Gorontalopost.co.id, LIMBOTO – QRIS mulai mengubah cara transaksi di pasar-pasar tradisional Kabupaten Gorontalo. Jika sebelumnya pembayaran non-tunai lebih banyak digunakan pedagang untuk membayar retribusi, kini penggunaannya mulai diarahkan langsung ke transaksi jual-beli sehari-hari.
Pemerintah Kabupaten Gorontalo bersama Bank Indonesia (BI) dan perbankan mendorong perubahan tersebut melalui Roadshow PASAR PASIARI (Pasar Sehat, Inovatif, dan Aman Pakai QRIS) yang menyasar tiga pasar tradisional di daerah itu. Program tersebut digelar menyongsong Pekan QRIS Nasional 2026 dengan melibatkan Bank SulutGo (BSG), Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Muamalat.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gorontalo Viktor Asiku mengatakan, perluasan penggunaan QRIS menjadi langkah penting untuk membawa digitalisasi lebih dekat dengan aktivitas ekonomi masyarakat.
Menurutnya, digitalisasi pembayaran di pasar tidak boleh berhenti pada urusan administrasi seperti pembayaran retribusi. Teknologi tersebut harus mulai hadir dalam transaksi paling sederhana sekalipun—ketika pedagang menjual barang dan pembeli membayarnya.
“Sebelumnya, pembayaran non-tunai di pasar umumnya baru diterapkan untuk retribusi. Melalui roadshow ini, kita mendorong agar QRIS juga digunakan dalam transaksi jual-beli harian antara pedagang dan pembeli,” ujar Viktor saat menerima kunjungan BI dan perbankan di Pasar Kayubulan, Kecamatan Limboto, Selasa (11/8).
Menurut Viktor, penggunaan QRIS menawarkan sejumlah keuntungan bagi pedagang dan konsumen. Selain mengurangi risiko peredaran uang palsu, transaksi digital juga membantu pedagang memiliki pencatatan keuangan yang lebih tertib.
Persoalan klasik seperti keterbatasan uang pecahan untuk kembalian juga dapat ditekan karena nilai pembayaran dapat dilakukan secara tepat sesuai harga barang. “Dengan QRIS, pembayaran menjadi lebih tepat sesuai nilai transaksi. Pedagang juga dapat memiliki pencatatan keuangan yang lebih rapi dan transparan,” jelasnya.
Roadshow PASAR PASIARI dilaksanakan di tiga pasar tradisional Kabupaten Gorontalo. Setelah menyambangi Pasar Hulawa, Kecamatan Telaga, pada Jumat sebelumnya, kegiatan dilanjutkan di Pasar Kayubulan, Kecamatan Limboto, Selasa (11/8).
Roadshow berikutnya dijadwalkan berlangsung di Pasar Kaliyoso, Kecamatan Dungaliyo, pada Sabtu mendatang. Tak hanya sosialisasi, BI bersama perbankan juga mendorong percepatan akuisisi pedagang melalui sejumlah program pendukung bagi pedagang yang mendaftarkan akun QRIS baru.
Berbagai insentif seperti tumbler, gula pasir, dan beras disiapkan untuk menarik minat pedagang menggunakan transaksi digital. Viktor menegaskan, percepatan digitalisasi membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, BI, dan lembaga perbankan agar transformasi tersebut benar-benar dirasakan pelaku usaha di tingkat paling bawah. (tro)













Discussion about this post