logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Masjid, Manusia, dan Cara Kita Hidup Bersama

Lukman Husain by Lukman Husain
Monday, 15 December 2025
in Persepsi
0
Husin Ali

Husin Ali

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

Data Gambaran Fakta dan Dasar Perumusan Kebijakan

Oleh:
Husin Ali

Tulisan Dr. Funco Tanipu tentang masjid-masjid yang kian sepi di Gorontalo penting dibaca sebagai cara orang Gorontalo bercermin. Bukan untuk merendahkan diri, apalagi mengadili iman, melainkan untuk memahami bagaimana perubahan sosial bekerja di ruang paling intim umat: masjid.

Dalam antropologi, pertanyaan yang paling jujur sering kali bukan apa yang hilang, melainkan apa yang berubah. Masjid di Gorontalo tidak hilang. Ia berdiri, bertambah, bahkan semakin indah. Yang berubah adalah cara manusia berhubungan dengannya.

Tulisan ini tidak hendak membantah Funco Tanipu. Ia justru memperluas pembacaan itu, dengan menempatkan masjid sebagai ruang hidup manusia, bukan semata bangunan ibadah.

Masjid Tetap Ada, Kehidupan Bergerak

Masjid masih ramai pada shalat Jumat. Hari-hari besar keagamaan tetap dirayakan dengan penuh khidmat. Ini menunjukkan satu hal yang patut dicatat dengan jujur: agama tetap hidup di Gorontalo.

Namun pada hari-hari biasa, masjid lebih sunyi. Ini bukan pertanda iman melemah, melainkan tanda bahwa ritme hidup manusia berubah. Orang bekerja lebih lama, bergerak lebih cepat, dan memilih ruang ibadah yang paling dekat dengan aktivitas sehari-hari.

Dalam perspektif antropologi, perubahan ini wajar. Setiap masyarakat selalu menyesuaikan praktik keagamaannya dengan struktur hidup yang sedang berlangsung. Yang perlu diperhatikan bukan perubahan itu sendiri, melainkan apa yang ikut hilang dalam prosesnya.

Yang Sunyi Bukan Masjid, Melainkan Proses Pewarisan Nilai

Dahulu, masjid adalah tempat orang belajar menjadi orang. Anak-anak belajar tertib bukan dari larangan, melainkan dari kebiasaan. Remaja belajar hormat bukan dari nasihat panjang, tetapi dari kehadiran orang dewasa. Nilai hidup lewat praktik sehari-hari.

Hari ini, nilai masih sering disebut, tetapi jarang dibiasakan dalam ruang bersama. Pendidikan karakter berpindah ke sekolah, ke modul, ke seminar. Masjid, yang dulu menjadi sekolah sosial paling efektif, menyempit perannya menjadi ruang ritual.

Dalam antropologi populer, ini disebut sebagai pergeseran ruang belajar sosial. Nilai tidak hilang, tetapi tempat belajarnya berpindah—dan sering kali, tidak tergantikan.

Kearifan Lokal: Hidup dalam Ingatan, Menunggu Dirawat

Gorontalo memiliki falsafah yang kokoh: adati hulo-hulo’a to syareati, syareati hulo-hulo’a to Kitabullah. Falsafah ini tidak pernah pudar. Ia hidup dalam bahasa, dalam adat, dalam cara orang Gorontalo memandang agama.

Namun kearifan lokal tidak bekerja otomatis. Ia perlu ruang untuk dipraktikkan. Dalam kehidupan sehari-hari, masjid seharusnya menjadi ruang itu—tempat adat, syariat, dan kehidupan modern saling bertemu.

Ketika masjid hanya difungsikan secara minimal, kearifan lokal tetap ada, tetapi tidak menemukan ritme hidupnya.

Tentang Masjid Raya dan Makna Konsistensi

Gagasan pembangunan Masjid Raya atau Islamic Center di Gorontalo, yang berulang kali dicanangkan dari satu periode ke periode berikutnya, memperlihatkan betapa kuatnya hasrat kolektif untuk menghadirkan simbol peradaban. Ini patut diapresiasi.

Namun antropologi mengajarkan satu hal sederhana: makna sosial tidak lahir dari seremoni, tetapi dari kesinambungan. Gagasan besar yang berpindah dari satu kepemimpinan ke kepemimpinan lain tanpa alur yang konsisten mudah dipersepsi sebagai ikon, bukan sebagai ruang hidup yang tumbuh bersama masyarakat.

Di sinilah tantangannya: bagaimana menjadikan masjid besar bukan hanya sebagai penanda identitas, tetapi sebagai ruang yang benar-benar dihuni oleh kehidupan sehari-hari umat.

Ruang Menentukan Kehidupan

Masjid yang dekat dengan pemukiman, jalur sekolah, pasar, dan aktivitas harian cenderung hidup. Masjid yang jauh dari alur itu sering kali megah, tetapi hanya ramai pada waktu tertentu. Ini bukan kritik, melainkan fakta antropologis tentang hubungan ruang dan perilaku manusia.

Bangunan selalu membentuk kebiasaan. Karena itu, merencanakan masjid sejatinya adalah merencanakan kehidupan sosial di sekitarnya.

Masjid sebagai Ruang Semua Generasi

Masjid hidup ketika ia menjadi milik bersama. Takmir yang membuka ruang bagi anak-anak, remaja, perempuan, dan komunitas akan melihat masjid tumbuh secara alami. Jamaah dewasa yang hadir secara konsisten, meski sederhana, memberi teladan tanpa perlu banyak kata.

Generasi muda pun menemukan makna agama bukan dari konten semata, tetapi dari pengalaman hidup bersama di ruang nyata.

Kebanggaan yang Perlu Dirawat

Masjid yang sepi tidak perlu diratapi. Ia perlu dibaca. Ia memberi tahu kita bahwa Gorontalo sedang bergerak, berubah, dan mencari bentuk baru dalam menjalani kehidupan beragama.

Tulisan Funco Tanipu mengingatkan kita bahwa kebanggaan sebagai Serambi Madinah tidak cukup dirawat dengan simbol. Ia perlu dirawat dengan kehadiran, konsistensi, dan keberanian memaknai ulang ruang hidup bersama. Masjid, pada akhirnya, bukan hanya tentang seberapa megah ia berdiri, tetapi tentang seberapa jauh ia ikut membentuk manusia yang hidup di sekitarnya. Di sanalah kebanggaan itu menemukan maknanya yang paling dalam. (*)

Penulis adalah Antropolog

Tags: dan Cara Kita Hidup Bersamahusin aliManusiaMasjid

Related Posts

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Desa Tak Harus Terus Menjual Bahan Mentah

Friday, 4 September 2026
NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

NU di Persimpangan Kepentingan: Membaca Arah Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-35 Tahun 2026

Thursday, 3 September 2026
Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Ramadan, Embarkasi Haji Gorontalo, dan Ikhtiar Kepemimpinan

Thursday, 3 September 2026
Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

Wednesday, 2 September 2026
Muh. Amier Arham

Data Gambaran Fakta dan Dasar Perumusan Kebijakan

Tuesday, 1 September 2026
Basri Amin

Negeri Miskin Teladan

Monday, 31 August 2026
Next Post
Basri Amin

Literasi Desember dan Kalender Gorontalo

Discussion about this post

E-paper Gorontalo Post 30 Juli 2026

Rekomendasi

Karya Perkara

Karya Perkara

Saturday, 5 September 2026
Ribuan Liter Cap Tikus Dimusnahkan, Polres Gorontalo: Operasi Miras Berlanjut

Ribuan Liter Cap Tikus Dimusnahkan, Polres Gorontalo: Operasi Miras Berlanjut

Saturday, 5 September 2026
Rayakan HUT ke-6, ASTON Gorontalo Tebar Promo hingga Diskon 12 Persen

Rayakan HUT ke-6, ASTON Gorontalo Tebar Promo hingga Diskon 12 Persen

Saturday, 5 September 2026
Perusahaan BJA Group bersama Kantor Pertanahan Kabupaten Pohuwato kembali menyerahkan Serifikat Tanah kepada warga Pemilik Tanah disekitar Jalan Akses PT Inti Global Laksana (PT IGL)

Perusahaan BJA Group bersama Kantor Pertanahan Kabupaten Pohuwato kembali menyerahkan Serifikat Tanah kepada warga Pemilik Tanah disekitar Jalan Akses PT Inti Global Laksana (PT IGL)

Friday, 4 September 2026

Pos Populer

  • Pengadaan MacBook Aleg Deprov, Femmy: Dengan Tegas Saya Menolak 

    4 Kursi DPR RI untuk Gorontalo, Femmy: Dari Aspirasi Menjadi Agenda Kelembagaan

    33 shares
    Share 13 Tweet 8
  • Rp 68,2 M Dana Asrama Haji Gorontalo Ditolak, Kemenhaj: Mepet Waktu, Beresiko

    31 shares
    Share 12 Tweet 8
  • Menenun Kembali Jati Diri Gorontalo: Wastra Lama, Harapan Baru bagi UMKM Gorontalo

    25 shares
    Share 10 Tweet 6
  • Rayakan HUT ke-6, ASTON Gorontalo Tebar Promo hingga Diskon 12 Persen

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Perusahaan BJA Group bersama Kantor Pertanahan Kabupaten Pohuwato kembali menyerahkan Serifikat Tanah kepada warga Pemilik Tanah disekitar Jalan Akses PT Inti Global Laksana (PT IGL)

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 3 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.