gorontalopost.co.id – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Gorontalo meningkatkan kapasitas jurnalis melalui pelatihan membaca data ekonomi dan keuangan bagi wartawan ekonomi di Provinsi Gorontalo, berlangsung di Bohulo Camp, Kabupaten Gorontalo, Selasa (18/8).
Kegiatan yang diikuti jurnalis dari 24 media, baik cetak, elektronik maupun online, itu bertujuan memperkuat pemahaman wartawan terhadap kebijakan terkini Bank Indonesia. Selain itu, kegiatan menjadi wadah untuk memperluas jejaring dan membangun sinergi antara BI dan media.
Sebelum menerima materi, para wartawan diajak mengikuti permainan paintball. Kegiatan tersebut tidak hanya mengasah strategi dan keterampilan, tetapi juga menjadi sarana membangun kekompakan dan keakraban antarpeserta. Keseruan terlihat saat para wartawan menjalani berbagai tantangan, mulai dari menembak, merayap, berlari dan berlindung hingga merebut bendera sebagai tanda kemenangan. Berbagai kejadian lucu selama permainan turut mencairkan suasana dan membuat peserta semakin antusias.
Usai permainan, kegiatan dilanjutkan dengan materi dari Firdaus selaku perwakilan Bank Indonesia, dan Henri Cahyo Dwi Safitri dari Badan Pusat Statistik (BPS). Materi difokuskan pada peningkatan kemampuan wartawan dalam membaca dan mengolah angka ekonomi menjadi berita yang mudah dipahami masyarakat.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, Ciptoning Suryo Sondro, mengatakan kegiatan bertajuk “Di Balik Angka Ekonomi: Menyajikan Berita dan Menjaga Ekspektasi untuk Gorontalo Maju” tersebut merupakan kegiatan penting, sebab kata dia, menulis berita ekonomi memiliki tantangan tersendiri karena dampak informasi yang disampaikan dapat lebih luas dibandingkan berita lainnya. “Kalau berita kriminal ditulis secara jelas, efeknya biasanya berada di sekitar korban dan pelaku. Namun berita ekonomi berbeda. Dampaknya bisa meluas ke mana-mana. Karena itu, perlu belajar mengolah kata agar informasi yang disampaikan tidak menimbulkan kepanikan,” jelas Cipto.
Ia mencontohkan penggunaan kata “menurun” dan “melambat”. Meski memiliki makna yang hampir sama dalam penggunaan sehari-hari, menurutnya istilah tersebut perlu digunakan secara tepat dalam pemberitaan ekonomi karena dapat memengaruhi persepsi masyarakat.
Karena itu, Cipto berharap pelatihan tersebut menjadi wadah bagi BI dan wartawan untuk saling belajar, khususnya dalam memahami data serta menyusun kalimat berita ekonomi yang tepat.
Selain itu, wartawan juga diperkenalkan dengan akses Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) sebagai salah satu platform sumber informasi mengenai perkembangan harga pangan yang dapat dimanfaatkan sebagai rujukan dalam pemberitaan ekonomi.
“Harapannya, teman-teman media semakin memahami bagaimana membaca angka dan menyampaikannya dalam bentuk berita yang tepat, sehingga informasi ekonomi dapat dipahami masyarakat dengan baik,” tandasnya.(csr)












Discussion about this post