logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Kota yang Terluka

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 27 July 2026
in Persepsi
0
Basri Amin

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Basri Amin
Parner di Voice-of-HaleHepu

 

KOTA yang jujur selalu menyadarkan tentang keaslian (perangai) kita. Begitu banyak harapan kepada setiap kota yang kita bangun. Demikian juga dengan daftar keluhan dan persoalan. Untuk memenuhi setiap harapan, sepertinya cara “menyicil” merupakan pilihan, agar kota-kota kita tidak sesak nafas dengan harapan-harapannya sendiri.

Kota yang kelihatan sibuk tapi sesugguhnya dari waktu ke waktu tak punya arah dan angan-angan jangka panjang. Kota yang punya banyak pejabat, tapi selalu terkesan tidak beroleh “kepemimpinan” yang otentik memihak.

Related Post

Kota yang Mencari Anak-anaknya, 81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

UNGnomics: Dari Kampus Kerakyatan Menuju Mesin Pertumbuhan Gorontalo

Kakak Prabowo Presiden RI Membuka…, MBG Menjadi Ajang Khusus Para Kontingen Jambore Nasional XII?   

UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

Beban yang terus membesar membutuhkan penyikapan, pelibatan dan penyesuaian tindakan dan cara bernalar. Jika tidak, yang kita bangun hanyalah sebuah kota yang berisi keramaian dan kerumunan. Kota seperti ini pada akhirnya hanya akan mewariskan “luka” yang terus menganga

Masa depan sebuah kota terlalu penting untuk hanya diserahkan kepada pemerintah. Apalagi, jika perangai yang dibangun oleh pemerintah kota lebih banyak memproduksi “kata-kata” dan “piagam-piagam” lencana, tapi tidak sepenuhnya memperlihatkan kerelaan cerdas untuk “belajar” dengan tuntas, agar lebih memahami yang rinci dan mampu memungut masukan-masukan dan jalan-jalan (keluar) yang kreatif atas setiap persoalan.

Tidak semua kota sukses memelihara modalnya yang unik, yakni keterbukaan dan kejujurannya dalam menemukan kesalahan. Ada kesan yang kuat, pemerintah kota-kota di negeri ini lebih sibuk menebar “tontonan” dan kesan-kesan yang dangkal –-termasuk beragam gaya seremoni— daripada sungguh-sungguh mengerahkan kemampuan tata-kelola terbaiknya dan dengan sikap itu pula ia rela berkeringat untuk perbaikan-perbaikan mendasar.

Kata-kata yang disertai angka-angka tentang kemajuan sebuah kota hanyalah lapisan luar dari apa-apa yang sesungguhnya terjadi dalam masyarakatnya. Tak perlu kita berbasa-basi bahwa kota-kota kita masih menampung angka kemiskinan yang lumayan; demikian juga dengan rentannya rasa aman dan nyaman di berbagai sudut. Belakangan, orientasi seksual yang “tidak biasa” di mata masyarakat pun semakin tampak di ruang-ruang publik perkotaan.

Di luar itu, kriminalitas dan penggunaan narkoba sejak awal sudah menyasar berbagai segmen; belum lagi dengan premanisme dan beragam illegalitas lainnya. Dan pada saat yang sama roda pasar dan sektor perdagangan memaksa pemanfaatan ruang di perkotaan, tidak jarang membuahkan gesekan dan guncangan di sudut-sudut perparkiran, pertokoan, dan perumahan.

Setiap jengkal ruang kota hendaknya dipastikan status dan kontribusi (fungsionalnya) dalam pembangunan perkotaan kita. Dengan begitu, “tata ruang” tidak sekadar gincu dari motif kita yang sebenarnya, yakni “tata uang”. Di kota, antara ruang dan uang sudah sangat tumpang-tindih.

Di sinilah letaknya mengapa kuasa (pemerintah) mudah digeser oleh kuasa-kuasa “lain” di luar dirinya, terutama karena kepentingan penguasaan ruang merupakan kekuatan paling keras yang menekan (otoritas) negara di perkotaan. Jika ini tidak disadari sejak awal dengan memadai, maka sebuah kota tak lagi punya ruh dan identitas. Ia tak lebih sebagai tumpukan pemukiman, pertokoan, dan tempat hiburan saja yang disesaki dengan gedung, gudang dan gugusan komoditi, orang dan kendaraan yang lalu-lalang.

Kota sejatinya di bangun di atas sejarah, gagasan, aksi-aksi pembaruan yang berani, dan gerakan tertentu. Meski setiap kota tetaplah mempunyai semacam “luka” yang membutnya perih, entah itu sebuah luka di masa lalu dan/atau di masa kini, tapi kota tetaplah merupakan pencapaian kebudayaan manusia yang tinggi. Tak heran kalau orang cenderung menyenangi kota dan berlomba-lomba untuk tinggal di kota, menjadi warga yang urbanized.

Pertumbuhan kota-kota baru di dunia, terutama di Asia, menjadi bukti nyata atas sejarah baru ini. Secara teknis, hanya dalam ukuran 15-20 tahun, sebuah wilayah yang tandus dan pinggiran, bisa menjadi kota yang subur dan aktif. Sekali arus manusia, barang, modal, informasi dan transportasi bergerak bersama, kota pun akan tumbuh dengan “otomatis”. Beberapa kota (pulau) di Asia misalnya, memperlihatkan gejala positif ini. Kota ibarat “gula” dan yang lainnya akan berposisi sebagai “semut” yang mengikuti.

Sekian kali saya berada di Yogyakarta, Bandung, dan Malang, menyaksikan dengan amat jelas betapa kota ini menjadi “magnet” besar yang unik di sektor pendidikan dan kebudayaan. Semua kita tahu, Yogyakarta misalnya, sudah sangat lama berperan sebagai kota pelajar. Atmosfir sosialnya sudah terbangun sejak awal. Tak heran kalau kota ini menjadi oase perjumpaan yang “istimewa” antara modernisme dan tradisi. Sehingga, antara yang mondial dan yang lokal bisa berbagi secara kreatif, sekaligus mengajak untuk saling mengajukan pertanyaan dan rencana-rencana.

Sebagai sebuah kota yang sudah “matang”, Yogya pun tentu saja tak pernah bebas dari “beban” baru yang terus bertambah dan mengepungnya. Tapi karena kematangan (identitas) kotanya, tak heran kalau setiap orang di Yogya -–dalam kesan umum saya–, sadar atau tidak, sepertinya terlatih mengemban tugas-tugas keindonesiaan di satu sisi, tapi juga mengerjakan diri melakoni amanah-amanah global-nya di sisi lain, yakni sebagai bagian dari dunia dan sebagai anak negeri yang datang dari ratusan daerah di negeri ini. Semua bekerja! Semua sibuk untuk maju! Bagaimana dengan kota Anda?***

Penulis adalah
Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN)
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminHarian PersepsiPersesispektrum sosialtulisan basri amintulisan persepsi

Related Posts

Kota yang Mencari Anak-anaknya,  81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

Kota yang Mencari Anak-anaknya, 81 Tahun Merdeka, Saatnya Anak Kembali Bersekolah

Saturday, 15 August 2026
Kakak Prabowo Presiden RI Membuka…, MBG Menjadi Ajang Khusus Para Kontingen Jambore Nasional XII?   

Kakak Prabowo Presiden RI Membuka…, MBG Menjadi Ajang Khusus Para Kontingen Jambore Nasional XII?   

Saturday, 15 August 2026
Dari Agromaritim ke Blue-Green-Gold Economy: Jalan Baru Gorontalo Menuju Pertumbuhan yang Inklusif dan Berkelanjutan

UNGnomics: Dari Kampus Kerakyatan Menuju Mesin Pertumbuhan Gorontalo

Friday, 14 August 2026
Muh. Amier Arham

UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

Monday, 10 August 2026
Basri Amin

Indonesia Raya “Lahir” di Sulawesi

Monday, 10 August 2026
Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Menenun Indonesia Emas 2045 dari Pesisir Teluk Tomini

Saturday, 8 August 2026
Next Post
Terpilih Secara Aklamasi, Dr. Muhammad Isman Jusuf Pimpin GABSI Gorontalo

Terpilih Secara Aklamasi, Dr. Muhammad Isman Jusuf Pimpin GABSI Gorontalo

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

666 Napi di Gorontalo Terima Remisi, 19 Orang Bebas

666 Napi di Gorontalo Terima Remisi, 19 Orang Bebas

Monday, 17 August 2026
Gubernur Gusnar Serukan Kemerdekaan yang Tak Berhenti di Upacara

Gubernur Gusnar Serukan Kemerdekaan yang Tak Berhenti di Upacara

Monday, 17 August 2026
Tak Ada Emas Seharga Nyawa, Boyke Bakar Semangat Ribuan Pekerja Pani Gold Mine di HUT ke-81 RI

Tak Ada Emas Seharga Nyawa, Boyke Bakar Semangat Ribuan Pekerja Pani Gold Mine di HUT ke-81 RI

Monday, 17 August 2026
Datuk Merdeka

Datuk Merdeka

Monday, 17 August 2026

Pos Populer

  • Muh. Amier Arham

    UNG Kampus Kerakyatan, Berdampak Untuk Semua

    19 shares
    Share 8 Tweet 5
  • Longsor Tambang DAM Pohuwato, Kapolres: 15 Saksi Sudah Diperiksa

    64 shares
    Share 26 Tweet 16
  • Polisi Dalami Longsor Tambang Hulawa

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
  • 666 Napi di Gorontalo Terima Remisi, 19 Orang Bebas

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Gubernur Gusnar Serukan Kemerdekaan yang Tak Berhenti di Upacara

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.