Oleh:
Basri Amin
TANGGAL 20 Juli hari ini ‘memendam’ momentum yang menegaskan sejarah (bola) Spanyol. Bukan hanya karena memperlihatkan kebesarannya di panggung World Cup 2026, tetapi juga akan memicu pembahasan-pembahasan terbatas tentang kedudukan pemain-pemain Muslim yang tampil di Spanyol sejauh ini. Yang terkemuka memang adalah pemain fonemenal termuda Spanyol Lamine Yamal
Spanyol rupanya menjadi tempat yang cukup nyaman bagi pemain-pemain bola yang beragama Islam. Tidak kurang dari 38 orang pemain muslim tersebar di klub-klub Spanyol (https://jurnalisbola.com/pemain-islam-liga-spanyol/). Selain karena negeri ini memiliki klub bola yang cukup banyak dan ternama yang memintakan “seleksi ketat” bagi kualitas pemain, rupanya bola itu sendiri sudah menjadi “identitas” popular Spanyol modern.
Dengan menyebut nama Barcelona, Valencia dan Real Madrid misalnya, sudah lebih dari cukup mewakili reputasi Spanyol. Sebagai juara Euro pada 1964, 2008, 2012, dan 2024, jelas pula bahwa Spanyol adalah yang negara bola teratas jejaknya di benua Eropa. Dalam hal ini, reputasi Jerman dan Perancis sudah terlampaui.
Tetapi, di 1950-an, bola Spanyol sebenarnya pernah resisten dengan “orang luar” –-bahkan sampai tahun 1963 masih muncul larangan bagi pemain ‘luar” –karena dianggap akan mencemari karakter taktik permainan utama Spanyol, yakni: “sabar yang agresif, jantan dan ‘pemarah’…”. Hingga tahun 1974, Spanyol belum memberi tanda-tanda hebat di Piala Dunia (Goldblatt, 2006: 415-417).
Sisi Lain Spanyol: “Peradaban Islam”
Tanggal 20 di bulan Februari 1992, Spanyol mencatatkan jejak besar sejarahnya yang lain. Di hari itu, pemikir Islam yang juga tercatat sebagai negarawan, jurnalis, aktivis, diplomat, dan Cendekiawan, Muhammad Asad (1900—1992), wafat di Spanyol. Tepatnya di kota Mijas, provinsi Malaga.
Ia dimakamkan di pemakaman Muslim di Granada, sebuah kota peradaban (Islam) Spanyol yang abadi jejaknya hingga hari ini, setelah tidak kurang tiga abad menjadi pusat perkembangan Islam (Watt, 1967: 166, A History of Islamic Spain). Ini, selain sebagai takdir, sekaligus memberi makna yang sangat simbolis tentang “Sejarah Islam” di Eropa, khususnya (di) Spanyol sendiri dan wilayah sekitarnya.
Jika dunia bola punya jejak panjang yang kini semakin popular, apatah lagi dengan dunia pemikiran, perjumpaan budaya, dan karya-karya pengetahuan. Spanyol adalah negeri yang nyaris memiliki itu semua, bahkan bisa dikatakan luar biasa terutama jika kita menyimak pengaruh-relasional antara Spanyol dan Maroko misalnya. Sangat jelas memperlihatkan “ikatan kultural” yang unik itu.
JULI tahun 2026 ini adalah ulang tahun ke-126 Muhammad Asad. Nama aslinya, sebelum masuk Islam, adalah Leopold Weiss. Lahir di Lwow, Austria (saat ini kota tersebut masuk wilayah Polandia dan Ukraina). Sejak usianya 22 tahun, ia sudah meninggalkan negerinya, menjadi wartawan dan penulis di Jerman, dan mempelajari banyak hal di negara-negara Islam.
Bagi kita di Indonesia, Cendekiawan muslim (di) Barat ini, memberi banyak pengetahuan dan nama harum, kendati tak semua cita-cita besarnya terwujud (di) Barat dan di (dunia) Islam di Asia dan Afrika. Beberapa bukunya diterjemahkan di Indonesia sejak tahun 1981. Ia sendiri belajar di Universitas Al-Azhar dan lama tinggal di Madinah.
Di Indonesia, adalah KH. Agus Salim yang kenal dekat dengan Asad. Keduanya bertemu kali pertama di musim Haji tahun 1930-an. Di Makkah, Agus Salim memperkenalkan Muhammad Asad kepada Sayyid Ahmad Al-Sanusi, syaikh besar Tarekat Sanusiyah –yang memimpin perjuangan Muslim di Afrika Utara, melawan imperialisme Perancis dan Italia—di masa itu. Sejak itu, Muhammad Asad sangat mengagumi Sayyid Ahmad Al-Sanusi, dan menjadi seseorang yang amat dia cintai di seluruh Jazirah Arab (Burhanuddin, dkk, 2017: 1311—1317; M.W. Hofmann, The Message of the Quran, 1319–1323).
Muhamad Asad punya rencana besar ke Indonesia, China, dan Turkmenistan, tetapi ia terlanjur terpukau (1932) dengan ajakan Muhammad Iqbal –-sang filosof dan sastrawan Pakistan–. Kendati di sana ia gagal memenuhi gagasan “kebangkitan Islam” bersama-sama dengan Iqbal, bahkan akhirnya tertolak, meski ia sempat menjadi wakil Pakistan di PBB, New York (1952).
Jalan pemikiran dan perjuangan membawanya melanjutkan kembara peradabannya ke Amerika, Maroko, Swiss dan (akhirnya!) di Spanyol. Yang jelas, sejak awal Asad sangat terganggu dengan Zionis Yahudi di Yerussalem. Karena tempaan hidup, penyaksian spiritual dan kegelisahan intelektualnya, pada 27 April 1927, ia resmi “memeluk Islam” di Kairo, Mesir.
Dari Spanyol, karya-karya Asad semakin terkenal, terutama melalui publikasi seorang muridnya dari Jerman, Murad Wilfred Hofmann. Ia juga seorang mualaf dan mantan Duta Besar Jerman di Timur Tengah dan menulis tentang Asad dalam bahasa Jerman dan Inggris. Bukunya, The Road to Mecca (1954), sangat luas terbaca dan memicu banyak orang memilih “jalan Islam” di negeri-negeri Barat.
Karya magnum opus-nya adalah The Message of the Qur’an tahun 1980 (Hofmann, 2017: 1319). Kalangan Wahabi di Arab Saudi sangat menentang terjemahan Al-Qur’an oleh Asad ini, sementara sejak terbitnya sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris (sangat terkenal dan menjadi rujukan banyak sarjana), Jerman, Swedia, Turki, Ukraina, Ibrani, dan Bahasa Indonesia (tiga jilid yang mewah, Mizan, 2017).
Dari Spanyol, nama besar Muhammad Asad tetap menggaung di dunia. Ia menjadi “jembatan” dunia Barat dan Islam, dan karena itulah maka sebuah lapangan di depan gerbang markas PBB di Wina, Austria, mengabadikan namanya menjadi “Muhamad Asad Platz” tahun 2008. Inilah Lapangan pertama di Austria yang mengabadaikan nama seorang Muslim: Muhamad Asad (Lepold Weiss).
Jika hari-hari ini Bola Dunia menampilkan Spanyol di posisinya yang istimewa, adalah penting pula memicu wawasan peradaban kita yang lebih luas, jauh melebihi sebuah nama olah raga dan jejeran pemain-pemain ternama yang indah, keras, dan terlatih di lapangan bola, dari kejuaraan yang satu hingga ke level World Cup 2026 di bulan Juli ini. ***











Discussion about this post