gorontalopost.co.id – Antisias Petani dan Nelayan dari berbagai daerah di Indonesia untuk datang ke Gorontalo dalam rangkaian Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan ke XVII yang akan berlangsung di Gorontalo, 20-26 Juni 2026 sangat tinggi. Berbagai cara dilakukan, agar bisa datang ke Gorontalo. Seperti yang dilakukan kontingen PENAS XVII dari Provinsi Jambi. Dari daratan Sumatera, mereka menempuh jalur darat ke Gorontalo.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Hortikultura Provinsi Gorontalo, Mulyadi D Mario mengatakan, kondisi harga tiket pesawat yang naik dalam beberapa waktu terakhir, memang membuat kontingen dari berbagai daerah menempuh beragam cara agar bisa tiba di Gorontalo.
Seperti yang dilakukan kontingen Jambi, dari informasi yang diterimanya, mereka akan menempuh jalur darat dari Kota Jambi ke Surabaya menggunakan perusahaan otobus (PO) Handoyo. Dari Surabaya, akan lanjut ke Makassar dengan menggunakan kapal laut KMP Dempo, lalu Makassar ke Gorontalo lanjut dengan jalur daerat menggunakan PO Borlindo.
Alternatif lain, kata Muljadi, yakni mereka akan menggunakan pesawat terbang dari Surabaya, ke Manado, kemudian lanjut via darat ke Gorontlao yang jarak tempuhnya paling cepat 8 jam. “Luas biasa antusiasme dan perjuangan kontingen dari berbagai daerah untuk hadiri Penas di Gorontalo,”kata Muljadi.
Keterbatasan akses transportasi ke Gorontalo dalam menyambut Penas XVII, juga diakui Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail. Dalam wawancara bersama Kompas TV, Kamis (10/6), Gusnar mengatakan, masih ada kurang lebih 700an peserta yang menginformasi belum mendapat tiket ke Gorontalo.
Hal ini tambah lagi dengan harga tiket yang melambung dalam beberapa pekan terakhir. Menurut Gusnar, awal pendaftaran sebagai peserta Penas mencapai 30 ribu peserta, namun dengan kondisi yang ada peserta yang dipastikan ke Gorontalo kurang lebih 13 ribu petani dan nelayan. Kata dia, untuk mengantisipasi hal itu, pihaknya telah meminta maskapai yang melayani rute Gorontalo untuk menambah frekuensi terbang, termasuk memaksimalkan jalur lain seperti darat dan laut.
Beberapa daerah seperti Kaltim, dan Kaltara kata dia, akan menggunakan jalur laut, sementara ada pula yang via Manado, sedangkan daerah-daerah di Sulawesi memastikan datang melalui akses darat. (tro)










Discussion about this post