logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Rocky Gerung, Gorontalo dan Memaknai Sikap Kritis 

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Monday, 3 July 2023
in Persepsi
0
Bukan 17 Agustus 1945, Indonesia Merdeka 23 Januari 1942

DR.Funco Tanipu. (foto : istimewa)

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh :
DR. Funco Tanipu

Sebenarnya, saya jarang menonton pidato dan juga diskusi Rocky Gerung (Roger) akhir-akhir ini. Tapi, sejak Roger tampil di salah satu kampus swasta di Gorontalo hari ini (3 Juli 2023), membuat saya mesti sedikit menyimak apa yang sedang terjadi.

Jauh sebelum ini berlangsung, nama Roger sudah saya dengar sejak akhir tahun 90 an. Roger saat itu banyak terlibat pada aktifitas kemanusiaan, hak asasi dan demokrasi. Roger ikut mendirikan Setara Intitute, Forum Demokrasi dan ikut memperkuat gerakan feminisme di Indonesia.

Pada masa-masa menjelang Pemilu 2019, nama Roger kembali berkibar dan “dipertengkarkan”. Roger tampil dan diberi ruang “lebih” oleh Karni Ilyas di ILC TV One. Roger dan termasuk TV One memanfaatkan ruang itu untuk melakukan manuver-manuver atas nama akal sehat dan sebagainya.

Di kalangan filsafat, apa yang Roger sampaikan adalah hal-hal yang standar. Pilihan kata, diksi hingga kalimat yang ia utarakan bukan sesuatu yang luar biasa. Itu adalah sesuatu yang normal dalam diskusi filsafat dan akademik. Namun, Roger adalah sedikit dari filsuf di Indonesia yang berani tampil untuk berada dalam posisi yang berseberangan dengan kekuasaan. Roger yang khatam soal isu kiri, Marxist dan lainnya membuat posisinya tampak lebih “seksi” di mata publik.

Related Post

Batas-Batas Pengobatan

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Profesi-Profesi Hebat

Pertanyaannya kenapa Roger banyak mendapat sambutan dan pujaan? Sebab, Roger tahu bahwa pasca Orde Baru, minat literasi di Indonesia menurun drastis. Masyarakat Indonesia lebih suka pada “quote-quote”, video satu menit, dan potongan story di media sosial dibanding membaca buku-buku tebal karya pemikir filsafat atau ilmuwan lainnya. Roger tahu bahwa bukan saja di kalangan awam, di lingkungan akademik pun tradisi literasi dan kritis itu semakin menurun.

Bagi kalangan awam yang jauh dari tradisi itu, pasti akan terpukau dengan lontaran kata dan ujaran Roger. Semacam ada oase pemikiran baru. Padahal, apa yang Roger sampaikan adalah kepingan-kepingan pembacaan dan respon soal fenomena sosial. Roger, sebagaimana jika kita melihat karya akademik yang ia produksi, belum pada tahap menyusun konstruksi gagasan ; konseptual, sistematis, terukur, dan bisa direalisasikan. Dia jika kita simak dalam penampilan di kanal media sosial lebih pada merespon fenomena-fenomena sosial-politik yang sedang terjadi, khususnya “blunder-blunder” yang dilakukan dari pemerintah. Roger sederhananya hanya melakukan “snapshot-capture-posting”, tidak lebih dari itu. Pada level itu, publik terkesan gagap dalam merespon fenomena Roger.

LITERASI DAN RATING

Fenomena Roger pada intinya adalah kemunduran literasi. Kemunduran ini beriringan dengan semakin banyak aplikasi dan variasinya yang berkembang di media sosial. Jika kita lihat data dari Indonesia Digital Landscape tahun 2018, terlihat sangat terang dari 265.4 juta penduduk Indonesia, terdapat sekitar 132 juta jiwa yang menjadi “internet users”, diantara itu ada sekitar 130 juta jiwa yang aktif di media sosial. Dari jumlah itu, rata-rata yang menggunakan internet menghabiskan lebih dari 8 jam sehari. Dari 2/3 waktu itu, lebih banyak digunakan untuk menonton Youtube, menyimak postingan di Facebook, mereview story Instagram dan WhatsApp, sehingga konversi literasi dari analog ke digital bukan membawa tradisi literasi menjadi semakin baik namun semakin rendah.

Selain itu, “Rockynisasi” ini adalah kemunduran kita dalam hal merawat demokrasi. Seakan-akan Roger adalah wakil dan juru bicara publik yang berada di kubu yang berbeda dari pemerintahan. Semua keluh kesah dan kekesalan diwakilkan pada Rocky untuk menyuarakan. Padahal, soal mengkritik pemerintahan, mengawasi rezim dan melakukan perlawanan (jika out of track) adalah tugas semua rakyat, bukan Roger saja. Yang membahayakan jika Roger telah berubah menjadi representasi sikap publik Indonesia yang kritis. Pada tahap itu, gairah kritis publik akan semakin menurun, karena menganggap ada yang telah merepresentasikan atau mewakili suara publik.

Pada titik itu, publik terjebak pada pada keindahan tutur kata Roger dalam bentuk kritik. Publik lalu kemudian secara massif lalu berebut dan waktu untuk membagikan video, menuliskan quote dalam media sosial dan banyak “perayaan” lainnya atas “lahirnya” idola baru ini.

Roger dan selanjutnya layaknya sinetron yang penuh dramaturgi. Sebab, dibalik itu adalah media yang bekerja dalam skema produksi, dengan jajanan yang memanfaatkan sentinmen dan pembelahan kubu jelang Pilpres. Dalam konteks makro, Rocky adalah bagian dari skema industri media yang tujuan akhirnya adalah naiknya rating dan keuntungan. Hasilnya apa, beberapa waktu silam, Indonesia Lawyers Club yang digagas TV One berada pada tingkat paling tinggi untuk acara Talkwshow di Indonesia, ILC memperoleh nilai 3.08 dari penilaian yang dilakukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Hasil yang sama juga bisa dilihat dari Program Talkshow Berita terfavorit Panasonic Gobel Awards 2018, ILC TV One berhasil mengungguli Kick Andy Metro TV, Mata Najwa Trans TV dan Rosi Kompas TV.

MERAYAKAN KRITIK

Namun, apa yang telah Rocky lakukan sendirian perlu mendapat apresiasi, khususnya soal sikap kritis, walaupun tidak semua mesti diterima dengan akal yang sehat tentunya. Apa yang dia sampaikan soal “kedunguan” adalah hal yang perlu dinalar dan diperiksa lagi, apakah itu semacam perilaku kolektif atau hanya menjangkiti kalangan tertentu. Termasuk jika misalnya itu perilaku umum, bagaimana bisa berlaku dan terjadi, utamanya soal respon publik terhadap situasi sosial-politik.

Bahwa jika ada yang keliru dan salah terhadap pemerintahan memang mesti diawasi, dikritik dan dilawan jika memang perlu. Persoalan Rocky mendaratkan pilihan politik yang berseberangan adalah hal lumrah dalam demokrasi, perlu ada pihak yang melakukan oposisi untuk menjaga kesembangan demokrasi.

Pernah suatu ketika Rocky dilapor ke Kepolisian terkait istilah fiksi yang ia lontarkan. Memang Rocky “terpeleset” soal itu, walaupun ia yakin dengan itu. Kitab suci, khususnya Al Qur’an bukan sesuatu yang fiksi, ada juga fakta-fakta lampau yang termaktub dalam kitab suci. Apalagi dalam Al Qur’an berisi ketentuan-ketentuan yang pasti untuk diyakini. Ketentuan termasuk aturan bukan sesuatu yang imajinatif, karena akan dan pasti berlaku. Dalam konteks kewaktuan memang belum terjadi, tapi fakta-fakta historis telah menjadi bagian untuk mengukuhkan ketentuan dan aturan yang berlaku di masa akan datang. Walaupun, hampir semua maklum bahwa kejadian pengucapan “fiksi” ini terjadi di waktu yang telah lama, begitu pun dengan laporan Lapian yang tertanda April 2018, namun yang uniknya pemeriksaan Roger baru dilakukan pada Februari 2019, itupun saat Roger sudah pada puncak “memekakkan” telinga.

Bagi saya pribadi, perayaan kegirangan atas “Rockynisasi” ini mesti direnungkan kembali. Roger sebagai “aktifitas politik” tidak boleh dibiarkan sendirian dan berdiri tunggal. Mesti diproduksi “Roger-roger” yang lain dan berjumlah banyak, dalam rangka menjamin keseimbangan politik di negeri ini. Bukan saja pada periode saat ini, tapi pada setiap periode dan pada setiap skala dan termasuk level.

Yang keliru misalnya jika Roger hanya diversuskan Presiden Jokowi saja, seolah-ola misalnya alamat kesalahan di negeri ini cukup ditujukan pada Presiden Jokowi, pada elit yang lain tidak, atau pada kepala daerah yang memiliki otoritas kekuasaan yang cukup besar malah tidak, walaupun misalnya mengelola negara dengan pola yang timpang, tidak adil, dan jauh dari harapan publik.

Perlu sikap fair juga dalam melihat segala aspek kritik, tanpa kemudian menghilangkan makna dan tujuannya. Agar sikap kritik yang dikembangkan itu bukan dalam maksud “asal bukan”.

Saya berbeda dengan alm. Cornelis Lay yang pada pidato pengukuhan dirinya menjadi Guru Besar Ilmu Politik UGM pada 2019 silam, menyatakan bahwa ada jalan ketiga dimana peran intelektual adalah bersahabat dengan kekuasaan dengan syarat menjaga kewarasan dan akal sehat. Pada konteks itu saya agak berbeda, dalam kondisi yang tidak stabil, perlu juga ada barisan intelektual yang terus berada diluar pemerintahan untuk mengawasi dan melakukan kritik secara terus menerus (day to day critic). Hal tersebut seperti apa yang Roger sedang lakukan saat ini.

Sebagai penutup, merawat akal sehat bukan saja ditafsirkan dengan mengaduk adonan kebijakan bersama pemerintahan, tapi memanggang api semangat kritis juga perlu untuk terus dilakukan dan dirawat.

Bagaimana Gorontalo kita? Tentu kehadiran Roger di Gorontalo perlu kita lihat juga dari perspektif kritis, tidak sekedar asal tepuk tangan. Apakah kemudian akan bisa melahirkan refleksi mengenai sikap kritis terhadap pemerintahan daerah? Atau kemudian bisa membentuk dan menggerakkan jangkar intelektual lokal dalam mengawasi jalannya pemerintahan? Atau hanya menjadi bagian dari skenario elit yang tujuannya menggerakkan “suara kritis” yang pada akhirnya bermuara pada pembajakan demokrasi itu sendiri? Walllahu a’lam. (*)

Penulis adalah sosiolog, dosen UNG

Tags: funco tanipupersepsiRocky GerungSikap KritisUGUNG

Related Posts

Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026
Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural   

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Monday, 20 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Saturday, 11 April 2026
Basri Amin

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Monday, 6 April 2026
Next Post
Skuad Elite KFC DBL Indonesia All-Star 2023 Belajar di Chicago  

Skuad Elite KFC DBL Indonesia All-Star 2023 Belajar di Chicago  

Discussion about this post

Rekomendasi

AKBP H. Busroni

Pidana Menanti Polisi Terlibat PETI, Janji Kapolres Pohuwato, Termasuk Sanksi Internal

Wednesday, 22 April 2026
Pohuwato The Gold of Celebes

Pohuwato The Gold of Celebes

Monday, 27 February 2023
Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

Monday, 20 April 2026
Empat orang tersangka resmi ditahan oleh Satuan Reskrim Polres Pohuwato, terkait kasus dugaan penganiayaan.

Empat Tersangka Penganiayaan Ditahan, Lokasi Kejadian di Area PETI DAM Pohuwato

Thursday, 23 April 2026

Pos Populer

  • Dua orang remaja meninggal dunia setelah menabrak sebuah mobil tronton yang terparkir di jalan Trans Sulawesi, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo.

    Tabrak Tronton Dua Remaja Tewas, Hilang Kendali Saat Tronton Terparkir di Tepi Jalan

    185 shares
    Share 74 Tweet 46
  • Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    181 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

    123 shares
    Share 49 Tweet 31
  • Batas-Batas Pengobatan

    83 shares
    Share 33 Tweet 21
  • Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

    76 shares
    Share 30 Tweet 19
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.