2026
Husin Ali

Make Up School dan Kota sebagai Ruang Belajar: Jalan Kebudayaan Menuju Kota Jasa yang Beradab

Monday, 8 June 2026
Next Post
Ketua Yayasan Kumala Vaza Grup, Siti Fatimah Thaib, bersama pemilik dapur dan Kepala SPPG Pentadio Barat secara simbolis menyerahkan CSR kepada pihak SMP 1 Telaga Biru, Rabu (14/1/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

Dukung Program Presiden, Yayasan Kumala Vaza Grup Salurkan CSR ke 20 Sekolah

Discussion about this post

Rekomendasi

Ridwan Monoarfa

Berpikir Strategis di Tengah Dunia yang Bergejolak: Refleksi Pembangunan Gorontalo

Saturday, 13 June 2026
Proses pencarian seorang nelayan bernama Herman S. Ali (47), warga Dusun Pentadu, Desa Kayubulan, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, dilaporkan hilang setelah tidak kembali dari aktivitas memancing di laut.

Nelayan Pentadu Hilang Saat Melaut, Sudah Sepekan Belum Kembali, Tim SAR Masih Mencari

Friday, 12 June 2026
Mediasi yang dilakukan Bhabinkamtibmas untuk menyelesaikan isu hoaks terkait pelecehan seksual.

Akibat Isu Pelecehan Hoaks, Nama Pria di Ilomangga Tercemar

Friday, 12 June 2026
Mediasi terkait masalah limbah pabrik tahu di Tapa, Kabupaten Bone Bolango yang dilakukan tim gabungan Dinas PTSP dan Dinas Lingkungan Hidup dihadiri camat, kades, Bhabinkamtibmas digelar di kantor Desa Bulontalangi, Tapa, Kamis (11/6).

Warga Keluhkan Polusi Pabrik Tahu. Bikin Rumah Berdebu, Pemkab Bonbol Diminta Bertindak

Friday, 12 June 2026

Pos Populer

  • PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    PENAS XVII: Dikbudprov Libatkan Masyarakat Siapkan Ribuan Polopalo, Aleg Deprov Femmy Udoki Beri Apresiasi

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Program MBG Bukan Implikasi Nilai-nilai Pancasila?

    37 shares
    Share 15 Tweet 9
  • Antusias Ikut PENAS XVII Gorontalo, Kontingen Jambi Tempuh Jalur Darat dan Laut

    38 shares
    Share 15 Tweet 10
  • Harga Pertamax Naik

    20 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.