logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Jakarta dan Dosa Kita Semua

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 23 December 2024
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin

 

DALAM novelnya, Dosa Kita Semua, sastrawan Motinggo Busye (1937—1999), memantulkan citra dan cita-cita Jakarta, sebagai sebuah kota besar, dengan jiwa yang paradoks. Jakarta adalah “kota keras,” demikian kata Busye.

“Di Jakarta, di mana orang bukan saja berkelahi dengan debu dan bus atau bemo atau manusia-manusia yang lunak bagai agar-agar atau rakus bagai serigala, tetapi juga ia akan berhadapan langsung dengan gelintiran yang lain yang mandi di air kali yang coklat atau tidur di bawah jembatan, atau, mendengar nafas tukang becak yang merintih mendorong becak dengan dua kakinya!”

Related Post

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Profesi-Profesi Hebat

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Sepertinya, ini adalah Jakarta di tahun 1960-an dan masih berlanjut di era 70-an. Selanjutnya, ada hal lain yang berhasil dikunyah narasinya oleh Busye tentang “zaman” yang melilit Jakarta di zamannya. Sejak itulah pula Jakarta berubah tolok ukurnya atau menjadi simpul pengukuran bagi sebuah zaman yang berubah besar di banyak tempat di negeri ini.

Dengan tajam ia menjiwai bahwa “Abad ini telah ditandai dengan ciri perburuannya bagai orang memburu serigala di tengah rimba yang ramai dengan binatang-binatang buas…manusia berkejar-kejaran dengan waktu, sehingga banyak yang tidak punya waktu lagi untuk menoleh ke belakang atau melihat jauh ke depan…”

SEBELUM Jakarta berubah menjadi Batavia di masa okupasi awal Belanda tahun 1619 –-melalui tangan J.P.Coen–, wilayah ini tidak lebih berposisi sebagai pembayar upeti di wilayah Banten. Tetapi tak lama kemudian berubah menjadi pangkalan besar bagi perkapalan Kongsi Dagang Hindia Belanda (VOC). Sejak itu, Mataram tidak lagi menjadi simbol pusat politik di Jawa. Kekuasaan Jayakarta yang sekian lama di bawah pengaruh Banten kemudian dihancurkan Belanda, termasuk permukiman pribumi. Mereka datang dengan “konsep Belanda”.

Ketika masih dengan nama Batavia, kota ini pernah sangat dipuji. Penulis klasik bernama Valentijn tahun 1726 menyanjungnya karena “keindahan bangunannya, kanal-kanal yang teduh, jalan-jalan yang lurus, banyak pasar dan perdagangannya bergairah”. Sayang sekali, tak lama setelah itu, keadaan memburuk karena pencemaran air dan penyakit endemis.

Serangan malaria mematikan warga Batavia dalam jumlah yang sangat memilukan. Itulah yang terjadi pada tahun 1733. Tercatat lebih 85 ribu jiwa hilang karena malaria (Nas & Grijns, 2007; Van Der Brug, 2007). Pada masa ini, Batavia sejajar jumlah penduduknya dengan kota-kota besar di dunia, seperti Madrid, Roma dan Amsterdam. Batavia menjadi kota yang “mati karena Malaria”.

Ketika Batavia atau Jakarta mulai berkembang pesat, ribuan petani dan pekerja Cina merupakan tulang punggungnya. Ia menjadi kota pelabuhan besar (baca: kota bandar) dan dari sanalah kosmopolitanisme Jakarta terbentuk, dengan bebas dan kohesif. Pendudukanya, selain yang berlatar Jawa, Sunda, Betawi, juga terdiri dari Belanda, China, Arab, Bali, Makassar, dst. Masyarakat urban Batavia tumbuh sebagai “masyarakat plural yang berdasarkan ketidaksederajatan etnis dan agama, tetapi dalam batas-batas tata krama pada masa itu…”(Blusse, 2007:31).

Menurut Blusse, dalam percaturan yang cukup lama, Batavia berkembang dengan pengaturan kolonial melalui beragam cara (ritual kewargaan, cara berpakaian dan kewajiban menciptakan masyarakat majemuk). Dari sinilah bentuk-bentuk diplomasi berjalan intensif dan terkelola dengan kecermatan tinggi. Tapi goncangan-goncangan sosial tentulah setiap saat terjadi. Bagaimanapun, kelompok etnis sudah eksis sejak awal, terutama Betawi, China, Arab dan Belanda, dan pasti terdapat beragam persaingan dan bentuk-bentuk kerjasama atau kompromi. Di masa kolonial, pemerintah VOC bahkan menempatkan China sebagai warganya yang setia (Nas & Grijns, 2007).

Komunitas China adalah kelompok yang mempunyai jejak panjang dalam pertumbuhan Batavia sejak awal. Dalam jaringan perdagangan di Asia, bisa dikatakan bahwa hampir semua rantai perdagangan, buruh dan petani tak bisa lepas dari jaringan China. Tercatat misalnya, bagaimana sebuah surat diplomatik orang China kepada Gubernur jenderal di Batavia, dengan kata-kata yang unik: “Wahai Baginda Panguasa Pa, yang menjamin hukum dan ketertiban di silang perdagangan laksana as menyatukan semua jari-jari roda!” (Blusse, 1996 [1997]).

Tidak begitu sulit membayangkan bagaimana sejumlah kompromi dan pengaturan yang otoritatif terbentuk sebagai sebuah keharusan. Hanya melalui mekanisme itulah keragaman sosial tidak berubah menjadi prahara dan pada saat yang sama keseimbangan penghidupan bisa berjalan langgeng. Inilah perkara abadi bagi sebuah kota besar yang majemuk, dengan warisan penguasaan ruang, legitimasi sejarah dan jaringan politik yang luas.

Warisan kolonial seolah menegaskan karakter yang tunggal menyangkut kekuasaan. Dikatakan bahwa “kebesaran seorang penguasa diukur berdasarkan jumlah kapal yang merapat di bandarnya dan jumlah arak-arakan utusan yang berkerumun di gerbang istananya…”. Diktum seperti ini, rasa-rasanya masih dianut hingga kini oleh penguasa-penguasa kita. Kelas-kelas sosial dibentuk sedemikian riuh, ritual-ritual yang membagi manusia berdasarkan kasta-kasta posisi, penampakan (citra) uangnya dan asesori hidupnya sepertinya semakin terlembagakan. Di banyak situasi, kita memperlakukan orang berdasarkan kasta sosialnya.

Keseimbangan peran dan kepemimpinan yang kuat yang dilandasi oleh pengaturan yang ketat adalah “warisan positif” periode kolonial Batavia. Tak heran kalau sekian lama dikenal kepemimpinan berbasis komunitas, antara lain dengan sebutan Kapten Melayu, demikian juga dengan Kapten Arab, China, dll.

Meski demikian, sudah tentu tetaplah terjadi konflik dan peristiwa-peristiwa yang bersifat adu-kekuatan. Ketika arus perdagangan di Asia berlangsung luas, komunitas China terkenal karena perannya sebagai “perantara dalam pergaulan diplomatik”. Mereka bahkan menulis banyak peristiwa dalam tarikh China Batavia, Kai Pa Li-tai shih-chi (Medhurst 1840).

Jakarta “belum tuntas” identitasnya hingga kini. Lihatlah bagaimana partikularitas etnis Betawi dalam lanskap megapolitan Jakarta; demikian juga dengan persepsi-persepsi yang terus berubah tentang Islam, Hadrami, Tionghoa, Batak, Jawa, dst.***

 

 

Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu;
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminHarian Persepsipersepsispektrum sosialtulisan basri amintulisan persepsi

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Saturday, 11 April 2026
Basri Amin

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Monday, 6 April 2026

Mengulik Variabel Identitas, Norma, dan Reproduksi Permusuhan Pada Konflik Iran-Israel-Amerika Serikat

Thursday, 2 April 2026
Yusran Lapananda

Kemandirian Fiskal Daerah Sebuah Keharusan

Thursday, 2 April 2026
Next Post
Konferensi Pers PT Pertamina Patra Niaga Sulawesi, terkait kelancaran distribusi BBM dan LPG selama Nataru di wilayah sulawesi, berlangsung di Bitung, Kamis (19/12). (foto : dok / pertamina)

Pertamina Pastikan Kelancaran Distribusi BBM-LPG, Kebutuhan Gasoline Diprediksi Naik 7,8 Persen

Rekomendasi

Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

Thursday, 16 April 2026
Pelaksanaan Apel Ikrar Bebas Narkoba dan Handphone yang dilaksanakan dan diikuti oleh seluruh pegawai dilingkungan Lapas Perempuan Kelas III Gorontalo, Jum'at (17/4/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

Lapas Perempuan Gorontalo Gelar Apel Ikrar, Tegaskan Komitmen Bebas Narkoba dan Handphone ilegal

Friday, 17 April 2026
Oknum Kades di Pohuwato saat diperiksa sebagai tersangka, dan dilakukan penahanan terkait dengan dugaan aktivitas PETI. (foto: istimewa)

Jadi Bos PETI Oknum Kades Dibui, Kerahkan Eskavator Keruk Material Tambang di Sungai Alamutu

Wednesday, 15 April 2026
Tersangka dugaan penganiayaan ibu kadung diborgol polisi.

Miris, Anak Sayat Ibu Kandung Hingga Berdarah

Friday, 17 April 2026

Pos Populer

  • Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

    Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    144 shares
    Share 58 Tweet 36
  • Profesi-Profesi Hebat

    126 shares
    Share 50 Tweet 32
  • Putra Gorontalo Calon Wali Kota Jaksel

    90 shares
    Share 36 Tweet 23
  • Jadi Bos PETI Oknum Kades Dibui, Kerahkan Eskavator Keruk Material Tambang di Sungai Alamutu

    53 shares
    Share 21 Tweet 13
  • Oknum Pegawai BSG Bobol Brankas, Kerugian Rp 13,1 Miliar, Termasuk Kuras Rekening Dormant

    50 shares
    Share 20 Tweet 13
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.