Oleh:
Herwin Mopangga
Muh. Amier Arham, Guru Besar Ekonomi sekaligus Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, dalam tulisannya “UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua” di Gorontalo Post 10 Agustus 2026 mengajukan perspektif menarik. Data penerimaan mahasiswa baru 2026 memperlihatkan realitas sosial di balik gerbang perguruan tinggi, sebagian besar calon mahasiswa yang mengajukan KIP-K berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Bahkan terdapat calon mahasiswa yang telah dinyatakan lulus tetapi belum melakukan pendaftaran kembali. Fakta tersebut membawa Amier pada sebuah terminologi penting, UNG sebagai Kampus Kerakyatan.
Saya ingin melanjutkan diskursus itu dengan pertanyaan berbeda. Jika UNG adalah kampus kerakyatan karena membuka akses pendidikan tinggi kepada masyarakat luas, apa yang terjadi terhadap perekonomian Gorontalo ketika puluhan ribu mahasiswa belajar, tinggal, makan, bertransportasi, berinteraksi dan menjalankan aktivitas ekonominya di dalam ekosistem UNG?
Pertanyaan inilah yang membawa kita kepada konsep UNGnomics; The Economics of Universitas Negeri Gorontalo. Dari Kampus Kerakyatan ke Kampus Berdampak. Kampus kerakyatan dan kampus berdampak sesungguhnya berada pada satu garis pembangunan yang sama. Kampus kerakyatan berbicara mengenai akses, sedangkan Kampus Berdampak berbicara mengenai hasil dan perubahan. Ketika anak petani, nelayan, pedagang, ASN, pekerja informal dan keluarga berpendapatan rendah memperoleh akses pendidikan tinggi maka UNG sedang menjalankan fungsi redistribusi kesempatan. Ketika pendidikan tersebut meningkatkan kompetensi, produktivitas, pekerjaan dan pendapatan mereka, UNG menghasilkan mobilitas sosial.
Dalam terminologi ekonomi pembangunan, proses tersebut disebut human capital formation. Karena itu investasi paling penting UNG bukanlah gedung, laboratorium ataupun jalan kampus. Investasi terbesarnya adalah manusia. Seorang anak dari keluarga sederhana yang masuk UNG kemudian menjadi guru, dokter, ekonom, insinyur, pengusaha atau birokrat mengalami perubahan produktivitas dan pendapatan yang dapat mengubah kehidupan keluarganya lintas generasi. Di sinilah “kampus kerakyatan” bertemu dengan “kampus berdampak”.
UNG adalah Ekosistem Ekonomi
Namun dampaknya tidak berhenti ketika mahasiswa memperoleh ijazah. Setiap hari aktivitas UNG menggerakkan ekonomi. Mahasiswa membayar kos, membeli makanan, menggunakan bentor, mencuci pakaian, membeli pulsa, mencetak tugas, menikmati kopi dan menggunakan berbagai layanan digital. Dosen dan tenaga kependidikan membelanjakan pendapatannya. Universitas membeli barang dan jasa, membangun infrastruktur serta menggunakan berbagai pemasok. Satu transaksi menciptakan transaksi berikutnya. Dalam ekonomi regional proses ini dikenal sebagai multiplier effect.
Bagi mahasiswa yang berasal dari luar Gorontalo bahkan terjadi sesuatu yang lebih menarik. Kiriman biaya hidup dari keluarga mereka merupakan interregional capital inflow: uang dari luar daerah masuk kemudian berputar dalam perekonomian Gorontalo. Maka pertanyaan yang seharusnya mulai kita ajukan adalah: berapa rupiah ekonomi Gorontalo bergerak setiap tahun karena UNG?
UNG Mengubah Wajah Wilayah
Dampak UNG bahkan dapat dilihat secara kasatmata dari perubahan ruang. Kampus utama di Kota Gorontalo telah lama membentuk ekosistem perdagangan, hunian mahasiswa, kuliner, transportasi dan jasa. Perkembangan kampus di Bone Bolango menghasilkan dinamika baru berupa lahan yang berubah fungsi, rumah makan, kafe dan indekos yang tumbuh. Mobilitas meningkat, harga tanah bergerak dan investor membaca peluang. Fenomena ini dapat disebut campus-led urbanization. Artinya, UNG bukan hanya penghuni sebuah kota, melainkan ikut menciptakan kota. Kita karena itu perlu menghitung bukan hanya berapa investasi yang dilakukan UNG, tetapi berapa investasi masyarakat dan swasta yang muncul karena UNG berada di sana. Itulah catalytic effect universitas.
Kampus Kerakyatan Membutuhkan Ekonomi yang Sehat
Disinilah argumentasi Amier mengenai kerentanan ekonomi keluarga mahasiswa menjadi semakin relevan. Persoalan pembayaran UKT bukan semata persoalan administrasi perguruan tinggi. Ia merupakan cermin kondisi ekonomi rumah tangga. Ketika pendapatan keluarga stagnan sementara pangan, perumahan, transportasi, kesehatan dan kebutuhan pendidikan meningkat, kemampuan membiayai pendidikan tinggi ikut tertekan. Artinya terdapat hubungan dua arah:
Ekonomi Gorontalo memengaruhi UNG, tetapi UNG juga memengaruhi ekonomi Gorontalo.
Ini merupakan bagian penting dari UNGnomics. Ketika ekonomi daerah melemah, kemampuan keluarga membiayai kuliah menurun. Sebaliknya, ketika akses terhadap UNG menyempit karena persoalan pembiayaan, Gorontalo berisiko kehilangan kesempatan membangun modal manusianya. Karena itu kebijakan beasiswa bukan sekadar kebijakan sosial. Dalam perspektif jangka panjang, ia adalah investasi pembangunan ekonomi.
Dari Penelitian Menuju Perubahan
Dimensi berikutnya adalah pengetahuan. Universitas menghasilkan penelitian, tetapi Kampus Berdampak menuntut pertanyaan yang lebih keras: siapa yang menggunakan penelitian tersebut dan apa yang berubah setelahnya? Riset pertanian disebut berdampak ketika teknologi digunakan petani dan produktivitas meningkat. Penelitian UMKM berdampak ketika omzet atau daya saing usaha meningkat. Penelitian kesehatan berdampak ketika kualitas kesehatan masyarakat membaik. Kajian ekonomi berdampak ketika digunakan pemerintah memperbaiki kebijakan. Rantainya harus menjadi: Research → Innovation → Adoption → Impact. Dengan demikian UNG dapat berkembang bukan hanya sebagai education institution, tetapi sebagai knowledge infrastructure Gorontalo
Jangan Hanya Menghitung yang Positif
Tetapi gagasan Kampus Berdampak juga tidak boleh terjebak dalam romantisme. Pertumbuhan kawasan kampus dapat meningkatkan harga tanah dan sewa rumah, kemacetan, sampah, kebutuhan air dan energi, bahkan mendorong urban sprawl. Masyarakat yang memiliki tanah mungkin menikmati kenaikan kekayaan, sedangkan masyarakat penyewa justru menghadapi biaya hidup lebih tinggi. Karena itu UNGnomics harus menghitung net impact. Manfaat ekonomi + sosial + pendidikan + inovasi harus diperbandingkan dengan biaya lingkungan + kemacetan + tekanan infrastruktur + ketimpangan spasial. Keberanian menghitung kedua sisi justru akan membuat klaim Kampus Berdampak lebih kredibel.
Saatnya Menghitung UNGnomics
Selama ini kita mudah menemukan data jumlah mahasiswa, dosen, program studi, lulusan, penelitian dan kegiatan pengabdian. Kini pertanyaannya perlu dinaikkan kelas. Berapa pekerjaan tercipta karena UNG? Berapa UMKM hidup dari ekosistem kampus? Berapa uang mahasiswa luar daerah masuk ke Gorontalo? Seberapa besar kampus meningkatkan nilai tanah dan investasi? Berapa besar wage premium alumni? Berapa banyak riset UNG diadopsi masyarakat, dunia usaha dan pemerintah? Bahkan pada akhirnya kita perlu mengetahui: Setiap Rp1 aktivitas ekonomi UNG menciptakan berapa rupiah tambahan aktivitas ekonomi di Gorontalo? Inilah yang disebut UNGnomics.
UNG Bukan Sekadar Berada di Gorontalo
Gagasan Kampus Kerakyatan mengingatkan kita bahwa universitas harus membuka pintunya kepada masyarakat seluas mungkin. Kampus Berdampak membawa mandat tersebut lebih jauh: setelah pintu dibuka, kehadiran universitas harus menghasilkan perubahan. Maka keduanya sesungguhnya merupakan satu perjalanan, Kampus Kerakyatan → Akses Pendidikan → Human Capital → Produktivitas → Mobilitas Sosial → Multiplier Effect → Kampus Berdampak.
Pada akhirnya, UNG bukan hanya institusi pendidikan tinggi. Ia merupakan salah satu infrastruktur ekonomi, sosial, pengetahuan dan perkotaan terbesar di Provinsi Gorontalo. UNG bukan sekadar berada di Gorontalo, tetapi UNG ikut membentuk Gorontalo. Karena itu ukuran keberhasilan universitas pada masa depan tidak cukup dijawab dengan pertanyaan: “Seberapa besar dan hebat UNG?” Pertanyaannya harus dinaikkan menjadi “Seberapa jauh Gorontalo menjadi lebih maju karena UNG ada di dalamnya?” Jika Kampus Kerakyatan menjelaskan untuk siapa UNG hadir, maka UNGnomics mengajak kita menghitung seberapa besar kehadiran itu mengubah kehidupan mereka. Di titik itulah Kampus Kerakyatan benar-benar menjadi Kampus Berdampak. (*)
Penulis adalah Dosen FEB UNG













Discussion about this post