logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Disway

Cinta Alwi

Lukman Husain by Lukman Husain
Saturday, 23 May 2026
in Disway
0
Cinta Alwi
Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh:
Dahlan Iskan

Kali pertama melihat Banda, pekan lalu, perasaan saya campur aduk: siapa pemilik Banda. Sepertinya tetap Indonesia; –yakni Indonesia yang sibuk dengan MBG, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, rupiah yang melemah, saham yang berguguran, dan ekspor sawit batu bara.

Dermaga kapal ini masih mengingatkan saya situasi Kaltim 50 tahun yang lalu. Lautnya sendiri bersih dan tenang. Dermaga Banda tetap di teluk yang damai oleh perlindungan pulau besar di depannya: pulau Banda Besar. Masih diayomi pula pulau Gunung Api yang menjulang tidak tinggi di sebelahnya. Tapi kapal yang bersandar di situ juga tidak banyak. Hanya satu kapal cepat yang saya tumpangi tadi, satu kapal kayu pengangkut sembako dari Ambon dan beberapa perahu bermotor jurusan pulau-pulau sekitar Banda.

Warung dan toko di sekitar dermaga juga lengang. Beberapa ojek sepeda motor menunggu penumpang yang turun dari perahu. Ada satu pasar; di kiri kanan jalan menuju pelabuhan. Tapi pasar itu hanya terlihat lapaknya.

Related Post

Kanan Dalam

Neo Pop

Lewat Pasrah

Agus Deyang

Pasar itu memang hanya hidup ketika ada kapal Pelni merapat ke pelabuhan di dekatnya. Penumpang yang transit beberapa jam di Banda boleh turun untuk beli makanan di pasar itu. Begitu kapal membuang sauh pasar pun tutup –sampai kedatangan Pelni berikutnya.


—

Tidak jauh dari pasar itulah rumah pembuangan Bung Sjahrir –Sutan Sjahrir yang kelak di akhir tahun 1945 menjadi perdana menteri Indonesia. Itu rumah kuno. Rumah Belanda. Tidak terawat. Saya melangkah masuk ke rumah itu. Seorang wanita tua duduk diam di kursi di pojok rumah. Dia tidak peduli sekitarnya. Pun tidak peduli ada orang masuk ke rumah itu.

Saya pun melihat-lihat foto masa lalu di dindingnya. Foto yang sudah tidak terlalu jelas. Teks fotonya pun kecil kecil. Tidak terbaca untuk tatapan mata orang setua saya. Pemasangan fotonya juga asal-asalan. Terasa foto itu juga tidak peduli apakah akan dilihat orang atau tidak.


—

Hanya foto-foto di ruangan depan yang besar itu yang bisa saya lihat. Pintu-pintu ke ruang belakang tertutup. Saya pun mendatangi ibu yang di pojok: “Apakah saya boleh ke ruang belakang?”.

“Saya tinggal di situ,” katanyi lirih.

“Dengan siapa tinggal di situ?”

“Dengan suami”.

“Anak-anak?”

“Sudah tinggal di rumah mereka sendiri”.

“Ibu pegawai di sini?”

“Bukan”.

“Siapa yang menggaji ibu?”

“Tidak ada”.

“Siapa yang menugaskan ibu tinggal di sini?”

“Bapak Des Alwi, almarhum”.

Saya tidak bisa mengorek informasi selanjutnya. Ibu itu terlihat lemah, dan tidak peduli. Tapi saya tahu siapa Des Alwi. Pernah berjumpa dan bicara-bicara dengannya.

Anda juga sudah tahu siapa Des Alwi: tokoh utama dan satu-satunya asal Banda.

Saat duo Bung –Bung Hatta dan Bung Sjahrir– dibuang ke Banda, Des Alwi masih seorang anak berumur delapan tahun. Ia menarik perhatian duo Bung. Diajari ilmu pengetahuan. Rasa kebangsaan. Nasionalisme. Anti penjajahan. Si Alwi diangkat anak oleh duo Bung.

Saat penjajah Jepang mulai masuk ke Maluku, duo Bung dipulangkan ke Jakarta. Alwi sudah berumur 14 tahun. Ia diajak serta ke Jakarta.

Dua tahun kemudian Alwi-lah yang mendapat tugas memonitor perkembangan Perang Dunia II lewat radio gelap. Alwi yang menjaga agar radio itu berada di tempat yang aman dari mata-mata penjajah.

Radio itulah yang menyiarkan berita bahwa Jepang telah menyerah. Alwi melaporkan perkembangan itu ke Sjahrir. Lalu menyebar ke anak-anak muda aktivis kemerdekaan. Anak-anak muda itulah yang berkeinginan agar Indonesia merdeka –saat itu juga.

Merekalah yang berdiskusi: kalau Indonesia merdeka siapa presiden kita yang pertama. Mereka memilih tokoh ini: Amir Syarifuddin. Mereka mencari di mana Amir berada: tidak ditemukan. Akhirnya mereka tahu Amir sedang ditangkap Jepang dan dimasukkan penjara Lowokwaru, di Malang. Pemuda Arema sudah diinstruksikan agar mengeluarkan paksa Amir dari penjara tapi gagal.

Akhirnya anak-anak muda itu mencari calon presiden pilihan kedua: Sutan Sjahrir. Hanya saja Sjahrir menolak. Dirayu pun tidak mau. Sjahrir merasa masih terlalu muda. Baru 35 tahun. Tidak ada MK waktu itu.

Justru Sjahrir minta ke anak-anak muda itu agar presiden pertama kita Bung Karno saja. Mereka akhirnya mencari Bung Karno. Mereka sudah menduga: Bung Karno tidak setuju Indonesia merdeka saat itu juga. Bung Karno pilih menunggu janji Jepang yang kelak akan memerdekakan Indonesia.

Selebihnya Anda sudah tahu: para pemuda itu menculik Bung Karno dan Bung Hatta untuk dibawa ke Rengasdengklok, dipaksa menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Kelak Des Alwi jadi pengusaha besar. Jadi diplomat. Jadi ahli sejarah –khususnya sejarah Banda dan Maluku. Ia pun disekolahkan di Belanda, jadi duta besar dan jadi tokoh nasional.

Tapi kecintaan utamanya tetap pada Banda. Ia bikin yayasan. Bikin perguruan tinggi. Merawat benda-benda bersejarah di sana. Merawat rumah yang pernah ditempati Bung Hatta, Bung Sjahrir, Dr Cipto Mangunkusumo dan Dr Iwa Kusuma Sumantri –dua nama terakhir dibuang ke Banda tahun 1927, jauh sebelum dua nama pertama.


—


—

Keduanya dibuang karena dianggap terlibat gerakan komunis yang melawan Belanda. Dr Cipto, orang Pecangaan, Jepara, adalah orang pertama yang berjuang agar Indonesia punya pemerintahan sendiri.

Dr Cipto sebenarnya akan segera dibebaskan kalau mau menandatangani pernyataan tidak akan bergerakbdi bidang politik. Dokter Cipto menolak. Ia menyatakan pilih mati di Banda daripada menandatanganinya. Dr Cipto tidak sempat melihat Indonesia merdeka. Ia meninggal di tahun 1943.

Des Alwi yang mengurus pelestarian semua rumah tokoh tersebut –sampai ia meninggal dunia di tahun 2010. (*)

Tags: Catatan DahlanCinta AlwiDahlan IskanDiswayharian disway

Related Posts

Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026
--

Neo Pop

Monday, 8 June 2026
Lewat Pasrah

Lewat Pasrah

Saturday, 6 June 2026
--

Agus Deyang

Thursday, 4 June 2026
Bambang, tengah, usai makan malam.--

Jago Cimory

Thursday, 4 June 2026
Jago Comory

Jago Comory

Wednesday, 3 June 2026
Next Post
Center Point Bonbol Jadi Tempat Favorit Anak Muda untuk Nongkrong

Center Point Bonbol Jadi Tempat Favorit Anak Muda untuk Nongkrong

Discussion about this post

Rekomendasi

Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

Tuesday, 9 June 2026
Suasana perayaan HUT ke-68 Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea pada Ahad (7/6/2026) malam, di rumah pribadinya. (Foto: Prokopim)

Perayaan HUT ke-68 Adhan, Tak Pake APBD, Dirayakan Bareng Anak Yatim

Tuesday, 9 June 2026
Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea dan Wawali Indra Gobel tengah menikmati jajanan di Street Food Jilid II. (Foto: Prokopim)

Street Food Jilid II Diserbu Pengunjung, Omzet UMKM Capai Rp222 Juta dalam Semalam

Tuesday, 9 June 2026
Saya pikir itu rumor lama yang di-posting ulang di medsos: Chatib Basri akan jadi menteri keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Ternyata beda. Di rumor lama hanya berhenti sampai Chatib Basri jadi menkeu. Yang beredar sekarang ini ada lanjutannya: Purbaya dapat tugas baru sebagai gubernur Bank Indonesia. Tentu saya tahu Chatib Basri: Ia pernah jadi menteri keuangan di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saya juga mengikuti banyak karya tulisnya. Ia ekonom tulen. Ia hampir sama dengan Sri Mulyani tapi ada bedanya. Mereka sama-sama ekonom Universitas Indonesia tapi punya jalan berbeda setelah itu. Sri Mulyani produk Amerika. Chatib Basri ekonom lulusan Australia (the Australian National University, sebuah kampus riset di Canberra). Tulisan yang paling menyentak dari Chatib Basri diterbitkan di Kompas di akhir masa jabatan Presiden Jokowi. Sebenarnya cara Chatib menulis sudah sangat hati-hati tapi kejujuran yang muncul dari tulisan itu sangat menyentak: selama 10 tahun terakhir jumlah kelas menengah Indonesia mengalami penurunan sebanyak delapan juta orang. Itulah kali pertama ada ekonom yang melihat bahwa gemerlap ekonomi selama pemerintahan Jokowi ternyata menyimpan kenyataan pahit seperti itu. Pertumbuhan lima persen per tahun ternyata tidak membuat pendapatan per kapita rakyat Indonesia bisa mencapai angka USD5.000. Merosotnya jumlah kelas menengah itu sekaligus mengungkapkan sisi gelap pertumbuhan: siapa yang tumbuh. Kalau benar Chatib Basri akan menjadi menteri keuangan, sebenarnya seirama saja dengan misi Presiden Prabowo yang tampak sekarang. Sebenarnya banyak juga yang bimbang: biar pun pertumbuhan pendapatan per kapita kita amat-amat lambat, ekonomi Indonesia masih tergolong baik. Setidaknya lumayan. Lalu mengapa Presiden Prabowo berani mengubah yang sudah lumayan itu sampai membuat ekonomi terguncang begini berat –khususnya di kurs rupiah dan bursa saham? Salah satu jawabannya adalah tulisan Chatib Basri itu tadi: jumlah kelas menengah tidak boleh turun. Justru harus naik. Pendapatan per kapita tidak boleh berhenti di USD5.000. Itu bisa membuat Indonesia terjebak seperti diuraikan dalam teori "jebakan kelas menengah". Hanya saja sudah sangat jelas bahwa Chatib Basri adalah ekonom pro-pasar bebas. Ia belajar mendalam teori ekonomi seperti Keynesian, Monetarist, maupun Austrian School. Tapi ia bukan 100 persen pengikut aliran itu. Chatib masih percaya bahwa negara harus ikut campur dan mengarahkan. Maka kalau pun Chatib Basri itu tergolong aliran kanan, ia seorang pemain kanan dalam –bukan kanan luar murni seperti David Beckham atau Luis Vigo. Chatib itu seperti Johan Cruyff di tim juara dunia Belanda entah tahun berapa itu. Masalahnya: apakah Chatib Basri mau seandainya ditawari jabatan itu. Sebagai ekonom kanan, Chatib pastilah penganut disiplin fiskal yang ketat. Harus disiplin anggaran. Apakah Chatib bisa berada di bawah Presiden Prabowo yang begitu banyak punya keinginan dan semua keinginannya itu memakan biaya sangat besar. Sebelum ia mau menerima jabatan, apakah orang kampus murni seperti Chatib berani minta waktu bertemu Presiden Prabowo. Bukan sekadar bertemu tapi berdiskusi. Sebenarnya saya ingin orang seperti Chatib tampil di pemerintahan. Terutama kalau Purbaya punya hambatan fisik –yang diberitakan kian kurus badannya. Chatib sudah punya pengalaman menjabat menteri keuangan. Ia tidak bisa lagi disebut orang kampus murni. Ilmunya pernah diterapkan di kebijakan. Ia ikut mengatasi krisis keuangan yang berat di tahun 2008-2009. Juga saat Amerika melakukan pengetatan moneter. Tapi memang harus terjadi diskusi dulu dengan Presiden Prabowo: apa saja yang akan ia lakukan, dan apakah itu bisa diterima oleh Presiden. Rasanya Presiden akan bisa menerima pemikiran baru karena beliau seorang intelektual --salah satu ciri intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari berpikirnya. Apalagi kenyataan ekonomi yang dihadapi Presiden Prabowo sekarang sudah lebih buruk dari saat beliau menerima jabatan itu. Tentu dalam diskusi itu tidak harus ada yang kalah dan yang menang. Chatib Basri juga harus mendengar dasar-dasar pemikiran ekonomi presiden. Keduanya punya asumsi yang sama: sama-sama ingin ada perubahan agar Indonesia terhindar dari jebakan kelas menengah. Siapa tahu muncul ''kemenangan baru'': keinginan Presiden Prabowo tetap bisa terealisasikan tanpa harus terjadi keguncangan. Guncangan sudah telanjur terjadi. Tapi masih bisa diselamatkan. Saya termasuk yang ingin perubahan itu terjadi tapi juga tidak ingin terjadi guncangan yang berat. Dalam istilah saya di depan ribuan pengusaha di Batu, Malang, beberapa bulan lalu: Silakan pengusaha besar tidak perlu lagi dibantu tapi jangan diganggu. Saya berharap Chatib Basri mau menerima tawaran itu. Secara pribadi mungkin ia rugi. Terutama keluarganya. Apalagi risiko jadi pejabat publik di zaman ini amat berat. Clean saja tidak cukup. Harus clean and clear. Jabatan ini bisa membuat badan kurus, tidur sangat kurang, apalagi perhatian kepada keluarga. Tapi keluarga besar Indonesia menunggunya. Hanya jiwa pengabdian yang tinggi yang membuatnya mau –seperti seseorang dulu yang mati-matian tidak mau jadi dirut PLN sampai ada yang bilang: kelistrikan negara harus diselamatkan. Sekarang bukan hanya kelistrikan yang perlu diselamatkan. Tapi ekonomi seluruh negara.(

Kanan Dalam

Tuesday, 9 June 2026

Pos Populer

  • Petugas kepolisian mengamankan Pasutri di Kelurahan Hunggaluwa, Kecamatan Limboto, Senin (8/6/2026) dini hari.

    Resahkan Warga, Pasutri Berantem Diamankan Polisi

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • Pancasila Jangan di “Bibir” Saja

    13 shares
    Share 5 Tweet 3
  • PENAS Gorontalo Kamar Hotel Full Booking

    14 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Warga Wonosari Tewas Tersengat Listrik

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Gusnar-Idah Pimpin Rapat Evaluasi Persiapan PENAS XVII Gorontalo

    16 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.