logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Natal Dairi

Lukman Husain by Lukman Husain
Sunday, 28 December 2025
in Disway
0
Natal Dairi
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh: Dahlan Iskan

Natal hari ini saya di tanah Batak: Dairi. Di ibu kotanya: Sidikalang. Bersama si dia dengan lutut barunyi: ini hari ke 14 setelah menantu Pak Iskan itu operasi ganti lutut kiri.

Ini sebenarnya merupakan kunjungan balasan: bupati Dairi yang sekarang, Vickner Sinaga, sudah dua kali tidur di rumah saya yang di DIC Farm, Mojokerto. Ini benar-benar kunjungan balasan: waktu Vickner ke rumah saya kakinya sakit. Jalannya terpincang. Waktu menantu Pak Iskan ke Dairi, kakinyi sakit. Jalannyi terpincang.

Ketika mendarat di Medan, kemarin sore, saya belum tahu akan ke mana saja di Dairi. Pokoknya ke Dairi. Lihat bagaimana orang Kristen bernatal di daerah Kristen.

Sebenarnya saya ingin turun di bandara Silangit. Di Siborong-borong. Dekat danau Toba. Sudah lebih dekat ke Sidikalang. Tinggal dua jam perjalanan. Tapi semua penerbangan ke Silangit penuh. Terlalu banyak orang Batak yang mudik. Maka saya minta maaf ke istri: harus mendarat di Medan, lalu jalan darat dari Medan ke Dairi.

Related Post

Tahu Digigit

Eulogy Lia

Life Wife

Krisis Bukan

Tentu saya harus ikut memikirkan keselamatan lutut baru itu. Jangan transit di bandara Jakarta. Perpindahan gate di bandara Jakarta lebih ruwet. Juga lebih jauh. Saya pilih lewat Batam. Jarak antar gate di bandara Hang Nadim lebih dekat.

Bukan itu. Saya pilih lewat Batam untuk bayar utang ke menantu Pak Iskan itu: ’’suatu saat nanti saya akan mentraktir Anda makan di markabak HAR. Makan roti chanai di situ’’.

Terbayar sudah utang itu. Bahkan pakai bonus: makan siang di pinggir laut dengan menu kepiting lada hitam, cumi goreng tepung, udang rebus dan seporsi besar gonggong. Tidak ada yang enak. Semuanya  sangat enak.


—

Saya pernah ke Sidikalang: hanya lewat. Kali ini akan dua malam di situ. Semoga masih bisa melihat rumah kelahiran tokoh besar Indonesia masa lalu: Jenderal T.B. Simatupang.

Inilah tokoh kelahiran Sidikalang yang di umur 29 tahun sudah menjadi panglima perang Republik Indonesia –setingkat panglima TNI sekarang. Usia belum 30 tahun. Di umur segitu pangkatnya sudah jenderal mayor –kini disebut mayor jenderal, dengan dua bintang.

Tapi Bonar Simatupang menjadi panglima perang menggantikan tokoh yang Anda sudah amat kenal: Jenderal Sudirman, yang meninggal dunia di tahun itu: 1950.

Simatupang sendiri menjadi tentara karena ”dendam”. Yakni dendam pada gurunya di AMS, di Batavia: Meneer Haantjes.

Sang meneer mengatakan: Indonesia tidak mungkin merdeka. Itu karena orang Indonesia tidak mungkin bersatu. Perbedaan antar golongannya sangat tajam. Orang Indonesia juga tidak mungkin jadi tentara yang baik. Postur tubuh mereka terlalu kecil dan lemah.

Maka begitu tamat AMS, Simatupang masuk akademi militer Belanda di Bandung: KMA, Koninlijke Militaire Academie. Itu juga berbau  takdir. Sebelum itu tidak ada KMA di Bandung. Adanya di Breda, negeri Belanda. Tapi Nazi Jerman menyerang Belanda. Belanda kalah. KMA yang ada di Breda ditutup. Dipindah ke Bandung.

Simatupang lulus dari KMA dengan mahkota perak –mungkin bisa emas kalau saja ia berkulit putih. ”Dendam”-nya pada meneer gurunya terbalaskan. Mitos lama Belanda ia tumbangkan.

Di KMA itulah Simatupang satu angkatan dengan Abdul Haris Nasution. Juga dengan Kawilarang. Inilah trio militer intelektual di Indonesia masa itu –yang kelak akan berbenturan dengan tentara yang berlatar belakang ‘akademi’ lapangan. Yakni mereka yang matang di medan gerilya seperti tentara PETA –salah satunya Jendral Soeharto.

Tiga bintang itu juga dikenal sebagai ‘anti Sukarno‘. Sukarno dianggap cenderung ke kiri. Apalagi ketika Sukarno ingin mencopot Jendral Nasution –akibat campur tangan politik. Tahun itu TNI sampai unjuk senjata: menghadapkan moncong tank-tank angkatan darat ke istana.

Simatupang, sebagai panglima, bertekad tidak akan menerima bila profesionalisme militer dicampuri politik. Trio itu marah karena Bung Karno akan mengganti Nasution hanya atas desakan seorang komandan batalyon –itu dinilai akan merusak profesionalisme militer.

Akhirnya Simatupang dipensiun. Usianya masih 39 tahun. Pangkatnya, saat itu letnan jenderal –bintang tiga.

Hari ini setelah ikut perayaan Natal di keluarga Vickner Sinaga, saya ingin ke kampung Jenderal Simatupang –yang menamatkan sekolah rendah di Sidikalang. Saya ingin tahu: seberapa orang Dairi bangga dan terinspirasi oleh kebesaran dan integritas nama T.B. Simatupang.

Nanti sore, kalau bisa saya ingin ke Sibea-bea. Di situlah berdiri patung Yesus tertinggi di Indonesia: karya Sudung Situmorang (lihat Disway 13 September 2024: Katolik Kristen). Apakah kenyataannya patung itu sebagus yang saya tulis dari jauh di Disway tahun lalu.

Dari tanah ᯑᯤᯒᯪ saya ucapkan Selamat Hari Natal. Tuhan memberkati Anda semua.

Selebihnya saya belum tahu: terserah Anda, saya harus jalan ke mana. (*)

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDiswayharian diswaynatal dairi

Related Posts

--

Tahu Digigit

Wednesday, 13 May 2026
Eulogy Lia

Eulogy Lia

Wednesday, 13 May 2026
Life Wife

Life Wife

Tuesday, 12 May 2026
Krisis Bukan

Krisis Bukan

Monday, 11 May 2026
MBG

MBG

Friday, 8 May 2026
Panda Dimsum

Panda Dimsum

Friday, 8 May 2026
Next Post
Tinjau Posko Nataru, Gubernur Imbau Masyarakat Sambut Tahun Baru dengan Empati

Tinjau Posko Nataru, Gubernur Imbau Masyarakat Sambut Tahun Baru dengan Empati

Discussion about this post

Rekomendasi

Alhamdulillah, 611 Jemaah Haji Gorontalo Tuntas Diberangkatkan ke Tanah Suci

Alhamdulillah, 611 Jemaah Haji Gorontalo Tuntas Diberangkatkan ke Tanah Suci

Wednesday, 13 May 2026
Dedy S. Palyama, SE. M.Si

Revolusi Gusnar-Idah: Gorontalo Meledak 7,68%

Tuesday, 12 May 2026
Ilustrasi--

Ambruk ke Rp 17.500/USD, Rupiah Babak Belur

Wednesday, 13 May 2026
Sidak tim gabungan sejumlah instansi terkait di lingkungan Pemkab Bonbol serta aparat kepolisian pada sebuah pabrik illegal di Kawasan GORR Tapa, Bone Bolango, Jumat (8/5/2026). (Foto: Roy/Gorontalo Post).

Tim Gabungan Temukan Pabrik Tahu Ilegal, Tak Kantongi Izin, Picu Polusi Udara Akibat Pembakaran Ban

Wednesday, 13 May 2026

Pos Populer

  • Basri Amin

    Tepian Utara Nusantara (Miangas, Manado, Popayato)

    78 shares
    Share 31 Tweet 20
  • Sadis! Usai Pesta Miras Seorang Pria di Popayato Arahkan Senapan Angin ke Temanya, Lalu Dor 

    77 shares
    Share 31 Tweet 19
  • Korupsi TKI DPRD Kabgor, Kejati Didesak Seret Semua Oknum Terlibat

    81 shares
    Share 32 Tweet 20
  • Pesta Miras Saat Jam Sekolah, Sebelas Pelajar Diamankan

    73 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

    68 shares
    Share 27 Tweet 17
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.