Oleh:
Hendri Cahyo Dwi Safitri, SST, MSE
DINAMIKA perekonomian suatu wilayah terbentuk dari akumulasi berbagai kebijakan, investasi, dan peristiwa ekonomi yang berlangsung dari masa ke masa. Dampaknya pun tidak selalu dirasakan secara langsung, sebagian memengaruhi perekonomian dalam jangka pendek, sementara sebagian lainnya baru terlihat dalam jangka panjang. Karena itu, memahami perjalanan pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya melihat capaian terkini, tetapi juga perlu menelusuri dinamika historis yang membentuknya hingga hari ini.
Belasan tahun yang lalu, pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo pernah berada pada kisaran 7 persen. Pada tahun 2010, ekonomi Gorontalo tumbuh sebesar 7,56 persen, kemudian meningkat menjadi 7,71 persen pada tahun 2011 dan mencapai 7,91 persen pada tahun 2012.
Selanjutnya, pertumbuhan tercatat sebesar 7,67 persen pada tahun 2013 dan 7,27 persen pada tahun 2014. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pada periode tersebut Gorontalo termasuk daerah dengan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi dibandingkan provinsi lain di Indonesia.
Pada periode 2015 hingga sebelum pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi Gorontalo masih relatif kuat, meskipun berada pada kisaran 6 persen, yaitu 6,22 persen pada 2015; 6,52 persen pada 2016; 6,73 persen pada 2017; 6,49 persen pada 2018; dan 6,40 persen pada 2019. Namun, pandemi Covid-19 memberikan tekanan besar terhadap perekonomian sehingga pada tahun 2020 ekonomi Gorontalo mengalami kontraksi sebesar 0,02 persen.
Pascapandemi, perekonomian Gorontalo mulai menunjukkan pemulihan secara bertahap. Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 2,40 persen pada tahun 2021, kemudian meningkat menjadi 4,03 persen pada 2022, 4,50 persen pada 2023, 4,13 persen pada 2024, dan kembali menguat hingga mencapai 5,71 persen pada tahun 2025. Apabila dilihat menurut Kabupaten/Kota, Kabupaten Pohuwato merupakan wilayah yang mengalami pertumbuhan tertinggi pada tahun 2025, yaitu tumbuh sebesar 7,50 persen.
Sebelum pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi Gorontalo secara konsisten berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, pada periode pascapandemi, yakni tahun 2021 hingga 2024, pertumbuhan ekonomi Gorontalo masih berada di bawah capaian nasional. Kondisi tersebut berubah pada tahun 2025, ketika pertumbuhan ekonomi Gorontalo berhasil melampaui nasional. Pada tahun tersebut, ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,11 persen, sedangkan Gorontalo mencapai 5,71 persen.
Secara triwulanan, pertumbuhan ekonomi cenderung lebih fluktuatif karena dipengaruhi pola musiman. Berbeda dengan data yang telah disesuaikan terhadap faktor musiman (seasonally adjusted), publikasi PDB dan PDRB triwulanan masih mencerminkan pengaruh musim, sehingga variasi pertumbuhan antartriwulan cenderung lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahunan.
Pada masa sebelum pandemi Covid-19, ekonomi Gorontalo dalam beberapa triwulan mayoritas tumbuh di atas 6 atau 7 persen, bahkan beberapa kali melampaui 8 persen. Pola tersebut mulai kembali terlihat pada rilis terbaru yang dipublikasikan oleh BPS Provinsi Gorontalo, di mana pertumbuhan ekonomi triwulan I tahun 2026 tercatat sebesar 7,68 persen. Capaian ini memberikan optimisme terhadap peluang pertumbuhan ekonomi Gorontalo secara tahunan pada tahun 2026.
Secara struktur ekonomi, Gorontalo masih didominasi oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang menyumbang lebih dari sepertiga struktur perekonomian daerah. Selain memiliki peran dominan, kategori ini juga tumbuh sebesar 4,12 persen pada triwulan I 2026. Kondisi tersebut antara lain didorong oleh meningkatnya produksi komoditas unggulan sektor pertanian, khususnya tanaman pangan.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo pada Februari 2026, hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) menunjukkan bahwa potensi luas panen jagung pipilan periode Januari–Maret 2026 diperkirakan mencapai 42,35 ribu hektare. Angka tersebut meningkat 7,51 persen dibandingkan periode Januari–Maret 2025 yang sebesar 39,39 ribu hektare.
Metode KSA dikembangkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang sekarang bergabung menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengestimasi luas panen jagung berdasarkan pengamatan yang objektif (objective measurement).
KSA memanfaatkan teknologi citra satelit resolusi sangat tinggi yang diperoleh dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), kemudian diolah oleh Badan Informasi Geospasial (BIG) menggunakan metode Cylindrical Equal Area (CEA) untuk dilakukan pemilahan dan delineasi antara lahan baku sawah dan bukan sawah.
Pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 tidak hanya dipicu oleh tumbuhnya kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebagai sektor dominan, tetapi juga didukung oleh aktivitas pertambangan emas yang memberikan kontribusi signifikan terhadap lapangan usaha Pertambangan dan Penggalian.
Beberapa kategori lapangan usaha yang tumbuh signifikan pada triwulan I 2026 antara lain Pertambangan dan Penggalian sebesar 31,34 persen, Industri Pengolahan sebesar 29,34 persen, serta Transportasi dan Pergudangan sebesar 14,25 persen. Tingginya pertumbuhan pada kategori-kategori tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas produksi, distribusi, dan mobilitas ekonomi di Gorontalo.
Pertumbuhan ekonomi yang dihitung melalui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada dasarnya menggambarkan besarnya nilai tambah yang dihasilkan oleh aktivitas ekonomi di suatu wilayah. Karena itu, pertumbuhan yang tinggi menunjukkan meningkatnya aktivitas produksi, perdagangan, distribusi, hingga mobilitas masyarakat dalam perekonomian.
Peraih Nobel Ekonomi tahun 1981, James Tobin, pernah mengatakan:
“The question of growth is nothing new but a disguise for an age-old issue, one which has always intrigued and preoccupied economics, the present versus the future.”
Momentum pertumbuhan Gorontalo pada triwulan I 2026 menunjukkan bahwa perekonomian daerah mulai kembali menemukan ritme pertumbuhan tinggi seperti pada periode sebelum pandemi Covid-19. Penguatan sektor pertanian sebagai basis ekonomi daerah, disertai meningkatnya aktivitas industri pengolahan, pertambangan, dan transportasi, menjadi sinyal positif bagi arah pemulihan ekonomi Gorontalo ke depan.
Dalam perspektif pembangunan ekonomi, pertumbuhan yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh tingginya konsumsi saat ini, tetapi juga oleh kemampuan daerah dalam menciptakan investasi, meningkatkan produktivitas, serta memperkuat kualitas sumber daya manusia.
Wilayah yang mampu menjaga akumulasi modal dan produktivitas umumnya akan memiliki pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dalam jangka panjang. Dalam perspektif model pertumbuhan Solow, akumulasi modal pada periode sebelumnya menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pada tahun 2025, Kabupaten Pohuwato menjadi wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Gorontalo. Hal tersebut mengindikasikan adanya aktivitas ekonomi baru yang mampu mendorong peningkatan output daerah. Namun demikian, tantangan pembangunan tidak berhenti pada tingginya angka pertumbuhan semata.
Pada akhirnya, kebangkitan ekonomi Gorontalo tidak hanya diukur dari seberapa besar pertumbuhan yang tercapai, tetapi juga dari seberapa luas manfaat pertumbuhan tersebut dapat dirasakan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi yang inklusif, kesempatan kerja yang setara, serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat menjadi tujuan utama yang perlu terus dijaga dalam proses pembangunan daerah. (*)
Penulis adalah Statistisi pada
Badan Pusat Statistik Provinsi Gorontalo












Discussion about this post