logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Kota yang Mencari Anak-anaknya, 81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

Lukman Husain by Lukman Husain
Saturday, 15 August 2026
in Persepsi
0
Kota yang Mencari Anak-anaknya,  81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

Kepala Dinas Pendidikan Kota Gorontalo, yang juga Ketua Kwarcab Pramuka Kota Gorontalo, Husin Ali, bersama Pramuka Penggalang di tenda peserta Jamnas XII di Cibubur, Jakarta Timur. (foto: dok-kwarcab Kota Gorontalo)

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

UNGnomics: Dari Kampus Kerakyatan Menuju Mesin Pertumbuhan Gorontalo

Kakak Prabowo Presiden RI Membuka…, MBG Menjadi Ajang Khusus Para Kontingen Jambore Nasional XII?   

UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

Indonesia Raya “Lahir” di Sulawesi

Oleh:
Dr. Husin Ali, S.Pd., M.A.P., CPOf.

 

Saya tidak pernah lupa jalan panjang yang membawa saya sampai di tempat saya berdiri hari ini. Saya tumbuh sebagai anak seorang buruh tani. Ibu saya guru ngaji. Sejak kecil saya akrab dengan sawah, tanah, rumput, kuda, bendi dan jalan kampung. Saya pernah menjadi kusir bendi, jockey gerobak kuda, mencari rumput di sawah untuk dijual kepada pemilik kuda, menjadi kusir gerobak, bahkan mengemudikan bentor, membantu pemilik kuda memandikan kudanya.

Untuk bersekolah di SMK Negeri 1 Gorontalo, almarhum Papa pernah membelikan saya sepeda Jengky. Saya mengayuhnya setiap hari menuju sekolah. Tetapi sepeda tidak selalu dalam keadaan baik. Kalau rusak dan tidak ada biaya memperbaikinya, saya berjalan kaki.

Di tengah perjalanan, kadang terdengar sapaan teman-teman: “Kristal, nae onta!”Sapaan yang pada masa itu cukup menyakitkan. Kristal merujuk pada rambut saya yang kribo, sementara nae onta adalah gurauan tentang sepeda yang saya kendarai.

Tetapi saya terus mengayuh. Kalau sepeda bisa berjalan, saya naik sepeda. Kalau sepeda rusak, saya berjalan kaki. Yang penting, saya sampai di sekolah.

Hari ini, setelah bertahun-tahun berlalu, saya melihat pengalaman itu dengan cara yang berbeda. Barangkali hidup sedang mengajarkan saya sesuatu yang baru saya pahami kemudian: Jalan menuju masa depan tidak selalu mulus untuk membuat seseorang sampai.

Saya juga pernah berjalan kaki menuju SMP Negeri 6 Gorontalo. Pernah mencari rumput untuk dijual kepada pemilik kuda. Pernah menjadi kusir bendi dan gerobak. Bahkan ketika kuliah, saya masih membawa bendi dan meletakkannya di depan ruang kuliah.

Semua itu bukan kisah untuk dibanggakan. Itu adalah pengingat. Pengingat bahwa seorang anak dari keluarga sederhana bisa memiliki masa depan selama ada kesempatan untuk tetap belajar.

Karena itu, ketika hari ini saya berbicara tentang Anak Tidak Sekolah (ATS), saya tidak mampu melihatnya hanya sebagai angka. Saya membayangkan seorang anak yang mungkin sedang kehilangan jalan. Mungkin ia tidak kehilangan cita-cita. Ia hanya kehilangan jalan menuju cita-citanya.

Dari Cibubur, Saya Kembali Mengingat Jalan Itu. Pagi ini saya berada di Bumi Perkemahan Cibubur, dalam agenda Jambore Nasional Pramuka. Ribuan anak berkumpul. Mereka tidur di tenda, bangun pagi, merapikan tempat tidur, mencuci peralatan makan, membersihkan lingkungan, bekerja dalam regu, menolong teman dan belajar bertanggung jawab.

Di sini saya kembali melihat sesuatu yang sejak lama saya yakini: anak tidak hanya belajar dari buku. Anak belajar dari kehidupan. Pramuka menyebutnya learning by doing. Belajar dengan melakukan.

Tetapi suasana Cibubur juga membawa saya pada pertanyaan yang lebih sunyi:Bagaimana dengan anak-anak yang hari ini tidak berada di ruang belajar? Siapa yang mencari mereka? Siapa yang mengetuk pintu rumah mereka? Siapa yang mengatakan kepada mereka bahwa masa depan mereka belum selesai?

Pertanyaan itulah yang membawa saya kembali kepada Gorontalo.

Sebuah Pesan dari Wali Kota yang Tidak Pernah Hilang. Ketika pertama kali menerima amanah sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo, ada satu pesan dari Bapak Haji Adhan Dambea, Wali Kota Gorontalo, yang saya ingat dengan sangat jelas.

Dalam beberapa kesempatan bersama guru dan peserta didik, beliau selalu mengingatkan: “Perhatikan guru dan peserta didik.”

Kalimatnya pendek. Namun semakin lama saya menjalankan amanah ini, semakin saya memahami kedalamannya. Guru dan peserta didik adalah dua manusia yang membuat sekolah memiliki makna. Guru bukan sekadar bagian dari administrasi kepegawaian. Mereka adalah manusia yang setiap hari membawa tanggung jawab, harapan, persoalan dan energi ke dalam kelas.

Peserta didik pun bukan sekadar jumlah siswa dalam sebuah laporan. Mereka adalah anak-anak yang sedang tumbuh, mencari identitas, membangun cita-cita dan kelak menentukan wajah kota ini.

Karena itu, pesan tersebut saya pahami bukan hanya sebagai instruksi kerja. Ia adalah cara memandang pendidikan. Perhatikan guru. Jaga peserta didik.Kemudian, pada beberapa kesempatan berikutnya ketika bersama guru dan peserta didik, Bapak Haji Adhan Dambea menyampaikan pesan yang lebih spesifik:“Pastikan tidak ada anak yang tidak sekolah.”

Kalimat itu bagi saya memiliki bobot yang berbeda. Pesan pertama berbicara tentang mereka yang berada di dalam sekolah. Pesan kedua mengingatkan kita kepada mereka yang bahkan belum berada di sana. Dari sanalah persoalan ATS menjadi semakin personal.

Saya teringat pada diri saya sendiri. Seandainya dulu tidak ada orang tua yang terus mengatakan bahwa sekolah harus dilanjutkan, mungkin perjalanan saya akan berbeda. Seandainya ketika sepeda Jengky rusak saya memilih berhenti berjalan, mungkin saya tidak sampai ke sekolah. Seandainya ada yang mengatakan kepada saya bahwa anak dari keluarga buruh tani tidak perlu bermimpi terlalu tinggi, mungkin saya akan mempercayainya.

Karena itu saya memahami pesan Bapak Haji Adhan Dambea dengan cara yang sangat sederhana: jangan biarkan keadaan menentukan masa depan seorang anak sebelum kita berusaha membantunya.

Dari Satu Pesan, Sebuah Kota Bergerak. Ada sebuah peristiwa yang bagi saya menjadi titik penting. Bapak Haji Adhan Dambea menyaksikan seluruh camat se-Kota Gorontalo menandatangani perjanjian kerja sama dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk menuntaskan Anak Tidak Sekolah.

Di atas meja ada dokumen. Tetapi yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan dokumen. Yang dipertaruhkan adalah masa depan anak-anak. Di situlah saya melihat sebuah pesan berubah menjadi gerakan.

Wali Kota tidak mungkin mengetuk seluruh pintu rumah di Kota Gorontalo. Tetapi beliau selalu tampil elegan menggerakkan orang-orang yang paling dekat dengan pintu-pintu itu. Camat. Lurah. PKBM. Sekolah. Masyarakat.

Dan ketika seluruh camat berdiri bersama menandatangani komitmen itu, saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada sebuah seremoni.

Sebuah kota sedang menyatakan bahwa anak yang tidak sekolah bukan lagi persoalan yang boleh dibiarkan sendirian di dalam rumah. Ia menjadi urusan kita bersama. Kepemimpinan yang Terlihat dari Apa yang Bergerak

Saya belajar satu hal dalam birokrasi: ukuran kepemimpinan bukan hanya apa yang dikatakan seorang pemimpin, tetapi apa yang bergerak setelah ia berbicara. Bapak Haji Adhan Dambea memberikan arah. Kemudian camat bergerak. Lurah bergerak.Dikbud bergerak. PKBM bergerak. Sekolah bergerak. Masyarakat dilibatkan.

Di situlah saya melihat makna kepemimpinan yang sesungguhnya. Seorang pemimpin tidak harus mengerjakan semuanya. Ia harus mampu membuat banyak orang memahami bahwa ada sesuatu yang tidak boleh dibiarkan.

Dalam hal ATS, sesuatu itu adalah masa depan seorang anak. Mungkin inilah yang membuat pesan beliau terasa sederhana sekaligus berat: “Pastikan tidak ada anak yang tidak sekolah.” Bukan kurangi. Bukan tekan. Bukan usahakan. Tetapi pastikan. Ada ketegasan moral di dalam satu kata itu.

Jangan Terlalu Cepat Menyebutnya Angka. Dalam administrasi pemerintahan, angka diperlukan. Tetapi sebagai antropolog, saya selalu merasa perlu berhenti sejenak sebelum menyimpulkan manusia dari angka.

ATS bukan hanya statistik. Di balik satu angka ada nama. Di balik nama ada rumah.Di balik rumah ada keluarga. Di dalam keluarga ada sejarah, ekonomi, pola pengasuhan, kebudayaan, lingkungan, harapan dan persoalan yang tidak selalu terlihat dalam tabel.

Karena itu, kita tidak cukup bertanya: Berapa jumlah anak tidak sekolah? Kita harus bertanya: Siapa mereka? Mengapa mereka tidak sekolah? Apa yang terjadi dalam kehidupannya?

Dan yang paling penting: Siapa yang akan menjemputnya kembali? Dalam perspektif antropologi, anak tidak hidup sendirian. Ia hidup dalam keluarga.Keluarga hidup dalam komunitas. Komunitas hidup dalam kebudayaan. Maka menuntaskan ATS berarti memahami kehidupan anak secara utuh, bukan hanya memperbaiki angka statistik.

Dari Data Menuju Pintu Rumah

Karena itu, data ATS tidak boleh berhenti di meja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Data harus menjadi nama. Nama menjadi alamat. Alamat menjadi keluarga. Keluarga menjadi percakapan. Percakapan menjadi pendampingan. Dan pendampingan menjadi jalan kembali menuju pendidikan.

Camat dan lurah memiliki pengetahuan yang tidak selalu ada dalam tabel. Mereka mengetahui keluarga. Mengenal lingkungan. Mengetahui dinamika sosial. Mereka memiliki sesuatu yang sangat penting dalam pendekatan antropologis: kedekatan dengan kehidupan masyarakat.

Maka pemerintah tidak hanya membawa kebijakan kepada masyarakat. Pemerintah bekerja bersama pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat.

81 Tahun Merdeka

Indonesia memasuki 81 tahun kemerdekaan. Kita mengibarkan bendera. Menggelar upacara. Menyanyikan lagu kebangsaan. Tetapi ada cara merayakan kemerdekaan yang mungkin lebih sunyi: mengembalikan seorang anak ke sekolah.

Saya memahami itu bukan hanya sebagai kepala dinas. Saya mengalaminya sebagai seseorang yang pernah berjalan kaki ke sekolah, mengayuh sepeda Jengky, mencari rumput, menjadi kusir bendi, mengemudikan bentor, dan tetap berusaha melanjutkan pendidikan.

Karena itu, ketika menemukan seorang anak yang berhenti sekolah, pertanyaan pertama kita seharusnya bukan: “Mengapa dia tidak sekolah?” Tetapi: “Apa yang bisa kita lakukan agar dia kembali?” Mungkin ia tidak kehilangan cita-cita. Ia hanya kehilangan jalan. Dan tugas kita adalah membuka kembali jalan itu. 81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah.

Sekolah Tidak Cukup Mengembalikan Anak. Tetapi mengembalikan anak ke sekolah hanyalah awal. Setelah itu kita harus bertanya: Manusia seperti apa yang sedang kita bentuk?

Guru perlu mulai mengevaluasi hal-hal yang selama ini mungkin tidak masuk rapor.Berapa anak yang ketika bangun pagi masuk ke dapur dan melihat ibunya membersihkan dapur, lalu membantu mencuci piring? Berapa anak yang ketika pulang mengambil sapu dan membersihkan rumah, paling tidak kamar tidurnya sendiri? Berapa yang merapikan tempat tidur tanpa diperintah? Berapa yang peduli ketika melihat sampah? Berapa yang menjaga fasilitas sekolah? Berapa yang membantu temannya? Berapa yang melakukan kebaikan ketika tidak ada guru yang melihat?

Pertanyaan itu mungkin tidak ada dalam ujian. Tetapi sesungguhnya: itulah ujian kehidupan. Karakter bukan sekadar apa yang diketahui anak tentang kebaikan.Karakter adalah apa yang dilakukan anak ketika tidak ada yang menyuruh.

Kota Gorontalo sebagai Ruang Belajar

Di sinilah gagasan Kota Gorontalo sebagai Ruang Belajar memperoleh maknanya.Anak tidak hanya belajar di sekolah. Ia belajar di rumah. Di lingkungan. Di kelurahan. Di ruang publik. Dalam kebudayaan. Dalam Pramuka.

Ketika membantu ibu, ia belajar tanggung jawab. Ketika membersihkan kamar, ia belajar mandiri. Ketika memungut sampah, ia belajar menjadi warga. Ketika membantu teman, ia belajar kemanusiaan.

Maka kota harus menjadi ekosistem yang ikut mendidik. Sekolah mendidik anak. Kota menciptakan lingkungan agar pendidikan itu hidup. Dan di sinilah Torang Bekeng Bae menemukan makna yang lebih dalam. Bukan sekadar slogan. Tetapi kebiasaan untuk melakukan yang baik, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Saya Menemukan Banyak Jawaban di Pramuka. Pengalaman saya dalam Gerakan Pramuka semakin menguatkan keyakinan itu. Pada 2005 saya mengikuti Outdoor Management Training di Situ Lembang, Bandung. Pada 2006 saya terlibat dalam Perkemahan Wirakarya Nasional. Saya juga pernah dipercaya menjadi Sekretaris Dewan Kerja Daerah Gerakan Pramuka Provinsi Gorontalo yang pertama.

Dari perjalanan itu saya menyaksikan banyak kawan yang dahulu tumbuh bersama dalam kegiatan Pramuka, kemudian mengambil jalan pengabdian masing-masing.Ada yang menjadi anggota DPRD Provinsi Gorontalo. Ada yang menjadi anggota DPRD Kota Gorontalo. Ada yang menjadi Pimpinan redaksi bahkan pemimpin media pemberitaan.  Ada yang menjadi pejabat di pemerintah provinsi, pemerintah kota dan pemerintah kabupaten. Ada yang menjadi guru. Ada yang menjadi perawat.Ada yang menjadi Dokter.  Ada yang menjadi birokrat, profesional, pengusaha dan berbagai profesi lainnya.

Yang menarik bukan jabatan mereka. Yang menarik adalah proses yang pernah kami jalani bersama. Kami belajar memimpin. Belajar bekerja dalam keterbatasan. Belajar berbeda pendapat. Belajar mengambil keputusan. Belajar bertanggung jawab.

Pramuka memberi kami ruang untuk tumbuh. Dan mungkin tanpa kami sadari, pengalaman-pengalaman kecil itu menjadi modal kehidupan. Karena pendidikan yang baik tidak selalu meninggalkan hafalan. Kadang ia meninggalkan keberanian, kemandirian, persahabatan dan karakter.

Kota yang Tidak Mau Kehilangan Anak-Anaknya. Pada akhirnya, persoalan ATS membawa kita kepada pertanyaan yang lebih besar: Bagaimana sebuah kota memperlakukan anak-anaknya? Apakah mereka dibiarkan hilang? Ataukah dicari?Apakah mereka disalahkan? Ataukah dipahami? Apakah pemerintah menunggu?Ataukah menjemput?

Kota Gorontalo sedang memilih untuk mencari. Bapak Haji Adhan Dambea memberikan arah. Camat bergerak. Lurah mendekat. Dikbud mengorkestrasi. PKBM membuka jalan. Sekolah menerima kembali. Masyarakat ikut menjaga.

Semuanya menuju satu tujuan: jangan ada anak yang hilang dari masa depan. Bagi saya, di situlah makna terdalam dari judul ini: KOTA YANG MENCARI ANAK-ANAKNYA. Sebuah kota bukan hanya kumpulan jalan, gedung dan kantor pemerintahan. Kota adalah cara kita memperlakukan manusia yang hidup di dalamnya.

Saya pernah mencari jalan menuju sekolah. Hari ini, saya berada dalam posisi untuk ikut memastikan agar anak-anak lain tidak harus kehilangan jalan itu.

Dulu, orang tua saya menjaga agar saya tetap belajar. Hari ini, kesempatan itu harus diteruskan kepada generasi berikutnya. Dan mungkin itulah makna paling sederhana dari kemerdekaan: tidak membiarkan keadaan menentukan masa depan seorang anak sebelum negara dan masyarakat berusaha membantunya.

Dari Cibubur, di tengah ribuan anak Pramuka yang sedang belajar menjadi manusia, pesan itu terasa semakin jelas: 81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah. Sebab kota yang benar-benar menjadi Ruang Belajar bukan kota yang hanya memiliki banyak sekolah.

Ia adalah kota yang peduli ketika seorang anak tidak berada di dalamnya. Ia mencari. Ia mengetuk pintu. Ia mendengar. Ia memahami. Ia membuka jalan. Dan ketika sebuah kota mulai mencari anak-anaknya, sesungguhnya kota itu sedang mencari masa depannya sendiri. (*)

Penulis adalah Antropolog | Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Gorontalo | Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Gorontalo

Tags: "Torang Bekeng Bae"Catatan Husin AliDinas Pendidikan Kota Gorontalohusin aliJambore NasionalJamnas 2026Jamnas XIIKotingen Jamnas Gorontalokwarcab kota gorontalo

Related Posts

Kakak Prabowo Presiden RI Membuka…, MBG Menjadi Ajang Khusus Para Kontingen Jambore Nasional XII?   

Kakak Prabowo Presiden RI Membuka…, MBG Menjadi Ajang Khusus Para Kontingen Jambore Nasional XII?   

Saturday, 15 August 2026
Dari Agromaritim ke Blue-Green-Gold Economy: Jalan Baru Gorontalo Menuju Pertumbuhan yang Inklusif dan Berkelanjutan

UNGnomics: Dari Kampus Kerakyatan Menuju Mesin Pertumbuhan Gorontalo

Friday, 14 August 2026
Muh. Amier Arham

UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

Monday, 10 August 2026
Basri Amin

Indonesia Raya “Lahir” di Sulawesi

Monday, 10 August 2026
Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Menenun Indonesia Emas 2045 dari Pesisir Teluk Tomini

Saturday, 8 August 2026
Berorganisasi Harus Taat Asas/Norma Bukan Sekadar Foto-foto

Berorganisasi Harus Taat Asas/Norma Bukan Sekadar Foto-foto

Saturday, 8 August 2026

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Kota yang Mencari Anak-anaknya,  81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

Kota yang Mencari Anak-anaknya, 81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

Saturday, 15 August 2026
Polisi Dalami Longsor Tambang Hulawa

Polisi Dalami Longsor Tambang Hulawa

Friday, 14 August 2026
Dari Agromaritim ke Blue-Green-Gold Economy: Jalan Baru Gorontalo Menuju Pertumbuhan yang Inklusif dan Berkelanjutan

UNGnomics: Dari Kampus Kerakyatan Menuju Mesin Pertumbuhan Gorontalo

Friday, 14 August 2026
Kakak Prabowo Presiden RI Membuka…, MBG Menjadi Ajang Khusus Para Kontingen Jambore Nasional XII?   

Kakak Prabowo Presiden RI Membuka…, MBG Menjadi Ajang Khusus Para Kontingen Jambore Nasional XII?   

Saturday, 15 August 2026

Pos Populer

  • Muh. Amier Arham

    UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Tersangka Kasus Korupsi BSG Segera Disidang

    55 shares
    Share 22 Tweet 14
  • Kota yang Mencari Anak-anaknya, 81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Polisi Dalami Longsor Tambang Hulawa

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • UNGnomics: Dari Kampus Kerakyatan Menuju Mesin Pertumbuhan Gorontalo

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.