gorontalopost.co.id— Malaria menyerang Desa Lamu, Kecamatan Batudaa Pantai. Sebanyak 11 warga teridentifikasi positif malaria dan satu di antaranya meninggal dunia setelah mengalami malaria falciparum berat dengan sejumlah komplikasi. Kasus ini membuat Puskesmas Batudaa Pantai bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo turun melakukan penyelidikan epidemiologi dan pencarian kasus secara aktif untuk mencegah penularan meluas.
Dikutip dari laman resmi Pemda Kabupaten Gorontalo, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Afriyani Katili mengatakan, warga yang terpapar diketahui memiliki riwayat perjalanan dari lokasi pertambangan. Faktor tersebut kini menjadi salah satu petunjuk yang ditelusuri tim kesehatan dalam penyelidikan epidemiologi.
Penanganan terhadap kasus pertama dimulai pada 20 September. Saat itu, empat warga yang memeriksakan diri ke Puskesmas Batudaa Pantai dinyatakan positif malaria. Sehari kemudian, enam warga lainnya menjalani pemeriksaan dan beberapa di antaranya harus menjalani rawat inap. Salah satu pasien datang dalam kondisi berat sehingga harus dirujuk ke rumah sakit. Setelah mendapat perawatan intensif, pasien tersebut meninggal dunia pada 23 September. “Pasien tersebut meninggal dengan diagnosis medis malaria falciparum berat yang disertai komplikasi sepsis, gagal napas, dan hipoalbuminemia,” kata Afriyani.
Kepala Puskesmas Batudaa Pantai Nining Utiarahman mengatakan pasien sempat menjalani perawatan di ICU RS Aloei Saboe Kota Gorontalo, setelah kondisinya terus menurun hingga mengalami penurunan kesadaran. Sementara pasien lainnya mulai menunjukkan perkembangan. Empat pasien telah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan. Lima pasien lainnya telah menjalani pemeriksaan darah ulang dan evaluasi medis, dengan kemungkinan dipulangkan jika kondisinya stabil. Satu pasien masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Otanaha Kota Gorontalo. Di Desa Lamu, tim kesehatan kini bergerak dari rumah ke rumah untuk mencari kemungkinan kasus baru. Pemeriksaan dilakukan terhadap warga yang memiliki gejala maupun mereka yang memiliki faktor risiko. Tim juga menelusuri riwayat aktivitas, perjalanan dan kondisi lingkungan warga sebagai bagian dari penyelidikan epidemiologi. “Kami melakukan pencarian kasus secara aktif untuk menemukan warga lain yang terpapar atau berisiko sehingga dapat segera diperiksa dan ditangani,” ujar Afriyani.
Terkait kemungkinan penyemprotan lingkungan, Dinas Kesehatan masih menunggu rekomendasi berdasarkan hasil penyelidikan tim di lapangan. Afriyani meminta warga tidak panik, tetapi segera memeriksakan diri jika mengalami gejala yang mengarah pada malaria, terutama demam, menggigil dan sakit kepala. Warga dengan riwayat aktivitas di area pertambangan diminta lebih waspada. Puskesmas Batudaa Pantai juga terus memantau kondisi warga untuk memastikan kasus yang ditemukan dapat segera ditangani dan tidak berkembang menjadi penularan baru. (tro)













Discussion about this post