logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Birokrasi Berwajah Dua

Lukman Husain by Lukman Husain
Friday, 20 June 2025
in Persepsi
0
Hamka Hendra Noer

Hamka Hendra Noer

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Gerakan Ekonomi Syarikat Islam: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Adat Dijunjung, Tanah Adat Terlupakan: Gugatan dari Bumi Hulondalo

Bangsa Baliho di Negeri Sengketa  

Meremehkan Pendidikan Dalam Kepemimpinan dan Matinya Nalar

Oleh :
Hamka Hendra Noer

DALAM dinamika politik Indonesia, birokrasi sering dipersepsikan sebagai institusi berwajah dua. Di satusisi, diidealkan sebagai mesin administratif yang netral, profesional, dan melayani kepentingan publik. Namun di sisi lain, birokrasi juga sering menjadi instrument kekuasaan yang tunduk pada elite politik dan rawan disalahgunakan untuk kepentingan tertentu.

Masalah ini semakin pelik ketika birokrasi tidak hanya menjadi korban politisasi, tetapi juga ikut melanggengkan kekuasaan. Banyak pejabat birokrasi berwajah dua. Tampil profesional di depan publik, namun menjalankan fungsi politik di balik layar. Birokrasi terlibat dalam praktik manipulatif administratif, hingga intervensi kebijakan strategis.

Untuk mengatasi persoalan ini, reformasi birokrasi harus menyentuh aspek structural dan kultural sekaligus. Perlu sistem meritokrasi yang kuat serta pembentukan budaya kerja berorientasi kepentingan publik. Tanpa itu, birokrasi akan terus beroperasi dengan dua wajah—melayani rakyat secara formal, namun memperkuat kekuasaan secara laten.

WAJAH PELAYANAN PUBLIK

Secara ideal, birokrasi adalah tulang punggung negara dalam menyediakan pelayanan publik yang adil, efisien, dan merata. Dalam sistem demokrasi modern, pelayanan publik merupakan manifestasi kehadiran negara di tengah masyarakat, mulai dari layanan administrasi sipil, pendidikan, kesehatan, hingga perizinan usaha.

Namun di Indonesia, birokrasi sering kali gagal menjalankan fungsi ideal ini secara optimal. Ketika pelayanan seharusnya bersifat responsif dan inklusif, kenyataannya masyarakat menghadapi prosedur yang berbelit, waktu tunggu panjang, dan perilaku diskriminatif aparatur negara. Hal ini mencerminkan adanya jarak yang lebar antara regulasi yang dirancang dengan implementasi di lapangan.

Birokrasi masih dihantui oleh warisan feodalisme administratif yang membuat hubungan antara birokrat dan masyarakat cenderung vertikal. Ketimpangan ini menghasilkan pola pelayanan yang tidak partisipatif, bahkan cenderung transaksional. Berdasarkan survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yang dirilis KemenPAN-RB, banyak instansi pemerintah daerah masih mendapatkan nilai “cukup” atau bahkan “kurang” dalam hal transparansi prosedur, kepastian waktu layanan, serta kejelasan biaya. Di balik ini semua, terletak persoalan mendasar, lemahnya akuntabilitas birokrasi.

Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan negara-negara Skandinavia seperti; Denmark dan Swedia, yang konsisten menduduki peringkat teratas dalam Indeks Persepsi Pelayanan Publik. Kedua negara ini, menjalankan prinsip citizen-oriented governance secara konsisten.

Warga diberihak untuk mengakses informasi layanan secara digital, mengajukan complain dengan mekanisme cepat, serta menilai kinerja aparatur melalui plat form terbuka. Menurut Christensen dan Laegreid (2007), keberhasilan pelayanan publik di Skandinavia berakar pada profesionalisme ASN, integritas sistem, dan kepercayaan publik yang tinggi terhadap pemerintah.

Sebaliknya, di Indonesia, reformasi birokrasi sering berhenti pada tataran structural dan teknokratis, tanpa menyentuh aspek kultural. Banyak ASN bekerja berdasarkan loyalitas politik, bukan kompetensi. Bahkan, mutasi dan promosi jabatan dikendalikan oleh kepala daerah atau elite politik, bukan oleh system meritokrasi yang objektif. Ini menyebabkan banyak birokrat yang tidak memiliki insentif untuk melayani secara profesional, karena orientasi kerja banyak ditentukan oleh loyalitas dan kelanggengan jabatan.

Pelayanan publik yang buruk bukan sekadar soal keluhan sehari-hari masyarakat, tapi merupakan masalah demokrasi. Ketika birokrasi gagal melayani, kepercayaan publik terhadap negara ikut tergerus. Oleh karena itu, membenahi wajah birokrasi sebagai pelayan publik tidak cukup dengan pelatihan atau aplikasi digital, tetapi harus dibarengi reformasi budaya kerja dan penegakan etika pelayanan. Negara perlu mendorong ASN sebagai aktor perubahan, bukan hanya operator sistem. Sebab, pelayanan publik yang berkualitas adalah wajah sejati birokrasi yang profesional.

WAJAH ALAT KEKUASAAN

Sisi gelap birokrasi adalah perannya sebagai instrument kekuasaan politik. Dalam praktik politik, birokrasi tidak hanya menjadi pelaksana kebijakan, tetapi juga alat bagi elit politik untuk mempertahankan, memperluas, bahkan mereproduksi kekuasaan. Posisi strategis dalam struktur birokrasi, khususnya di tingkat daerah, sering dijadikan alat tawar-menawar dalam dinamika politik elektoral. Fenomena ini menciptakan birokrasi yang “terkooptasi,” bukan netral secara institusional, dan menjauh dari prinsip civil service neutrality yang menjadi standard demokrasi modern.

Hal ini tampak jelas dalam siklus lima tahunan pemilihan kepala daerah. Banyak kepala daerah mengganti pejabat birokrasi atas dasar loyalitas politik ketimbang kompetensi. Menurut laporan KASN (2023), sejak Pilkada langsung diberlakukan, terdapat ribuan kasus pelanggaran netralitas ASN—mulai dari keterlibatan aktif dalam kampanye hingga penggalangan suara untuk petahana. Dalam pandangan Hadiz (2010), hal ini adalah cerminan dari oligarki politik Indonesia, dimana elite ekonomi dan politik menggunakan birokrasi sebagai instrument distribusi patronase.

Sebagai perbandingan, Singapura menunjukkan arah sebaliknya. Birokrasi di negara kota tersebut dikenal sangat professional dan tahan terhadap intervensi politik. Melalui sistem rekrutmen berbasis kompetensi dan pengawasan anti korupsi yang ketat oleh CPIB (Corrupt Practices Investigation Bureau), Singapura berhasil menjaga netralitas birokrasi sekaligus meningkatkan efisiensi pelayanan. Merujuk Quah (2010), keberhasilan ini tak lepas dari konsistensi pemerintah dalam menegakkan meritokrasi dan membangun budaya pelayanan publik berbasis integritas.

Sementara, di Indonesia, birokrasi sering diperalat untuk mempertahankan dominasi kekuasaan lokal, seperti dalam kasus dinasti politik di sejumlah daerah. Aparat birokrasi semestinya menjadi penyeimbang, justru menjadi alat kekuasaan dinasti. Bahkan, membantu proses mobilisasi sumber daya, mengamankan suara pemilih,  dan turut serta memanipulasi kebijakan menguntungkan rezim berkuasa. Fenomena ini memperkuat logika politik transaksional dan memperlemah kapasitas negara dalam menjalankan tata kelola yang bersih dan demokratis.

Untuk memutus lingkaran ini, perlu ada upaya sistemik dalam menjamin otonomi birokrasi dari intervensi politik. Tidak cukup hanya dengan regulasi netralitas ASN. Justeru, dibutuhkan sistem akuntabilitas publik yang kuat, perlindungan hokum bagi whistle blower birokrasi, serta mekanis mepromosi yang transparan. Artinya, demokrasi yang sehat membutuhkan birokrasi yang otonom—bukan birokrasi yang menjadi perpanjangan tangan kekuasaan politik. Jika tidak, birokrasi akan terus berwajah ganda dengan menyembunyikan dominasi elite di balik jargon pelayanan.

Fenomena birokrasi berwajah dua mencerminkan kegagalan structural dalam memisahkan fungsi administrative negara dari kepentingan politik kekuasaan. Ketika birokrasi dijadikan alat distribusi patronase oleh elite, maka prinsip netralitas dan pelayanan publik terdistorsi. Ini menunjukkan bahwa problem birokrasi bersifat sistemik dan erat kaitannya dengan desain kekuasaan itu sendiri.

Jadi, kualitas demokrasi sangat bergantung pada kapasitas institusi negara. Karena itu, reformasi birokrasi harus dilakukan secara komprehensif—mencakup meritokrasi, integritas kelembagaan, dan pembatasan intervensi politik. Dengan begitu, birokrasi benar-benar menjadi penopang demokrasi, bukan sekadar perpanjangan tangan elite penguasa. (*)

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik, FISIP,
Universitas Muhammadiyah Jakarta

Tags: Hamka Hendra NoerHarian PersepsipersepsiTulisan Hamka Hendra Noertulisan persepsi

Related Posts

Gerakan Ekonomi Syarikat Islam: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Gerakan Ekonomi Syarikat Islam: Jalan Menuju Kemerdekaan Sejati

Wednesday, 21 October 2026
Adat Dijunjung, Tanah Adat Terlupakan: Gugatan dari Bumi Hulondalo

Adat Dijunjung, Tanah Adat Terlupakan: Gugatan dari Bumi Hulondalo

Monday, 19 October 2026
Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Meremehkan Pendidikan Dalam Kepemimpinan dan Matinya Nalar

Monday, 19 October 2026
Basri Amin

Bangsa Baliho di Negeri Sengketa  

Monday, 19 October 2026
In Memoriam Rachmat Gobel dan Jalan Pulang yang Istimewa

100 Hari Mengenang Rachmat Gobel: Politik sebagai Jalan Pengabdian

Sunday, 18 October 2026
Menagih Peran Keluarga: Benteng Utama Pencegahan Perkawinan Anak di Gorontalo Utara?

Menagih Peran Keluarga: Benteng Utama Pencegahan Perkawinan Anak di Gorontalo Utara?

Friday, 16 October 2026
Next Post
Dr. I. Brandes, S.Pd.I, M.Si, M.M, M.K.M, CPHR, CBA, CPM, C.PS, C.GMC, CTMP, C.HL, C.MTr, dipercaya menjadi komandan upacara pembukaan Kejuaraan Nasional Beladiri Kurash, yang dihadiri oleh Gubernur Kaltim.

Beladiri Kurash, Iptu Brandes Jadi Wasit Pertama Berlisensi Tertinggi

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Kekerasan di SMAN 1 Gorontalo, 21 Siswa Terlibat, Pelaku Diskorsing, Korban Lapor Polisi

Kekerasan di SMAN 1 Gorontalo, 21 Siswa Terlibat, Pelaku Diskorsing, Korban Lapor Polisi

Wednesday, 21 October 2026
Inovasi Pemkot dan BTN: Kartu AIR Belajar Pantau Kehadiran dan Dorong Budaya Menabung

Gubernur Minta Klarifikasi Soal Demo ASN, Adhan: Saya Bukan Bawahannya

Wednesday, 21 October 2026
Citilink Bidik Kembali Rute Gorontalo

Citilink Bidik Kembali Rute Gorontalo

Wednesday, 21 October 2026
Hebat! dr. Khairunnisa Farina Ilato, Nou Gorontalo Tampil pada Forum Neuroradiologi Dunia

Hebat! dr. Khairunnisa Farina Ilato, Nou Gorontalo Tampil pada Forum Neuroradiologi Dunia

Monday, 19 October 2026

Pos Populer

  • Hebat! dr. Khairunnisa Farina Ilato, Nou Gorontalo Tampil pada Forum Neuroradiologi Dunia

    Hebat! dr. Khairunnisa Farina Ilato, Nou Gorontalo Tampil pada Forum Neuroradiologi Dunia

    73 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Meremehkan Pendidikan Dalam Kepemimpinan dan Matinya Nalar

    48 shares
    Share 19 Tweet 12
  • Direktur Reskrimum Polda Gorontalo Diganti

    57 shares
    Share 23 Tweet 14
  • Ribuan Massa Geruduk Polda, Desak Penghentian Dugaan Kriminalisasi Adhan Dambea

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Gorontalo KLB Malaria, Tembus 6.299 Kasus, 18 Meninggal

    40 shares
    Share 16 Tweet 10
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.