SUASANA Meriah pasar malam Hoya-Hoya di Taman Isimu, Kabupaten Gorontalo, Selasa 14 April, menghadirkan berbagai hiburan bagi masyarakat. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah atraksi motor di wahana Tong Setan, sebuah pertunjukan ekstrem dimana pengendara memacu motor di dinding silinder secara berputar.
Di balik aksi menegangkan tersebut, terdapat kisah perjuangan seorang perempuan bernama Aulia Lahiya (19). Ia mengaku awalnya tidak langsung menjadi pemain atraksi motor, melainkan memulai pekerjaannya sebagai penjaga karcis. “Saya awalnya kerja sebagai SPG (sales promotion girls), penjaga karcis. Terus saya lihat dan tertarik belajar,” ungkap Aulia saat ditemui di lokasi.
Ketertarikannya pada atraksi tersebut mendorongnya untuk belajar secara langsung dari para pemain yang sudah berpengalaman. Meski sempat mengalami beberapa kali jatuh saat latihan, Aulia tidak menyerah hingga akhirnya mampu menguasai teknik berkendara di wahana tersebut. “Satu kali jatuh, dua kali jatuh, tiga kali jatuh. Yang keempat baru bisa,” katanya.
Seiring waktu, kemampuannya mulai dikenal dan ia pun diajak bergabung oleh pengelola wahana di berbagai daerah, seperti Masama, Bunta, hingga Ampana, sebelum akhirnya bekerja di Gorontalo dengan penghasilan yang dinilai cukup.
Dalam sehari, penghasilan dari atraksi bisa mencapai satu hingga dua juta rupiah yang kemudian dibagi bersama tim. Selain itu, ia juga menerima gaji bulanan sekitar Rp3.500.000 serta uang makan harian.
Meski pekerjaan tersebut penuh risiko, Aulia memiliki alasan kuat untuk tetap bertahan. Ia mengaku merantau demi membantu perekonomian keluarga, terutama untuk mendukung pendidikan adik-adiknya. “Saya ke sini karena ingin membantu ekonomi keluarga. Daripada di kampung tidak ada kerja dan jadi beban keluarga,” ujarnya.
Kisah Aulia menjadi gambaran nyata tentang perjuangan anak muda dalam menghadapi keterbatasan ekonomi, sekaligus menunjukkan keberanian dalam menekuni pekerjaan berisiko demi masa depan keluarga. (Mg-05)













Discussion about this post