logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Baliho Sang “Aku” di Ruang Publik

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 3 June 2024
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin
Parner di Voice-of-HaleHepu

 

TERKESAN, baliho begitu banyak se-enaknya saja di pasang di mana-mana! Ini gejala apa? Krisis diri atau institusi yang obsesif dari periode ke periode? Atau, karena hendak menebarkan tradisi boros uang di mana-mana…

Menurut KBBI (2024), baliho adalah “publikasi yang berlebih-lebihan ukurannya agar menarik perhatian masyarakat (biasanya dengan gambar yang besar di tempat-tempat ramai)”.  Meski tak begitu sepenuhnya terang apa yang dimaksud “berlebihan” menurut kamus Bahasa Indonesia kita ini, tetapi kita sudah punya pengertian sendiri tentangnya.

Related Post

Sintesis Tradisi dan Disrupsi: Peran Strategis Pemuda Gorontalo dalam Inovasi Estetika Karawo Kontemporer

Melampaui Polemik Rumah Jawatan Kantor Pos

Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Mengukur Sisa Waktu Kepala Daerah

Sejak Pemilu 2004, gempuran baliho di ruang publik semakin meluas. Anggaran untuk baliho dan publikasi demikian membesar –-dan bisa jadi tak terkontrol benar– di banyak institusi.

Pejabat-pejabat publik kita juga sepertinya semakin asyik dengan “propaganda” di ruang publik.

Apakah ini sehat dan mencerdaskan kemajuan kita? Mari kita percakapkan!

Bisa jadi, baliho yang melebar ke mana-mana itu adalah pertanda bahwa negeri kita tengah dipimpin, atau hendak dikuasai nalarnya, oleh mereka yang hobi “puji-diri” dan diam-diam mengalami krisis aktualisasi diri karena kerja-karyanya tak begitu handal “diuji/terbukti” di alam nyata, secara terbuka dan jujur.

Mereka berharap mobilisasi perhatian, dukungan, kesan-kesan, dan penggalangan luas bisa berdampak (bagi) posisi dan perannya. Di sisi lain, bisa jadi pula tingkat kecermatan dan sikap-sadar publik kita belum berkembang memadai indeks kritis-nya sehingga harus digempur oleh “tekanan visual” dan “kata-kata besar” oleh mereka yang merasa “besar” (dilihat) di baliho, flyer, dst dan merasa “berhak” (didengar/ditonton) di media, dst.

Otoritas (pengawas dan pemeriksa) keuangan negara sudah seharusnya memberi perhatian kepada proporsi anggaran publik yang dipakai secara berlebihan untuk kepentingan publikasi, sosialisasi, dst. Ini berlaku kepada lembaga publik yang menggunakan sumberdaya negara.

Baliho yang berlebihan (ukuran, penempatan, frekuensi, dst) adalah penanda pemborosan uang publik secara sepihak. Tak begitu jelas di mana kepentingan publik dan yang mana kepentingan pribadi di sana!

Karena hampir semuanya tampak berpusat kepada “Sang Aku!”

Mekanisme, frekuensi, penempatan lokasional, dan parameter manfaat baliho sangat kabur: di mana sosialisasi, yang mana kampanye diri-sendiri (karena jabatan dan citra diri), dan yang mana demi “mendidik publik” untuk satu tema besar dan demi kepentingan bersama. Tak jelas seluruhnya!

Anggaran publik dengan mudah terkerahkan dan dieksploitasi sedemikian rupa untuk baliho yang berpusat kepada individu, Sang Aku!

Baliho! Itulah kata yang saya pulung hari-hari ini dan kini membawanya kembali sebagai bahan obrolan yang lebih terang dan jernih oleh kita semua. Saya tanya kepada staf khusus saya, rupanya harga baliho dan pemasangannya di ruang publik lumayan mahal: puluhan juta, dst. Saya juga tanya siapa saja yang boleh dipasang di tempat itu? Kata dia, siapa saja, tergantung agen-agen baliho, lokasi yang dipilih, durasinya, proses izin, dst. Wah, tak sederhana juga rupanya. Tapi, intinya, harganya mahal: jutaan atau puluhan juta rupiah.

Ruang publik, etika publik dan edukasi publik adalah pranata penting untuk demokrasi modern. Melalui itulah kontrol kuasa dan hak-hak bagi keadilan yang memajukan dipertaruhkan. Apa yang disebut dengan “keluhuran nilai” publik, sebagai akibat langsung dari prinsip Re-Publik dalam ber-Indonesia menjadi jelas fondasinya.

Publik yang cerdas dan tokoh-tokoh yang memihak kepada sandaran pengetahuan yang valid dan yang membangun ruang edukasi adalah harapan kita bersama. Sayangnya, distorsi-distorsi di ruang publik semakin terkesan menjauh dari kontrol.

Bagaimana di Gorontalo?

Dalam salah satu kunjungan resminya di Gorontalo, Mendagri M. Tito Karnavian pernah “menjewer” provinsi ini melalui fakta-fakta “ekonomi Gorontalo” yang sebenarnya. Bahwa kekuatan ekonomi, kapasitas institusi, dan daya produktif daerah kita ini belum jauh beranjak. Baliho tak mampu menjawab fakta itu!

Ayo, mari kita obrolkan lebih jauh dan membumi.***

 

Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu;
Alumnus Program Leadership, Univ. of Birmingham, U.K.
Surel: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminpersepsispektrum sosialTulisan Basritulisan persepsiVoice-of-HaleHepu

Related Posts

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Sintesis Tradisi dan Disrupsi: Peran Strategis Pemuda Gorontalo dalam Inovasi Estetika Karawo Kontemporer

Monday, 14 September 2026
Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Melampaui Polemik Rumah Jawatan Kantor Pos

Thursday, 10 September 2026
Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Politisi Bisa Berganti, Rakyat Tetap Berdaulat

Wednesday, 9 September 2026
Dr. Funco Tanipu., ST., M.A

Mengukur Sisa Waktu Kepala Daerah

Wednesday, 9 September 2026
Yusran Lapananda

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Tuesday, 8 September 2026
Basri Amin

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Monday, 7 September 2026
Next Post
Karikatur_

Terima Kasih Marten-Ryan

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Kapal Pertamina Patra Niaga Bantu Selamatkan 16 Korban KMP Virgo Transport 08

Kapal Pertamina Patra Niaga Bantu Selamatkan 16 Korban KMP Virgo Transport 08

Sunday, 13 September 2026
300 Siswa Ikuti Mokarawo Kolosal di HARFEST 2026

300 Siswa Ikuti Mokarawo Kolosal di HARFEST 2026

Saturday, 12 September 2026
Penyelundupan Miras Lewat Pelabuhan Berhasil Digagalkan

Penyelundupan Miras Lewat Pelabuhan Berhasil Digagalkan

Monday, 14 September 2026
Dokter Diduga Korban Penganiayaan, IDI Kecam Keras, Pelaku Dibekuk Polisi

Dokter Diduga Korban Penganiayaan, IDI Kecam Keras, Pelaku Dibekuk Polisi

Monday, 14 September 2026

Pos Populer

  • Kapal Pertamina Patra Niaga Bantu Selamatkan 16 Korban KMP Virgo Transport 08

    Kapal Pertamina Patra Niaga Bantu Selamatkan 16 Korban KMP Virgo Transport 08

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Harfest 2026, BI Buka Jalan UMKM Gorontalo Tembus Pasar Ekspor

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • 300 Siswa Ikuti Mokarawo Kolosal di HARFEST 2026

    18 shares
    Share 7 Tweet 5
  • Dentuman Misterius Gegerkan Gorontalo, Dibarengi Kilatan Cahaya, Warga Rasakan Getaran

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Bertahan dengan Bitule, Saat Kemarau Mengikis Cadangan Pangan

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.