logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Politik Hijau

Lukman Husain by Lukman Husain
Sunday, 15 June 2025
in Persepsi
0
Hamka Hendra Noer

Hamka Hendra Noer

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Kalender “Literasi” Gorontalo 

Politik dan Produksi Elite Muda Gorontalo

Kalkulasi Murah Karhutla, Biaya Mahal Paru-Paru Warga

Sinergi Daerah Kunci Stabilitas Harga Pangan

oleh :
Hamka Hendra Noer

 

Indonesia adalah rumah bagi sekitar 17% spesies dunia, namun ironi terbesar dengan kekayaan ekologis luar biasa justru menghadapi ancaman lingkungan serius. Di balik narasi pembangunan berkelanjutan, praktik di lapangan menunjukkan bahwa ekosistem kerap menjadi korban utama dari proyek-proyek strategis yang didorong oleh Negara dan korporasi.

Krisis iklim kini bukan lagi sekadar ancaman ekologis, tetapi juga krisis politik yang menguji arah kekuasaan global. Cuaca ekstrem, banjir tahunan, hingga polusi udara yang kian memburuk menandakan bahwa kegagalan dalam menjaga lingkungan bukan hanya kelalaian teknis, melainkan buah dari pilihan politik yang mengabaikan keberlanjutan.

Selama ini, persoalan lingkungan kerap diposisikan dalam ranah ilmiah atau administratif, seolah cukup diselesaikan melalui teknologi atau regulasi teknokratik. Padahal, kehancuran ekologi tidak lepas dari struktur kekuasaan yang eksploitatif dan bias pertumbuhan ekonomi. Siapa yang menentukan arah pembangunan, dialah yang menentukan nasib bumi.

KRISIS IKLIM

Duakasus yang menyentaknuraniekologis,kerusakanlingkungan di Rempang, Kepulauan Riau, dan Raja Ampat, Papua Barat. Keduawilayahinimenjadimedantarik-menarikantarakepentinganekologis, hakmasyarakatadat, danambisiekonomi-politiknegara.

Rempang menjadi saksi nyata bagaimana kekuasaan yang dikuasai oleh logika investasi sering kali abai terhadap prinsip keadilan ekologis dan hak asasi komunitas lokal. Pemerintah pusat menetapkan proyek Rempang Eco-City sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional dengan menggandeng investor asing. Namun proyek ini ditentang oleh masyarakat adat Melayu yang telah mendiami wilayah tersebut secara turun-temurun.

Masyarakat dihadapkan pada intimidasi, kriminalisasi, dan penggusuran paksa yang memperlihatkan wajah keras pembangunan. Dalam laporan WALHI (2023), proyek ini dinilai mengancam hutan lindung, kawasan tangkapan air, dan keberlangsungan hidup masyarakat. Hal ini menguatkan tesis Harvey (2004) tentang accumulation by dispossession, bahwa kapitalisme global kerap tumbuh dengan cara merampas ruang hidup komunitas rentan demi akumulasi modal.

Sementara, Raja Ampat yang dikenal sebagai “Amazon-nya laut” sedang digerus oleh ekspansi tambang nikel. Aktivitas pertambangan tidak hanya membuka hutan primer dan mencemari pesisir, tetapi juga menggusur hak hidup masyarakat adat. Meski akhirnya, Presiden Prabowo memutuskan mencabut IUP saat rapat terbatas (ratas) di kediamannya Hambalang, Bogor (Kompas, 9/6/2025).

Ironisnya, semuainidilakukanatasnama “transisienergihijau” karenanikeldianggapsebagai mineral strategisuntukbateraikendaraanlistrik. Padahal, riset WALHI (2023) dan JATAM mencatatbahwalimbah tailing tambangnikeltelahmerusakterumbukarang, meracuniperairan, danmematikankeanekaragamanhayatilaut Raja Ampat.

Keduakasusinimerefleksikankegagalannegaradalammenerapkanprinsip green governance—sebuah tata kelolapemerintahan yang mengintegrasikan nilai-nila iekologis ke dalam proses politik dan pengambilan kebijakan. Menurut Dobson (2007), politik hijau tidak boleh hanya menjadi kosmetik dalam kampanye pembangunan, melainkan harus menjadi paradigm utama dalam membingkai arah kebijakan negara. Artinya, politik hijau harus memprioritaskan keberlanjutan ekologis, menjaminhak-hak masyarakat adat atas tanah dan sumber daya, serta menolak model pembangunan yang bersifat eksploitatif.

Persoalan yang dihadapi Rempang dan Raja Ampat memperlihatkan lemahnya demokrasi lingkungan di Indonesia. Partisipasi masyarakat seringkali dibatasi, konsultasi publik dilakukan secara procedural tanpa substansi, dan suara komunitas adat dianggap sebagai hambatan pembangunan. Dalam perspektif politik kritis, mencerminkan adanya ecological authoritarianism, Negara menggunakan otoritasnya untuk menjustifikasi penguasaan ruang hidup rakyat demi kepentingan modal. Model seperti ini jelas bertentangan dengan prinsip demokrasi substantif yang menuntut keterlibatan aktif warga Negara dalam proses pembangunan.

Namun di tengah gelapnya ancaman ekologis, masih ada secercah harapan. Perlawanan warga Rempangdan Raja Ampat yang bersatulintas agama, generasi, danprofesi menunjukkan bahwa demokrasi akar rumput masih hidup. Gerakan masyarakat sipil, akademisi, dan organisasi lingkungan terus memperjuangkan environmental justice yang sejati.

Bahkan dalam konteks internasional, pendekatan environmental democracy telah menjadi arus utama dalam penyusunan kebijakan lingkungan—hak masyarakat untuk mengakses informasi, terlibat dalam pengambilan keputusan, dan memperoleh keadilan hokum dalam isu lingkungan (UNEP, 2010).

Politik hijau di Indonesia harus dibangun di atas prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dan keadilan ekologis. Negara perlu mengadopsi pendekatan bioregionalism dalam perencanaan tata ruang, untuk menjadikan batas-batas ekologis sebagai dasar pengambilan keputusan, bukan sekadar pertimbangan administratif atau ekonomi.

ISU EKOLOGIS

Isu lingkungan selama ini kerap direduksi menjadi persoalan teknis, saintifik, atau tanggungjawab moral individu. Namun krisis iklim, degradasi lingkungan, dan hilangnya keanekaragaman hayati menunjukkan bahwa persoalan ekologis sejatinya bersifat struktural. Laporan IPBES Global Assessment (2019), mencatat bahwa lebih dari satu juta spesies terancam punah akibat aktivitas manusia yang didorong oleh kepentingan ekonomi-politik jangka pendek. Lingkungan dalam konteks ini, bukanlah ruang netral, melainkan medan konflik dan kontestasi kekuasaan.

Dalam kerangka itu, politik hijau hadir sebagai respons atas kegagalan pendekatan konvensional yang terlalu teknokratik. Dobson dalam Green Political Thought (2000), menolak narasi bahwa krisis lingkungan terjadi karena ketidaktahuan atau kurangnya teknologi. Menurutnya, kehancuran ekologis adalah hasil langsung dari sistem pembangunan yang menjadikan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama, bahkan dengan mengorbankan keberlanjutan ekologis.

Senada dengan Dobson, Eckersley (2004) turut mengkritik negara modern sebagai entitas yang ecologically pathological. Negara kerap memproduksi hokum dan kebijakan yang melindungi kepentingan capital dari pada menjaga integritas ekologis. Ini terlihat nyata dari data laporan kinerja Kementerian Lingkungan Hidupdan Kehutanan (2023), lebih dari 148.000 hektare hutan hilang akibat alih fungsi lahan untuk industry dan pembangunan infrastruktur.

Jika kebijakan hijau sekadar ditempelkan pada sistem ekonomi lama yang eksploitatif, maka yang terjadi hanyalah “kosmetika hijau.” Retorika pelestarian justru berisiko memperdalam ilusi bahwa system destruktif yang ada dapat diperbaiki dari dalam, tanpa menyentuh akar persoalan struktural.

Oleh itu, pendidikan politik dan literasi lingkungan harus menjadi agenda utama. Masyarakat perlu disadarkan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas aktivis, tetapi bagian dari tanggungjawab kolektif sebagai warga negara. Pembangunan berkelanjutan harus dimaknai secara holistik, bukan sekadar pembangunan yang “berwajah hijau”, melainkan yang secara nyata melestarikan alam dan memperkuat keadilan sosial.

Jika politik hijau tidak segera dijadikan arus utama, maka Indonesia akan terus terjebak dalam siklus destruktif antara eksploitasi sumber daya dan krisis ekologis. Pembangunan sejati adalah memperluas kebebasan manusia, termasuk kebebasan untuk hidup dalam lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.  Maka, tugas kita saat ini bukan sekadar menyelamatkan Rempang atau Raja Ampat, tetapi menyelamatkan masa depan bangsa dari kehancuran ekologis yang disebabkan oleh pilihan politik yang keliru. (*)

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik, FISIP, Universitas Muhammadiyah Jakarta

Tags: Catatan Bang HamkaHamka Hendra NoerKrisis Iklimmasyarakat adatNikelPolitik HijauRaja AmpatRempangUniversitas Muhammadiyah Jakarta

Related Posts

Basri Amin

Kalender “Literasi” Gorontalo 

Monday, 2 November 2026
Funco Talipu

Politik dan Produksi Elite Muda Gorontalo

Friday, 30 October 2026
Muhammad Firdaus AF

Sinergi Daerah Kunci Stabilitas Harga Pangan

Wednesday, 28 October 2026
Kalkulasi Murah Karhutla, Biaya Mahal Paru-Paru Warga

Kalkulasi Murah Karhutla, Biaya Mahal Paru-Paru Warga

Wednesday, 28 October 2026
Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Vietnam Melompat ke Depan, Indonesia Melompat di Tempat

Tuesday, 27 October 2026
Muchlis Huntua

Santri Merawat Tradisi, Gorontalo Membangun dengan Hati

Monday, 26 October 2026
Next Post
Penampilan Maia Bikin Pangling, Mulan Jameela Menghindar dari Wartawan

Penampilan Maia Bikin Pangling, Mulan Jameela Menghindar dari Wartawan

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Basri Amin

Kalender “Literasi” Gorontalo 

Monday, 2 November 2026
Buron Kasus SPBE Boalemo Diciduk di Jakarta

Buron Kasus SPBE Boalemo Diciduk di Jakarta

Monday, 2 November 2026
Wakil Ketua Deprov Gorontalo Sofyan Puhi menghadiri kegiatan bakti sosial terkait hari Bhyangkara ke-78 di Desa Pentadio Barat, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, Selasa (25/06).

Bakti Sosial Terkait HUT Bhayangkara ke-78

Wednesday, 26 June 2024
Webinar Literasi Budaya untuk Mutu Pendidikan

Webinar Literasi Budaya untuk Mutu Pendidikan

Tuesday, 5 April 2022

Pos Populer

  • Basri Amin

    Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

    98 shares
    Share 39 Tweet 25
  • Penambang Ilegal Saripi Tebar Teror, Rusak Fasilitas Pabrik Gula, Karyawan Resah dan Ketakutan

    62 shares
    Share 25 Tweet 16
  • Vietnam Melompat ke Depan, Indonesia Melompat di Tempat

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
  • PETI Makin Merajalela, Kerusakan Lingkungan di Saripi Kian Parah

    54 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Enam Bulan Buron, Oknum Notaris Ditangkap di Jakarta

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.