Oleh:
Basri Amin
HARI Ahad pagi memberi saya pelajaran berharga tentang kehati-hatian kepada mahluk lain bernama tanaman dan bunga-bunga. Saya ceroboh memperlakukan tanaman mangga di sudut rumah. Rantingnya saya “layout” tanpa memikirkan “otak” tanaman tersebut. Istri saya ngomel betul tentang kejadian ini.
Entah hamparan bunga Keukenhof di Lisse- Belanda Selatan atau gardenia Tomohon di Minahasa, daya pikat tanaman dan bunga-bunga selalu melintasi (imajinasi) manusia. Sebagiannya bisa dinikmati dan dimiliki, meski tak akan mungkin seluruhnya bisa dihadirkan dan dikuasai. Ada faktor musim, landskap, selera budaya, kepemilikan, keaslian lokasional dan rujukan spirit-estetiknya masing-masing.
Bunga punya otonominya sendiri-sendiri: dalam kesendirian penampakannya, kehadirannya di bentangan alam atau di taman-taman pilihan.
Dalam urusan tanaman, termasuk bunga, saya selalu kagum dengan istri saya. Meski dia (cenderung) perfek untuk rupa-rupa urusan, tapi dia selalu mampu “melahirkan” dunia baru-yang berubah-ubah di tengah-tengah keseharian kami. Sejak 2008 di Hale-Hepu, ada saja seleksi yang unik tentang “jenis tumbuhan” dan “unsur kayu” apa yang dicap layak dan yang pas untuk kami.
Untuk perkara bunga dan taman, dia mengoleksi puluhan buku dan setumpuk majalah. Herannya, ia tak bermental meniru. Ia juga tak rentan terpukau dengan “koleksi” orang lain. Tak galau dengan harga dan jumlah. Sepertinya ia lebih sibuk “meyakinkan” saya bahwa bunga yang ‘ini’ dan yang ‘itu’ lebih cocok di ‘sini’ dan di ‘situ’.
Saya jadi sadar, bunga jadi bahan obrolan, bukan gombalan karena ikut-ikutan dan terdikte oleh pasar, gaya, harga, dan perlombaan.
Di beberapa titik, ada yang sengaja menjadi ruang “bebas” bagi mati-hidupnya tanaman tertentu. Ia terkadang hidup-mewarnai keseharian kami, tapi akan tiba pula saatnya untuk kami relakan ia pergi dan menjadi nostalgia. Satu spesies Bambu yang unik pernah sekian tahun menjadi sahabat yang hangat dan mengajarkan keacakan dan respek; ada pula Langge yang hijau-elok-subur di pinggir jendela dan di sudut rumah. Semuanya “bercakap” dengan gayanya masing-masing.
Kepada tanaman yang tinggi, kita (berusaha) belajar tentang kesan yang elok di mata dan resiko angin yang menimpa. Kepada “rumput liar”, kita (mencoba) belajar tentang kehadiran “gigitan semut” dan “kelincahan katak.”
Di dahan-dahan yang lain nan ringan, di sana burung bersarang dan terbang jauh. Tapi ia diam-diam mengajarkan tentang (keberagaman) bunyi-bunyi, cara-cara (mencari) makan dan pola-pola terbangan dan loncatan yang tak menjatuhkan diri dan makhluk lain.
Kepada tanaman berbuah, ia menguji kita tentang “etos berbagi” dan “menghitung waktu”. Buahnya jatuh dari ketinggian, sebagiannya masih enak kita makan, sementara yang lain (mengajarkan) kita tentang kerelaan kepada hak-hak makhluk lain (makanan burung, dkk) dan “siklus jatuh-tumbuh kembali” (biji, ranting dan daun-daunnya) di permukaan bumi.
Kepada bunga-bunga, kita jadi sadar bahwa kekuatannya terletak kepada karakter penampakan, variasi pertumbuhan, daya-hidupnya yang ringan-seimbang, serta sensasi visual, aura dan aroma yang menyertainya. Meski sebagiannya membawa “dampak” psikhis dan mitis tertentu, dunia bunga-bunga adalah sebuah percabangan bagi dunia manusia.
Sebab Tuhan pun ‘memperkenalkan’ tentang Sorga yang punya “Taman”, maka manusia pun, sejak awal kehadirannya, telah membawa imajinasi taman itu dalam kerja-kerja peradabannya.
Sejarah mencatat bagaimana kekaisaran, istana-istana dan kemewahan imperial di dunia, semuanya tak terpisah dengan falsafah dan nilai Bunga-Bunga. Bahkan hiasan-hiasan Kitab Suci, tempat-tempat ibadah, akademia filsafat, semuanya adalah “dunia bunga” yang diterjemahkan oleh kalangan arsitek, filsuf, sastrawan, cendekiawan, dan biarawan (Huang Lin, 1960).
Dalam tradisi Islam, ribuan tahun “kesenian floral” dengan sebaran motif dan medianya yang menakjubkan begitu dominan, baik di Siria, Bizantium, Iran, Mesir hingga di Asia Tengah (Sims, 2013).
Nyaris setiap jenis bunga yang dihadirkan di rumah punya cerita-unik-indahnya masing-masing. Ia juga pasti memintakan “perlakuan” berbeda. Dalam urusan ini, saya masih sering salah. Meski air itu baik dan penting, tapi durasi pemberian air kepada bunga selalu berbeda satu sama lain. Belum lagi soal volume, waktu yang tepat dan porsinya seperti apa.
Terbukti, melalui dunia bunga, kita -–sebagai manusia—masih harus banyak belajar tentang “kadar” dan bagaimana menentukan “ukuran” perlakuan. Di baliknya ada bahasa dan sentuhan yang (selalu) berbeda.
Sejak dari akar sampai ke warna daun dan sela-sela cabangnya, terus berlanjut kepada pembesaran, pemekaran, dan lingkaran-lingkaran lilitan batangnya, semuanya bisa berubah sebagai perkara yang ribet setiap saat. Wadahnya pun harus dipastikan. Antara yang alami, yang ber-unsur besi dan kayu, jenis (kesuburan) tanah dan campurannya, kelengketan dan posisi pencahayaan, kecocokan ukuran pot dan peletakannya, semuanya hadir jadi “urusan” harian.
Bunga-bunga dan pertamanan kini telah berubah dari sesuatu yang bersifat hiasan dan/atau hiburan menjadi sebuah rutinitas yang mensyaratkan perhatian, penyaksian-penyaksian dan keterkejutan-keterkejutan. Seperti itulah emosi per-bunga-an di rumah-rumah dan di lingkungan sekitar kita. Tak jarang, ia berubah dari emosi-estetik menjadi emosi-material.
Kepada ‘bunga plastik’ di kantor-kantor, adakah kepalsuan nyata yang kita rasakan? Jangan-jangan, dari situlah kepalsuan kesadaran memekarkan sayap-sayapnya setiap waktu…
Bagaimana pun, bunga-bunga membuka “ruang pasar” dengan harga dan kesibukan yang terpisah-pisah: pilihan jenisnya, pemeliharaannya, fasilitas pendukung, dst. Batas waktu dan aksi antara membeli, menanam, memelihara, kecewa dengan hama/penyakit, kecurian dan kematian, kegiatan menjual lagi, membagi berita foto, status medsos, dan cerita, berbagi kepada kawan dan kerabat, dan menikmatinya secara privat, kesemuanya campur-baur.
Di acara-acara keluarga, teman sejawat dan tetangga, percakapan tentang bunga adalah selipan yang seru. Ciutan foto-foto dan potongan-potongan koleksi yang terlacak online/offline selalu menawarkan kesan dan rasa gemas. Antara sensasi menikmati, membeli dan memiliki “bunga” tertentu, bercampur-baur dengan intensi penataan/pengaturan dan atraksi suasana yang dibayangkan. Untuk mencapai itu, orang lantas mensimulasi ruang dan uang miliknya, demi sebuah taman/pertamanan, atau demi pekarangan rumah yang lapang dan keluangan yang damai dan sejuk.
Bidang ini pun sudah lama melahirkan spesialisasi. Ia menantang dipelajari, bisa dijual/disewakan, bahkan punya “daya tawar” ekonomis.
Acara besar tanpa taman yang elok pasti terasa hampa. Kantor-kantor tanpa jejeran tata-bunga yang terancang pasti terasa kering. Di sini, bunga-bunga memberi “pesan” dan “kesan” dalam penyempurnaan ruang, wibawa, aura dan intimasi. Lebih dari itu, dalam tradisi Tionghoa dikenal keberadaan Dewi Maku yang senang mengumpul bunga-bunga dewata, dengan simbolisme religius yang menyertainya (Lin, 1960).
Tapi jika salah menyikapi, yang kita saksikan dan rasakan bukan lagi sebuah “keindahan” yang privat —ingat, selera bunga dan resepsi setiap orang pasti beda— melainkan akan berubah menjadi “pelampiasan” yang memintakan perluasan ruang tambahan: berbagi foto koleksi dan suasana taman di status kita di media-media sosial. Bunga, di tahap ini, “dipaksa” melayani kegalauan (pemiliknya?) akan pujian dan apresiasi di ruang media.
Apalagi, bagi mereka yang akrab dengan desas-desus bunga, terkadang menampilkan koleksi bunga ber-“harga mahal”, plus jenis tertentu, sebagai bagian dari narasi “citra diri” yang berulang. Kisah-kisah jual-beli bunga, sugesti para kolektor dan pembiakan-pembiakan “rahasia” yang berteknologi khusus, makin sering mewarnai animo dan gosip per-bunga-an itu. Sering pula terselip isu lain: tanaman obat, pengusir nyamuk dan setan, pembawa rejeki dan penangkal bahaya, serta peliharaan tanaman dari ‘Surga’, dst
Tanaman berbuga di negeri ini adalah “surga” tersendiri. Sudah diklaim oleh sains lebih dua puluh sembilan ribu spesies, dari perkiraan sekitar 40.000 spesies yang masih atau yang pernah ada di Nusantara. Paling kurang, tercatat 15.000 spesies yang kini sudah teridentifikasi di berbagai titik (Britannica; inaturalis). Upaya konservasi dan riset masih terus berkembang, kendati perubahan iklim, perlakuan dan serangan penyakit sudah pasti memberi dampak. ***
Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu
E-mail: basriamin@gmail.com












