logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 10 August 2026
in Persepsi
0
Muh. Amier Arham

Muh. Amier Arham

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Muh. Amier Arham
Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG

TAHUN ajaran baru di perguruan tinggi segera akan bergulir, yang di awali dengan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB). Tahun ini jumlah mahasiswa baru yang diterima lewat Jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Test (SNBT) mencapai  256.369, sementara Jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) terdapat 164.880 pendaftar yang lolos. Untuk UNG sendiri, mahasiswa baru yang lolos SNBT sebanyak 2.689, dan SNBP  sebanyak 1.834, dengan demikian jumlah mahasiswa baru UNG dari dua jalur  penerimaan sebanyak 4.523.

Dari sejumlah itu tercatat 63,37 persen mengajukan beasiswa KIPK, walaupun tidak seluruhnya eligiable, karena diprioritaskan bagi keluarga kategori desil 1 – 4. Sementara jalur seleksi Mandiri sebanyak 999, maka jumlah mahasiswa baru UNG tahun 2026 dinyatakan lolos yaitu 5.522. Unfortunately, terdapat 367 orang yang belum daftar kembali.

Pemaparan data-data tersebut bukan sekedar deretan angka-angka, tetapi kumpulan fakta yang ditangkap secara ril terhadap kondisi masyarakat dan daerah, terutama masalah tingginya pelamar beasiswa KIPK dan yang tidak daftar kembali walau telah dinyatakan lulus. Atas fenomena itu, maka pelaksanaan PKKMB UNG tahun ini mengangkat tema —UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak untuk Semua—.

Tema ini telah dirilis oleh rektor saat pelaksanaan wisuda periode ke 62 silam. Dengan memilih tema ini menjadi penanda UNG memiliki kepedulian lebih dengan membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat kelas menengah ke bawah untuk mengakses pendidikan tinggi, dalam konteks lain UNG semangat egaliternya begitu kental membantu pemerintah menaikkan mutu modal manusia di daerah.

Related Post

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Jika dahulu UGM dijuluki “kampus ndeso” karena identitasnya sebagai kampus kerakyatan yang pro-desa dan berpihak pada masyarakat lapisan bawah. Julukan ini bukan sebagai hinaan melainkan kebanggaan atas kedekatan kampus dengan akar budaya dan komitmennya memberdayakan daerah terpinggirkan. Bentuk komitmen itu ditandai dengan pendirian Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (PSPK) yang sangat populer dan menonjol pada era 1980-an yang digawangi oleh Prof. Mubyarto.

Namun demikian, julukan kampus kerakyatan bagi UNG, tidak sepenuhnya terinspirasi dari UGM “kampus ndeso”, tetapididasarkan fakta dimana UNG berada di kawasan (Teluk Tomini) yang cukup potensial namun belum dapat di optimalkan, ekonomi daerah masih kecil, per kapita rendah, bahkan menjadi kantong kemiskinan. Fenomena ini secara langsung berdampak terhadap UNG, dibuktikan dari jumlah mahasiswa baru 63,37 persen pelamar beasiswa KIPK.

Sedangkan sebaran mahasiswa yang membayar UKT kelompok satu tidak mencapai 15 persen dari total mahasiswa UNG. Maka UNG menjadi “melting pot” tidak hanya dipotret dari latar budaya dan suku bangsa berbeda melebur dalam satu wadah, tetapi juga meleburnya kelompok masyarakat yang beragam latar ekonomi, dan didominasi dari kelas menengah bawah. Sedangkan makna berdampak merupakan inisiatif strategis dari Kemendiktisaintek untuk menghadirkan solusi nyata dan manfaat langsung bagi masyarakat luas atas kehadiran perguruan tinggi.

Dampak yang diharapkan melingkupi; dampak ekonomi, dampak sosial dan dampak lingkungan. Dan pendidikan untuk semua, bermakna bahwa layanan pendidikan yang diberikan sejatinya kian merata, termasuk mutu dan kualitasnya bukan hanya pada masyarakat kelas atas yang merasakan, serta bertumpu pada kawasan tertentu, namun untuk semua kalangan dapat mengakses pendidikan tinggi di UNG.

Fenomena lain yang dapat dijelaskan dari sajian data di atas, seperti; 1) Jumlah mahasiswa baru yang mengajukan KIPK lebih dari separuh, mengindikasikan bahwa animo masyarakat untuk mengakses pendidikan tinggi terus tumbuh dari tahun ke tahun, tapi sebagian terkendala pada pembiayaan, mirisnya kuota beasiswa terbatas. Alhasil yang dinyatakan tidak eligiable sebagai calon penerima KIPK,praktis tagihan Uang Kuliah Tunggal (UKT) jatuh pada kelompok 7 dan 8. Kategori ini dalam kehidupan sosial merupakan kelompok rentan, posisinya terjepit, karena tidak memenuhi syarat penerima bantuan sosial tetapi disaat yang sama pendapatannya kurang mencukupi membiayai sekolah anak-anaknya.

2) Kelompok rentan, yang masuk kelompok 7 – 8 untuk pembayaran UKT, sudah barang tentu berdampak signifikan terhadap pendapatan UKT perguruan tinggi, sedangkan  biaya operasional pendidikan seorang mahasiswa persemester atau biasa disebut Biaya Kuliah Tunggal (BKT) terhitung besar, maka selisihnya menjadi beban perguruan tinggi, karena itu kampus excellent menetapkan tarif UKT untuk semua jalur terhitung besar.

3) Secara administratif kelompok rentan di atas kertas nampak mereka bukan keluarga pra sejahtera, tapi evidence-nya tingkat pendapatan stagnan digerus oleh pergerakan inflasi, pada akhirnya memicu fenomena makan tabungan (eating savings) untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi nasional saldo kelompok tabungan di bawah 100 juta merosot tajam, pada tahun 2018 angkanya berada 3,1 juta dan periode Mei 2026 tinggal 1,7 per rekening.

Sehingga fungsi pendapatan (motif memegang uang) untuk berjaga-jaga termasuk persiapan pembiayaan pendidikan menjadi terbatas, bahkan kini memasuki fase Makan Utang (Matang), hal ini terlihat dari melonjaknya angka penggunaan pinjaman online (Pinjol). Dalam konteks pembayaran UKT di UNG tercermin dari pengajuan mengangsur terhitung banyak.

4) Side effect dari efisiensi anggaran dengan memangkas Transfer Dana ke Daerah (TKD) sebagian peruntukannya untuk belanja publik (modal). Lewat belanja modal rekanan Pemda mendapatkan kontraktual, namun dengan alasan efisiensi rekanan Pemda kehilangan opportunity,dan saat ini juga mereka mengalami kerentanan, imbasnya ke pembayaran UKT.

5) Banyaknya calon mahasiswa yang tidak mendaftar kembali sekalipun telah dinyatakan lolos tes, didominasi dari jalur mandiri. Saya menduga mereka terkendala pembayaran UKT dan Iuran Pengembangan Institusi (IPI), besarannya memang bervariasi, kendati rata-rata IPI di UNG terbilang rendah dibanding dengan PTN di Pulau Jawa. Oleh sebagian perguruan tinggi PTNBH menjadikan jalur mandiri sebagai ladang mengeruk income generating, tapi dengan cara “quiet reent-seeking”.

Atas fenomena-fenomena tersebut, saya merekomendasikan beberapa poin penting untuk dapat dipikirkan oleh pemangku kepentingan, diantaranya 1) Perluasan cakupan penerima beasiswa, terutama bagi kelompok rentan yang berada pada kategori desil 5 – 6 dengan skema co funding, dimana beasiswa hanya untuk pembayaran UKT saja tanpa biaya hidup. Manfaatnya adalah mengurangi beban kelompok rentan yang terjepit dan besaran UKT yang diterima perguruan tinggi berada pada rata-rata kelompok 3 dan 4, sehingga PNBP dapat terkerek.

2) Alokasi anggaran pendidikan untuk perguruan tinggi sejatinya dinaikkan, sebab dengan mengandalkan PNBP dari masyarakat terutama dari daerah dengan size ekonominya kecil, serta per kapita rendah pasti akan mengalami kendala, perguruan tinggi pada posisi dilematis, akibatnya banyak sarana dan prasarana belum dapat diadakan, padahal ia menunjang peningkatan layanan akademik, impactful-nya pada penurunan kualitas riset, inovasi yang lahir terbatas karena kurang ditunjang anggaran. Dan mengharapkan kemitraan dari industripun nyaris tidak ada bagi kampus-kampus yang berada di KTI, karena minimnyaindustry manufaktur.

3) Kelompok rentan perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah, bagi ASN tak ada salahnya diberi fasilitasi subsidi khusus untuk perumahan dan penunjang operasional transportasi publik, kedua komponen tersebut penyumbang inflasi paling besar dari kelompok non makanan, selain itu pemberian perlindungan sosial secara maksimal. Faktanya tidak sedikit mahasiswa terkendala membayar UKT karena orang tuanya sakit, ia membutuhkan biaya pengobatan sebab tidak ter-cover jaminan sosial.

Kondisi ini kian berat dengan gaji pokok hampir setara dengan UMP tapi memiliki tanggungan dua tiga anak. Artinya sudah saatnya dilakukan penyesuaian gaji ASN maupun tunjangan karena inflasi telah mengalami kenaikan berlipat ganda, dan penyesuaian  gaji maupun tunjangan ASN tidak diskriminatif.

ASN tertentu dengan alasan agar tidak melakukan abuse of power maka perlu dinaikkan gajinya hingga 300 persen. Alasan serupa yang telah lama di terapkan pada kementerian yang diberi kewenangan memungut pajak dan cukai, alhasil tunjangan pegawai pranata komputer setara dengan tunjangan kehormatan guru besar di perguruan tinggi.

4) Efisiensi yang dijalankan pemerintah pada prinsipnya diapresiasi, tetapi tidak bersifat general,sebaiknya efisiensi difokuskan untuk anggaran makan-minum, perjalanandinas dan rapat-rapat. Sementara untuk layanan dasar serta public spendingdalam rangka pembentukan modal sangat dibutuhkan oleh daerah untuk menggerakkan ekonomiselayaknya tidak pangkas.

Apalagi daerah yang terbatas investasi swasta, maka belanja pemerintah menjadi prime mover pertumbuhan ekonomi sekaligus pencipta lapangan kerja.Pada akhirnya memberikan multiplier effect, pendapatan masyarakat meningkat untuk membiayai Pendidikan bagi keluarganya.(*)

Tags: Harian PersepsiMuh. Amier ArhampersepsiTulisan Muh. Amier Arhamtulisan persepsi

Related Posts

Yusran Lapananda

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Tuesday, 8 September 2026
Basri Amin

Duduk “Enak” di Pemerintahan

Monday, 7 September 2026
Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Refleksi Menuju 60 Tahun Kohati: Menata Jalan Menuju Indonesia Digdaya

Sunday, 6 September 2026
Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Friday, 4 September 2026
NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Thursday, 3 September 2026
Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Thursday, 3 September 2026
Next Post
Polres Boalemo Gagalkan Penyelundupan 2.450 Liter Solar

Polres Boalemo Gagalkan Penyelundupan 2.450 Liter Solar

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Yusran Lapananda

Mens Rea dalam Doktrin & Norma

Tuesday, 8 September 2026
Polres Boalemo Salurkan Air Bersih di Tinelo

Polres Boalemo Salurkan Air Bersih di Tinelo

Tuesday, 8 September 2026
Kebakaran Semakin Tidak Terkendali, Dua Hari 11 Titik Lahan, Hutan hingga Rumah Warga Hangus

Kebakaran Semakin Tidak Terkendali, Dua Hari 11 Titik Lahan, Hutan hingga Rumah Warga Hangus

Tuesday, 8 September 2026
86 SPBU di Sulawesi Kena Sanksi Pertamina

86 SPBU di Sulawesi Kena Sanksi Pertamina

Tuesday, 8 September 2026

Pos Populer

  • Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

    4 Kursi DPR RI untuk Gorontalo, Femmy: Dari Aspirasi Menjadi Agenda Kelembagaan

    35 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Rp 68,2 M Dana Asrama Haji Gorontalo Ditolak, Kemenhaj: Mepet Waktu, Beresiko

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

    27 shares
    Share 11 Tweet 7
  • Mens Rea dalam Doktrin & Norma

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Polres Boalemo Salurkan Air Bersih di Tinelo

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.