gorontalopost.co.id – Polisi terus melakukan pendalaman kasus aktivitas pertambangan emas di lokasi DAM Desa Hulawa, Kecamatan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, yang menewaskan lima penambang karena tertimbun longsor yang terjadi, Rabu (12/8) malam lalu. “Ya, hari ini (Ahad, 16/8) tim melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) lagi di lokasi,”ujar Kapolres Pohuwato, AKBP H.Busroni, S.I.K., M.H., kepada Gorontalo Post, di Marisa (16/8).
Menurut Kapolres, selain melalukan olah TKP, polisi juga telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, termasuk saksi yang merupakan rekan-rekan korban dalam satu tim saat berada di lokasi tambang, dan saksi dari pihak keluarga korban. “Sudah ada 15 saksi, saksi satu rombongan mereka, dan kebutulan juga mereka satu kampung, dan saki dari keluarga korban,”terang Kapolres.
Ia mengatakan, tidak menutup kemungkinan pemeriksaan saksi masih akan terus bertambah, untuk memastikan siapa yang bertanggungjawab secara hukum dalam peristiwa yang merenggut lima nyawa tersebut. Lebih lanjut Kapolres menyebut, jika peristiwa ini mendapat atensi langsung dari Polda Gorontalo, sehingga pihaknya membentuk tim khusus, yang terdiri dari reskrimum, maupun reskrimsus, dan di-backup langsung dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Gorontalo.
Pihaknya juga melibatkan Dinas Lingkungan Hidup untuk memastikan status kawasan hutan yang menjadi lokasi pertambangan tanpa izin itu. “Nanti dari DLH yang akan mentukan status hutanya seperti apa, melalui titik kordinat yang ada”terangnya.
Sementara itu, kata dia, dari hasil pemeriksaan sementara, didapati jika penambang yang mejadi korban longsor peti Dam adalah 6 orang, lima meninggal dunia, dan satu selamat. “Jadi kami periksa, sesuaikan dengan jumlah mereka saat berada di lokasi, dan jumlah korban yang ditemukan, didapati jumlah korban yang ada,”terang Kapolres.
Kendati begitu, kata dia, pihaknya membuka ruang bagi masyarakat yang merasa kehilangan anggota keluarga untuk segera melapor ke Polres.
Sementara itu, Bupati Pohuwato Saipul Mbuinga di Marisa (16/8) memastikan jika tidak ada warga Pohuwato yang menjadi korban longsor tersebut. “Laporanya begitu, bukan warga dari Pohuwato,”ujarnya. Bupati mengatakan saat peristiwa terjadi pihaknya tidak lagi mengirimklan bantuan evakuasi baik dari Basarnas maupun BPBD lantaran jumlah korban seluruhnya telah berhasil dievakuasi.
Ada pun lima korban meninggal dunia dalam peristiwa ini adalah Miman Ibura (23), Pandra Galiu (27), Sandi Bilondatu (24), Fiki Larama (26), serta Andi Otoluwa. Empat korban merupakan warga Desa Bendungan, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo, sementara Andi Otoluwa tercatat sebagai warga Desa Bongonol, Kecamatan Paguyaman. (tro)












Discussion about this post