Gorontalopost.co.id, GORONTALO —- Dampak lingkungan akibat polusi udara berupa debu dan bintik arang dari tungku pembakaran sebuah pabrik tahu di kawasan Jalan Gorontalo Outer Ring Road (GORR), Kabupaten Bone Bolango, mulai memakan korban. Korban merupakan warga yang bermukim di sekitar lokasi pabrik.
Seorang bocah berusia 8 tahun 4 bulan bernama Alnaira Amaturi harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Toto Kabila, Bone Bolango, karena mengalami demam tinggi, batuk, muntah, hingga sesak napas.
Kepada Gorontalo Post, ibu korban, Yulianti Koiyo, mengatakan beberapa hari sebelum anaknya dilarikan ke rumah sakit, ia telah mengeluhkan adanya bintik arang dan debu yang masuk ke dalam rumah, bahkan hingga ke kamar tidur.
Menurutnya, bintik arang tersebut berasal dari cerobong asap tungku pembakaran kayu milik pabrik tahu yang berada di sebelah rumahnya di Desa Talulobutu Selatan, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango. “Anak saya dilarikan ke RS Toto Kabila pada Minggu, 19 Juli, sekitar pukul 16.00 Wita karena mengalami demam tinggi, batuk-batuk, hingga muntah,” kata Yulianti.
Setelah menjalani perawatan selama lima hari, pada Jumat, 24 Juli, Alnaira diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan. Namun, pada malam harinya hingga keesokan pagi, kondisinya kembali memburuk. Ia mengalami demam tinggi, batuk terus-menerus, muntah, hingga tidak bisa tidur.
Yulianti akhirnya kembali membawa Alnaira ke rumah sakit pada Sabtu, 25 Juli, sekitar pukul 06.00 Wita. Kali ini, anaknya langsung dirujuk ke Rumah Sakit Aloei Saboe (RSAS). Berdasarkan hasil pemeriksaan foto rontgen di instalasi radiologi, Alnaira didiagnosis menderita bronkitis, yaitu peradangan pada dinding saluran bronkus atau saluran yang menghubungkan tenggorokan dengan paru-paru.
Kondisi tersebut umumnya disebabkan oleh infeksi virus atau iritasi akibat paparan asap dan polusi udara. “Kalau karena asap rokok saya rasa tidak mungkin, karena di dalam rumah semuanya perempuan dan suami saya juga bukan perokok,” ungkap Yulianti.
Yulianti mengungkapkan, sebelumnya Alnaira juga pernah menjalani perawatan di rumah sakit dengan keluhan yang sama, yakni sesak napas. Ia menyayangkan hasil mediasi yang dilakukan pemerintah kecamatan, dinas terkait, dan pemerintah desa yang sebelumnya menjamin tidak akan ada lagi bintik arang maupun debu yang masuk ke rumah warga. Namun, menurutnya, hingga kini kondisi tersebut masih terus terjadi.
“Anak saya sekarang malah makin parah. Kalau memang tidak ada tindakan dari Pemda Bone Bolango, khususnya dinas terkait, untuk menutup pabrik tersebut, saya akan mengadukan persoalan ini ke DPRD agar jeritan kami bisa didengar langsung oleh wakil rakyat. Kami ingin Pemda Bone Bolango dan pemilik pabrik tahu dipanggil dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP),” tegas Yulianti.
Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bone Bolango, Dian Susilo, mengatakan pihaknya telah meminta Camat Tapa dan pihak Puskesmas turun langsung ke lokasi.
Menurut Dian, laporan tertulis dari Camat Tapa, Puskesmas, dan Dinas Lingkungan Hidup akan menjadi dasar pengambilan keputusan. Langkah tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan pencemaran udara yang diduga menyebabkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di sekitar pabrik tahu tersebut.
“Ya, laporan tertulisnya belum kami terima. Insyaallah besok (hari ini, red) kami akan berkoordinasi dengan Camat Tapa, Puskesmas, serta kembali turun ke lokasi untuk menentukan langkah yang akan kami ambil,” tutup Dian Susilo. (roy)













Discussion about this post