Gorontalopost.id, PUNCAK BOTU – Insiden Pemilu 2019 saat banyak petugas KPPS yang jatuh sakit hingga ada yang meninggal dunia, harus jadi pembelajaran pada Pemilu 2024.
Insiden itu jangan sampai terulang. Perlu ada kesungguhan dari semua pihak untuk mengantisipasi agar kejadian itu tidak akan terulang.
Hal itu menjadi harapan Komisi I Deprov Gorontalo saat berkunjung ke kantor KPU Provinsi Gorontalo, kemarin (1/2) untuk koordinasi persiapan Pemilu 2024.
Ketua Komisi I AW Thalib menuturkan, Komisi I tidak menginginkan peristiwa nahas itu terulang kembali pada hari pencoblosan Pemilu pada 14 Februari mendatang.
Untuk mengantisipasi itu pemerintah daerah diminta untuk melindungi para petugas KPPS yang ada dimasing-masing daerahnya.
“Kita minta Pemda bisa membackup dari sisi kesehatan. Karena hari H itu hari libur, maka tenaga kesehatan harus diprioritaskan dan senantiasa harus standby serta sigap agar tidak terulang lagi peristiwa di pemilu sebelumnya,” ujar AW Thalib.
Politisi PPP itu beralasan, waktu yang dibutuhkan pada proses penghitungan suara sangat panjang yang diperkirakan bisa lebih dari sehari karena ada lima lembar kertas suara yang harus dihitung dari DPRD Kabupaten Kota, Provinsi, DPR RI, DPD RI, dan Pilpres.
“Setiap lembaga butuh waktu 3 jam, bila dikalikan 5 tadi berarti ada 15 jam untuk menuntaskannya, jika penghitungan dimulai jam 2 siang bisa-bisa selesainya sampai besok harinya,”tuturnya.
Menurutnya, kondisi ini perlu dicermati khususnya bagi petugas KPPS termasuk juga kepada saksi, harus dipastikan kondisi kesehatannya.
“Sehingga ini membutuhkan koordinasi dari instansi kesehatan seperti puskesmas, puskesmas pembantu dan layanan kesehatan mulai dari tingkat provinsi, kabupaten kota hingga dibawahnya.
Tidak saja itu mereka (KPPS) harus dipastikan menjadi lebih serta BPJS ketenagakerjaan agar ada perlindungan dari kecelakaan kerja bila itu terjadi,” kuncinya. (rmb)











Discussion about this post