Gorontalopost.co.id, TILAMUTA -– Salah seorang oknum pimpinan pada Bank Sulut Gorontalo (BSG) Cabang Tilamuta, FKO alias Fani (38) ditahan oleh Satuan Reskrim Polres Boalemo atas dugaan tindak pidana korupsi pada bank pelat merah itu.
FKO yang merupakan Manager Pelayanan Nasabah (Head Teller) yang juga petugas junior BSG Tilamuta itu, diduga menilep uang bank tempatnya bekerja dengan cara membobol brankas BSG dengan memanfaatkan kunci ruang khazanah (vault). Pemanfaatan kunci ini seharusnya digunakan bersama petugas senior.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, FKO melancarkan aksinya dengan menggunakan kunci ruang khazanah yang dikuasainya dengan menggondol uang tunai dalam jumlah besar, tanpa dasar operasional kas harian bank.
Setelah itu diduga ia menyetorkannya sejumlah rekening pribadinya di berbagai bank seperti BRI, Mandiri, BNI, Muamalat, BCA, termasuk BSG sendiri. Aksinya itu diduga dilakukan berulang hingga BSG mengalami kerugian hingga Rp 12,7 Miliar.
Tidak hanya itu, FKO juga mengaktifkan dua rekening tabungan nasabah dormant (pasif), yakni atas nama Naray Jost dan Arifin Dukalang yang saldonya mencapai Rp 492,976.000. Ia kemudian menguras isi saldo dua rekening itu tanpa sepengetahuan pemilik rekening.
Caranya, ia mendaftarkan aplikasi BSGTouch untuk dua rekening tersebut dengan nomor telepon baru miliknya, lalu menarik dan menyalurkan dana tersebut untuk keperluan pribadi. Total kerugian negara mencapai Rp 13,19 miliar, dengan rincian Rp 12,7 miliar dari brankas dan Rp 492,9 juta dari rekening nasabah.
Polres Boalemo yang menangani perkara ini, telah menetapkan FKO sebagai tersangka, dan langsung ditahan di rumah tahanan Polres Boalemo. Dari hasil penyidikan Polisi, aksi FKO ini berawal di tahun 2024, dimana ketika tersangka mulai serius bermain trading.

Terdorong keinginan modal besar untuk trading, ia kemudian diduga memanfaatkan posisinya di BSG untuk menguras isi brankas ‘torang pe bank’ itu. Termasuk, membobol rekening pasif milik dua orang nasabah.
Waka Polres Boalemo, Kompol Afandi Nurkamiden,S.E. bersama Kasat Reskrim, Iptu Nurwahid Kiay Demak,S.H., saat press rilis menyampaikan, penyidikan dilakukan setelah mendapatkan laporan terkait dengan dugaan penyalahgunaan anggaran di BSG Tilamuta.
Setelah mendapati cukup bukti, Polisi melakukan gelar perkara pada 6 Mei 2025 lalu . Setelah itu, pada 17 Juni 2025 FKO ditetapkan sebagai tersangka, dengan bukti berupa tiga unit mobil yang terdiri dari mobil Agya, Xpander dan BRV, STNK, BPKB, uang tunai Rp 221,8 juta, flasdisk, dua buah handphone, dan bundel rekening koran.
“Setelah semuanya proses telah dilakukan, kami melakukan penahanan terhadap tersangka pada 8 April 2026 berdasarkan Surat Perintah Penahanan Nomor SP.HAN / 07 / IV / RES.3.3 / 2026 / Reskrim.
Kini berkas perkara dalam tahap pemenuhan petunjuk Jaksa Penuntut Umum (P19),” jelas Iptu Nurwahid Kiay Demak,S.H. Kata dia, penyidik akan melengkapai petunjuk JPU dan berkoordinasi untuk proses penyerahan berkas ke tahap selanjutnya.
Tersangka Fanny diduga melanggar Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Tipikor nomor 31/1999 yang diubah menjadi Undang-Undang nomor 20/2001 atau Pasal 603 Undang-Undang Republik Indonesia nomor 1/2023 tentang KUHP, subsider Pasal 3 dan Pasal 8 jo Pasal 18 ayat (1) huruf b Undang-Undang Tipikor.
“Saat ini tersangka masih dilakukan penahanan di Rutan Polres Boalemo. Ketika berkas perkara dinyatakan lengkap, maka tersangka dan barang bukti akan dilimpahkan kepada pihak Kejaksaan Negeri Boalemo,” pungkasnya.
Sebelumnya, di BSG Cabang Tilamuta pada tahun 2023 lalu, juga terjadi tindak pidana korupsi yang melibatkan oknum kepala cabang, berinisial EP dengan kerugian puluhan miliar.
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Gorontalo menjatuhi hukuman 10 tahun penjara terhadap EP, serta satu tersangka lainnya, RM divonis 6 tahun oleh hakim. (kif)













Discussion about this post