logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Pemilu dan Pemimpin yang “Biasa-Biasa” Saja  

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Tuesday, 6 February 2024
in Persepsi
0
Anakmu Bukan Milikmu

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Oleh :
Basri Amin

PEMILU selalu terkesan repot dan rumit. Padahal, dalam banyak keadaan, Pemilu (cenderung) lebih melicinkan jalan bagi membesarnya ke-tokoh-an yang itu-itu saja. Mereka tak menampilkan gagasan istimewa dan kerja-kerja hebat di alam nyata yang menyebar menyentuh golongan bawah dan kelompok produktif di masyarakat. Di tingkat lokal, begitulah yang sering berulang kita saksikan.

Bagaimana dengan Pemilu 2024? Orang boleh beda pendapat dan pilihan!

Pemilu terlalu mahal dan menguras energi. Sejauh ini, kuat terkesan bahwa Pemilu di negeri ini terlalu diurus dan dikerjakan “berlebihan” sisi-sisi teknis-nya tetapi kehilangan daya jangkaunya kepada penguatan nilai-nilai utama dan perbaikan-perbaikan mendasar di masyarakat. Pemilu yang mahal sewajarnya mampu melahirkan pemimpin hebat yang dipandang dunia dan membawa perubahan bagi pencerdasan bangsa dan keadilan sosial bagi semua wilayah, kelompok, dan golongan masyarakat.

Related Post

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Profesi-Profesi Hebat

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Adalah juga terkesan kuat bahwa Pemilu di negeri ini lebih banyak memelihara atau membesarkan “orang-orang yang itu-itu saja!”. Tokoh-tokoh di masyarakat sepertinya dimanjakan untuk terbiasa “antri” mencocok-cocokkan jejak-diri dan jejak-perannya (melalui) mekanisme Pemilu. Padahal, tersurat atau tersirat, ada kepentingan status, citra sosial, jejaring kelompok, dan akumulasi materi (baca: harta/uang) melalui kesempatan (politik) di Pemilu: gaji besar, fasilitas berlanjut, mobilitas (gaya hidup) nyaman, memapankan kawanan sendiri, dst.

Regenerasi (politik) nyaris tak terjadi melalui Pemilu. Kekuatan dan reputasi “generasi pembaru” terseok-seok mencari dukungan materi dan dukungan di kalangan bawah. Gagasan jernih, refleksi faktual, dan kritisisme mereka tidak memantulkan apa-apa di “kotak suara” karena mereka terjegal oleh rombongan elite (lokal/nasional) yang mapan jaringan kerja, pencitraan publik, dan sebaran pengaruh materi-nya. Mereka, sesungguhnya, adalah elite yang sudah lama keenakan dengan “aspirasi palsu” dari masyarakat, tetapi selalu lihai mendayagunakan “sekian persen” saja dari keuntungan material pribadinya (melalui) kerja-kerja politik, gaji/tunjangan, akses kebijakan, dan fasilitas (negara) yang mengatas-namankan “kerja untuk publik”.

Negeri ini tidak mungkin berdaya-saing jika pemimpinnya berkemampuan alakadarnya. Di berbagai tingkatan, kecenderungan untuk “memberi ruang” bagi para oportunis, penjilat jabatan, dan pecundang cita-cita sepertinya masih terus dibuka. Nyaris belum terbentuk massa kritis yang memiliki daya tahan menolak gejala seperti ini.

Nalar kolektif yang mendeteksi tabiat-tabiat kelompok dan perorangan yang inginnya hanya menikmati kesenangan sepihak di arena kekuasaan pun belum begitu tampak. Keadaan ini sangat jelas akan memberi dampak berupa hilangnya perdebatan dan daya tawar masyarakat dalam memastikan nasibnya, terutama nasib dalam arti yang sangat nyata: layanan dasar buat mereka dan ruang publik yang otonom.

Kelas menengah, yang sering dilabeli sebagai kelompok yang relatif terdidik dan mempunyai sumberdaya organisasi, serta dianggap memiliki daya tawar karena nalar masyarakat sipil-nya, tampaknya (masih) terjebak dengan ritual mereka sendiri. Tak jarang mereka membentuk kerumunan organisasional dan virtual yang tanpa arah. Atau, mereka lebih sering memilih budaya “mengapung” di antara kekuatan-kekuatan (ekonomi/politik) yang ada, sambil memproduksi gaya dan wacana yang sok kritis dan sok moral, padahal mereka tak pernah merdeka dari pola “permainan” elite-elite di sekitarnya. Mereka, kelas menengah-yang pecundang ini, beroleh manfaat berlapis karena cerdik “nempel” kepada sejumlah tokoh yang terlanjur besar (birahi) kuasa-nya di sektor-sektor pemerintahan dan politik.

Dengan pengetahuan teknis yang sedang-sedang saja, kelas-menengah yang hipokrit selalu berhasil “menggoda”, tampak otentik “menyodorkan” dan cerdas “melaporkan” kerja-kerja teknis-nya yang artifisial kepada elite lokal/regional yang memang sejak awal tak punya komitmen tinggi dan integritas besar menjadi pembaru kemajuan yang sebenarnya. Sebagai hasilnya, keadaan kita di alam nyata lebih banyak dimanipulasi oleh pemberitaan sepihak yang tidak teruji secara faktual dan tidak berdampak-besar bagi kemakmuran yang berkelanjutan. Pemberitaan media yang distortif kemudian dilapisi oleh citra baik melaui acara demi acara. Sambut-menyambut dan saling memuji. Selebrasi foto dan parade pemberitaan!

Pemimpin masa depan haruslah memahami postur-postur pergaulan lintas kelompok dan bagaimana komposisi setiap profesi produktif di masyarakat.

Dari sanalah beragam kepentingan dan ketimpangan kelompok dihayati, selanjutnya kebajikan bersama (publik) disusun dan perjuangkan. Memang, tak mungkin semua bisa terterima semua pihak, tapi yang terpenting adalah negosiasi yang konsisten mendorong perbaikan.

Di banyak arena perbaikan, yang dibutuhkan bukanlah kuasa tunggal melainkan “pembagian” kekuasaan dalam aksi nyata di sektor-sektor yang beragam. Jika ini visi kita, berikutnya yang jadi pegangan bersama adalah sikap sadar bahwa “semua orang adalah penting. Semua kelompok adalah penentu perbaikan”. Bagaimana bentuknya? Sangat ditentukan oleh alam nyata yang konsisten kita gerakkan.

Belakangan ini isu nasional terlalu banyak yang mengepung percakapan kita. Ini perlu dicermati agar tidak “menutupi” isu besar yang di tingkat lokal/regional. Saya percaya bahwa ketajaman kita melihat kondisi lokal belum sepenuhnya memadai.

Terlalu banyak data atau informasi yang kabur di tingkat lokal. Kita punya tabiat untuk tidak sabar dan sungguh-sungguh bernalar terhadap banyak kasus lokal, baik yang sifatnya laten maupun yang sifatnya rutin. Kita masih terbiasa untuk abai dengan perkara-perkara kecil, padahal di balik itu semua menggambarkan “ledakan” serius dalam jangka panjang.

Jangan menutup mata!

Konflik lahan, tata-kelola sumberdaya alam, hubungan antar kelompok, ketimpangan pendapatan dan pembangunan infrastruktur, bencana, kebocoran anggaran, dst semuanya potensial berujung kepada konflik dan kemiskinan. Jika kita cermati beberapa tahun terakhir ini, tingkat konflik di masyarakat kita makin membesar dan meluas. Belum lagi dengan gempuran perilaku menyimpang dan kebebasan yang makin liar. Mudah menyaksikannya: di jalan raya, di perkampungan, di sudut-sudut perkotaan dan di permukiman-permukiman kita.

Krusialnya, regulasi yang memihak kepada “nalar publik” yang sehat mudah dipatahkan dengan “order” kalangan atas dan kelompok kepentingan. Mereka bahkan secara bebas menggunakan ruang publik dengan dasar-dasar etis yang semakin kabur. Lihatlah, di banyak tempat, orang bisa mematok ruang dengan bebas, sama persis dengan  nafsu memasang baliho dengan seenaknya saja.

Ruang publik dengan remeh dimainkan dan dilucuti otonominya. Padahal, ruang publik mestinya memihak kepada nalar publik itu sendiri. Faktanya, ia demikian mudah dibuat gaduh oleh peroangan yang punya modal dan kuasa. Ruang publik bahkan terkesan “dijual” untuk dipakai siapa saja yang mampu membelinya.

Dalam hal ini, negara bisa dikatakan ikut menjadi “penjual” ruang publik, sejauh itu berhubungan dengan urusan pendapatan atau pajak misalnya. Yang sulit dipisahkan adalah bagaimana ukuran yang tepat agar negara memastikan penggunaan ruang publik itu tidak menodai nilai-nilai (virtues) publik itu sendiri.

Kalau kita cermati, terlalu banyak isu dan tema yang sebenarnya tidak perlu di-show kan di hadapan mata kita. Hal-hal rutin dan biasa-biasa saja justru tidak bisa dikategorikan sebagai public campaign. Meski demikian, karena mungkin tak ada maksud untuk ngotot menguasai ruang publik, maka sudah patutlah kiranya diatur dengan cara-cara yang lebih elegan, mendidik dan estetik.

Di negara-negara yang maju, publik tak lagi dipandang pasif. Publik tak bisa diremehkan hak-haknya untuk menikmati ruang publik yang lebih otonom, sejuk, hijau dan cerdas. Publik adalah warga yang menyadari haknya dan berdaya menikmati dan menuntut hak-haknya di hadapan negara (state). Jembatan di antara keduanya adalah regulasi dan organisasi. Di ruang itulah otonomi dan partisipasi dibela dan dirayakan, sebagai bentuk kematangan sebuah masyarakat, sekaligus menjadi tonggak pencapaian peradaban sebuah bangsa.

Daerah-daerah sangat berpotensi membangun keadabannya dengan menata ruang publiknya. Sudah tentu, niat baik ini hendaknya dibarengi dengan penguatan nalar dan nurani publik sebagai pilar utama keadaban itu. Dengan demikian, norma-norma dasar tidak sekadar menjadi retorika yang dimunculkan ketika kita menegaskan identitas (lokal) yang kita punyai.

Jargon demi jargon berhamburan setiap saat tapi kita makin lemas dalam penghayatan dan pengaturan. Kita sulit menemukan orang-orang yang otentik karena diam-diam kita membangun sistem kerja yang lebih memihak kepada mentalitas hipokrit. ***

Penulis adalah Parner di Voice-of-HaleHepu
Surel: basriamin@gmail.com

Tags: basri aminPemilu dan Pemimpin yang “Biasa-Biasa” Sajapersepsispektrum sosial

Related Posts

Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Saturday, 11 April 2026
Basri Amin

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Monday, 6 April 2026

Mengulik Variabel Identitas, Norma, dan Reproduksi Permusuhan Pada Konflik Iran-Israel-Amerika Serikat

Thursday, 2 April 2026
Yusran Lapananda

Kemandirian Fiskal Daerah Sebuah Keharusan

Thursday, 2 April 2026
Next Post
Sejumlah pekerja mengangkut hasil produksi PT. Biomasa Jaya Abadi (BJP)

Nyaris Bangkrut, Omzet Usaha Yanri Hamza Kini Capai Ratusan Juta

Discussion about this post

Rekomendasi

Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

Thursday, 16 April 2026
Imran Rahman

Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

Thursday, 16 April 2026
Pelaksanaan Apel Ikrar Bebas Narkoba dan Handphone yang dilaksanakan dan diikuti oleh seluruh pegawai dilingkungan Lapas Perempuan Kelas III Gorontalo, Jum'at (17/4/2026). (F. Diyanti/Gorontalo Post)

Lapas Perempuan Gorontalo Gelar Apel Ikrar, Tegaskan Komitmen Bebas Narkoba dan Handphone ilegal

Friday, 17 April 2026
Polda Gorontalo Limpahkan Kasus Pelanggaran Hak Cipta ke Kejaksaan, Ka Kuhu Diangkut Mobil Tahanan

Polda Gorontalo Limpahkan Kasus Pelanggaran Hak Cipta ke Kejaksaan, Ka Kuhu Diangkut Mobil Tahanan

Thursday, 16 April 2026

Pos Populer

  • Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

    Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    126 shares
    Share 50 Tweet 32
  • Profesi-Profesi Hebat

    126 shares
    Share 50 Tweet 32
  • Putra Gorontalo Calon Wali Kota Jaksel

    90 shares
    Share 36 Tweet 23
  • Oknum Pegawai BSG Bobol Brankas, Kerugian Rp 13,1 Miliar, Termasuk Kuras Rekening Dormant

    46 shares
    Share 18 Tweet 12
  • Edan! di Halte Kampus UNG, Pria Ini Pamerkan ‘Anunya’ di Hadapan Mahasiswi

    41 shares
    Share 16 Tweet 10
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.