Gorontalopost.co.id, GORONTALO — Harga minyak goreng di Gorontalo mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) per 22 Juli 2026 menunjukkan Gorontalo menempati posisi teratas sebagai daerah dengan harga minyak goreng dan beras paling mahal di Indonesia.
Pada komoditas minyak goreng di pasar tradisional, harga tercatat mencapai Rp27.100 per kilogram pada 22 Juli 2026, naik dari Rp27.000 per kilogram dua hari sebelumnya. Angka tersebut menjadi yang tertinggi secara nasional dan menempatkan Gorontalo di atas seluruh provinsi lainnya.
Harga minyak goreng termurah tercatat di Sulawesi Barat dengan kisaran Rp23.250 per kilogram. Selisih hampir Rp4.000 per kilogram dibandingkan harga di Gorontalo menunjukkan adanya perbedaan biaya yang cukup signifikan di tingkat konsumen.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Kumperindag) Provinsi Gorontalo Fayzal Lamakaraka mengungkap, penyebab tingginya harga beras dan minyak goreng di Gorontalo, Kamis (23/7). Kenaikan harga dipengaruhi oleh terganggunya distribusi pasokan serta berkurangnya ketersediaan stok beras.
Fayzal menerangkan, distribusi minyak goreng melalui jalur laut mengalami hambatan akibat penumpukan kontainer di Pelabuhan Gorontalo. Kondisi itu diperparah dengan terbatasnya operasional crane dan antrean truk pengangkut yang harus mengisi BBM solar terlebih dahulu.
“Pihak perusahaan pelayaran memilih menaikkan biaya sewa kontainer akibat dwelling time diatas hingga Rp20jt per kontainer, sebelumnya Rp. 11jt/kontainer. Ini berdampak pada kenaikan harga komoditi di tingkat distributor,” jelas Fayzal.
Hambatan distribusi menyebabkan waktu bongkar muat kapal dan kontainer menjadi lebih lama. Dampaknya, biaya sewa kontainer meningkat sehingga harga jual minyak goreng di tingkat distributor ikut naik.
Melalui jalur darat, distribusi barang juga terkendala antrean panjang BBM solar di SPBU Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Sebagian angkutan akhirnya menggunakan BBM nonsubsidi dengan biaya lebih tinggi, sehingga distributor menyesuaikan harga jual komoditas.
Sementara itu, harga beras meningkat akibat menurunnya produksi karena kemarau panjang. Pasokan dari luar daerah juga terlambat masuk karena distribusi ikut terdampak keterbatasan BBM solar.
“Penurunan pasokan distribusi, jumlah produksi barang pokok,dan adanya kebijakan kenaikan harga dari pihak distributor, khususnya komoditi minyak goreng dan beras yang masuk ke pasar rakyat menyebabkan pedagang mengambil langkah menaikkan harga jual barang pokok,” kata Fayzal.
Untuk mengatasi persoalan itu, KSOP Pelabuhan Gorontalo menyiapkan sejumlah langkah jangka pendek dan menengah. Upaya tersebut meliputi pengendalian waktu bongkar muat, penyeimbangan arus kontainer, penambahan lahan penyimpanan kontainer, serta peningkatan investasi oleh PT Pelindo.
Di sisi lain, Pertamina juga tengah menyiapkan mekanisme pendistribusian BBM yang lebih efektif di SPBU. Langkah ini diharapkan dapat memperlancar distribusi barang dan membantu menstabilkan harga kebutuhan pokok di Gorontalo. (tro)














Discussion about this post