logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Carilah Muka

Lukman Husain by Lukman Husain
Sunday, 29 March 2026
in Disway
0
Carilah Muka
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

 

Setengah jam lagi jadwalnya tiba: berangkat dari Tarim ke Mukalla, kota pantai, ibu kota provinsi Hadramaut, Yaman. Saya pun siap terguncang-guncang di jalan selama lima jam.

Tapi waktu seperti berhenti di Tarim. Satu-satunya yang tepat waktu hanyalah azan. Saya pun menunggu dan menunggu. Kendaraan yang ditunggu belum datang.

Related Post

Ya Tidak

Jumat Keramat

Iris Istri

PLN Transisi

Setengah jam. Satu jam. Satu setengah jam. Saya menunggu di pinggir jalan. Di simpang empat berdebu di pojok pondok Darul Mustofa.

Untung waktu kecil saya biasa di situasi seperti itu. Waktu itu juga tidak pernah ada kejelasan jam keberangkatan kendaraan umum. Di mana-mana. Juga di stasiun Paron di Ngawi untuk jurusan Jogorogo. Kendaraannya, waktu itu, disebut oplet. Berangkatnya bukan jam berapa, tapi menunggu apakah sudah ada sejumlah penumpang yang akan dibawa.

Setelah menunggu lebih 1,5 jam, ”oplet” saya di Tarim tiba. Bagus. Toyota Noah. Mirip Innova. Di sebelah sopir sudah ada penumpang. Di kursi belakang sudah tiga orang. Masih ada tiga tempat duduk di tengah. Tapi calon penumpangnya hanya dua: saya dan Amang. Berarti masih harus menunggu satu penumpang lagi.

Ternyata tidak. Meski satu kursi di tengah masih kosong Noah berangkat dari Tarim. Debu beterbangan ke mana-mana kena putaran roda belakang Noah. Lumayan. Kursi tengah yang kosong ini membuat ruang agak longgar.

Begitu meninggalkan kota Tarim yang terlihat hanya gunung dan gunung. Bukan gunung batu. Itu gunung tanah. Permukaan gunung itu rata. Kalau di Indonesia akan disebut gunung meja. Tapi tidak ada gunung meja di Indonesia yang seluas itu.

Begitu banyak meja-meja luas di sepanjang mata memandang. Sebenarnya indah sekali. Tapi kalau keindahan berjejer dengan keindahan yang sama akhirnya tidak kelihatan mana yang indah. Apalagi jumlahnya banyak sekali.

Yang kelihatan adalah gersang. Kegersangan yang indah. Keindahan yang gersang. Sesekali timbul rasa ngeri. Di sela-sela meja itu terlihat rekahan-rekahan jurang yang dalam –seperti bumi di sini pernah hampir kiamat tapi tidak jadi.

Jalannya sendiri beraspal. Cukup untuk satu mobil dari arah sini dan satu mobil ke arah sana. Kualitas aspalnya seperti umumnya jalan non tol di Indonesia. Tidak mulus tapi juga tidak banyak berlubang.

“Apakah ini juga jalan menuju ke Oman?” tanya saya kepada Amang.

“Bukan. Ke Oman arahnya lain lagi,” jawab Amang.

Waktu saya tiba di Tarim, Amang masih di Oman. Keesokan harinya baru pulang dari Salalah, kota di Oman yang paling dekat Hadramaut. Amang jalan darat dari Salalah ke Tarim: 18 jam.

Orang Indonesia yang sekolah di Hadramaut juga biasa pulang dari Tarim lewat Salalah. Jalan darat. Dari Salalah ada penerbangan ke Doha –lanjut ke Jakarta.

Tapi ketika pergi ke Tarim tidak bisa lewat jalur yang sama. Harusnya bisa saja Jakarta-Doha-Salalah –sambung jalan darat ke Tarim. Atau Jakarta Dubai-Salalah. Jakarta-Muscat-Salalah. Tapi tidak bisa. Anda tidak bisa masuk Yaman dari Salalah. Hanya pulang dari Yaman boleh lewat Salalah.

Masuk ke Yaman berarti masuk ke ketidakpastian. Oman tidak mengijinkannya. Tapi keluar dari Yaman adalah meninggalkan ketidakpastian: boleh.

Saya pernah ke Salalah –zaman masih muda. Bahkan kali pertama saya ke luar negeri adalah ke Oman –ke Muscat dan Salalah. Itu kalau Tawao tidak bisa dikatakan luar negeri.

Saya ke Oman lagi tahun lalu. Sudah seperti bumi dan sidratul muntaha. Oman sudah menjadi negara modern yang kaya –dengan mata uang terkuat kedua di dunia, setelah Kuwait.

Hadramaut sebenarnya beruntung punya tetangga kaya semua: Oman di Timur dan Saudi di Utara. Tapi nasib memang tidak ditentukan oleh tetangga.

Itu beda dengan Indonesia Timur: tetangganya miskin semua. Di utara ada Mindanau yang miskin. Di Timur ada Papua Nugini yang lebih miskin. Di selatan sebenarnya ada Australia yang kaya, tapi yang terdekat dengan Indonesia adalah bagian Australia yang paling miskin: Darwin. Lalu punya tetangga baru, sayangnya juga miskin: Timor Leste.

Sebaiknya memang jangan menggantungkan nasib kepada siapa pun –apalagi ke tetangga yang lebih miskin.

Untuk menghilangkan kebosanan saya menjawil penumpang di kursi depan. Saya tahu ia orang Indonesia. Dari wajahnya. Saya duga ia mahasiswa yang sedang kuliah di Tarim.

“Anda Indonesia kan? Dari daerah mana?”

“Saya dari Kartasura, Solo,” katanya.

“Sudah berapa lama di Tarim?”

“Satu tahun setengah”.

“Ke Mukalla untuk liburan?”

“Tidak. Saya akan operasi mata”.

“Hah? Operasi mata di Mukalla? Kenapa?”

“Mata saya minus. Cepat lelah kalau membaca kitab. Lampu di kamar saya kan tidak terang. Sering mati pula,” katanya.

“Operasi apa?”

“Lasik”.

“Berarti setelah operasi nanti tidak perlu lagi pakai kacamata?”

“Begitulah. Lebih enak”.

“Kapan operasinya?”

“Besok pagi”.

“Sudah janji lewat online”?

“Lewat telepon”.

“Berapa hari di Mukalla?”

“Besok operasi. Satu minggu lagi kontrol. Lalu kembali ke Tarim”.

“Tinggal di mana selama di Mukalla?”

“Di tempat teman dari Indonesia”.

Noah pun berhenti. Di tengah padang gunung yang gersang. Ada masjid kecil di pinggir jalan itu. Masjid yang seperti dikitari debu.

Kami semua turun dari mobil. Ke toilet yang berdebu. Lalu masuk masjid. Tidak ada karpet di lantainya. Hanya ada keramik. Debunya terlihat tebal di atas keramik itu.

Awalnya saya agak ragu salat di lantai berdebu seperti itu. Ada rasa jijik. Masak dahi ini harus menempel ke debu itu. Sudah terlalu lama biasa salat di masjid ber-AC dan berkarpet tebal di Indonesia. Jijiknya bukan main. Apalagi kaki yang basah oleh air wudu harus menginjak debu di lantai masjid. Muncul jejak-jejak telapak di lantai.

Setelah termangu sejenak saya ingat: inti salat adalah merendahkan hati serendah-rendahnya. Itulah mengapa harus rela menaruh muka yang sering dipakai cari muka ini ke tempat terendah di atas bumi: lantai. Tanah. Debu adalah tanah. Ke lantai berdebu itulah wajah basah ini kusujudkan. “Rasakan,” kata saya dalam hati kepada diri sendiri: “carilah muka di situ,” kata saya lagi. “Tidak ada lagi tempat mendongakkan kesombongan di situ.”

Di situ, di lantai berdebu itu, sujud justru perlu lebih berlama-lama.(*)

Tags: Catatan DahlanDahlan IskanDISDiswayharian disway

Related Posts

Ya Tidak

Ya Tidak

Thursday, 22 October 2026
Jumat Keramat

Jumat Keramat

Monday, 19 October 2026
Iris Istri

Iris Istri

Saturday, 17 October 2026
PLN Transisi

PLN Transisi

Saturday, 17 October 2026
Camino Nakasendo

Camino Nakasendo

Friday, 16 October 2026
Hati Ngadirejo

Hati Ngadirejo

Wednesday, 14 October 2026
Next Post
Tinjau SPBU Pertamina Patra Niaga Sulawesi Pastikan Kesiapan Energi Saat Hadapi Arus Balik 

Tinjau SPBU Pertamina Patra Niaga Sulawesi Pastikan Kesiapan Energi Saat Hadapi Arus Balik 

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi (Bukan) Kewajiban Negara

Vietnam Melompat ke Depan, Indonesia Melompat di Tempat

Tuesday, 27 October 2026
Basri Amin

Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

Monday, 26 October 2026
Hendak Dipasok ke Tambang Ilegal, 30,1 Ton Solar Bersubsidi Diamankan Polisi

Hendak Dipasok ke Tambang Ilegal, 30,1 Ton Solar Bersubsidi Diamankan Polisi

Tuesday, 27 October 2026
Muhammad Firdaus AF

Sinergi Daerah Kunci Stabilitas Harga Pangan

Wednesday, 28 October 2026

Pos Populer

  • Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    Akui Lecehkan Dua Mahasiswi Bimbingan Sikripsi, Oknum Dosen Serahkan Diri ke Polisi

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Lolos dari Gorontalo, Polda Metro Jaya Amankan 54 Ton Batu Hitam, Lima Orang Ditangkap

    74 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Generasi Penerus dan Generasi “Terus-Menerus”

    74 shares
    Share 30 Tweet 19
  • Demo Jilid II Membayangi Polda, Wakapolda Pasang Kuda-Kuda, Ingatkan Personel Tetap Humanis

    72 shares
    Share 29 Tweet 18
  • Vietnam Melompat ke Depan, Indonesia Melompat di Tempat

    43 shares
    Share 17 Tweet 11
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 4 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.