logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
Logo gorontalo post
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL
No Result
View All Result
logo gorontalo post
No Result
View All Result
aston hotel
Home Persepsi

Presiden yang Sebenarnya

Jitro Paputungan by Jitro Paputungan
Wednesday, 10 January 2024
in Persepsi
0
Gorontalo 1942:  “Merdeka” Empat Bulan

Basri Amin

Bagikan ke FacebookBagikan ke TwitterBagikan ke Whatsapp

Related Post

Batas-Batas Pengobatan

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Profesi-Profesi Hebat

Oleh :
Basri Amin

NEGERI ini punya beberapa Presiden sejak 1945. Baik ketika Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan, pun ketika zaman guncangan politik di saat berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS, 1949-1950). Ketika Negara Indonesia Timur (NIT, 1946-1950) berdiri, juga punya Presiden terpilih. Hampir seluruh sejarah presidensi kita membanggakan kita sebagai bangsa besar. Mereka adalah orang-orang terpilih karena berhasil “membaca suara” zamannya di tengah-tengah pergaulan dunia yang selamanya tarik-menarik antara Timur dan Barat.

Kita selamanya ingin Presiden Indonesia memahami benar prinsip luhur Republik ini –-sesuai apa yang pernah tegas diingatkan dan dibahasakan oleh Cendekiawan Indonesia, Taufik Abdullah, tepat di usia 60 Tahun Kemerdekaan R.I, yakni…”Mempertahankan Negara adalah kemestian, meningkatkan Kesejahteraan rakyat adalah keharusan yang tidak bisa diabaikan, tetapi Mencerdaskan kehidupan bangsa, adalah kemutlakan yang total…” (2005: 71).

Sangat jelas apa makna bernegara dan berbangsa, serta tujuan utama (kita) berIndonesia. Camkanlah kata-kata Taufik Abdullah di atas! Dengan itulah pula kita bisa berkaca hari-hari ini.

Di beberapa negara di dunia, Presiden hebat tidaklah otomatis dilahirkan dari Pemilu. Banyak di antara presiden hasil Pemilu justru memalukan dan memilukan. Jika tidak dipermalukan oleh rakyatnya, dia sendirilah yang mempermalukan negerinya.

Dalam urusan Presiden Indonesia, selamanya abadi kita merujuk Presiden Soekarno dan jejak-jejak besarnya untuk Republik ini.

Dulunya, ketika Presiden Joko Widodo menggetarkan jargon “Revolusi Mental” di awal pemerintahannya di periode pertama, saya terkesima. Menyentuh! Historikal! Jargon itu dibuat Soekarno.

Soekarno bukan hanya akar tunggang Partai Nasional Indonesia (PNI), tapi ia adalah sekaligus tokoh sentral penyatu bangsa ini. Orator dan aspirator hebat. Tak heran kalau Soekarno demikian bermimpi mensinergikan Nasionalisme-Agama-Komunisme (Nasakom, 1959-1966).

Gagalkah legacy Soekarno? Sejarah masih akan terus memberinya penilaian…

Sebagai Presiden, Soekarno, adalah sosok abadi: proklamator kemerdekaan dan Presiden pertama Indonesia. Sungguh tak ternilai jasa-jasanya. Meski demikian, dari sekian banyak jasanya yang terpenting, dalam hemat saya, adalah bahwa Soekarno melentingkan wibawa Indonesia di panggung dunia. Bukan hanya karena memang Soekarno adalah figur terdidik yang retorik, ia berhasil memerankan itu semua karena memang ia punya bacaan luas dan kemampuan mendunia.

Soekarno punya dunia banyak karena menguasai banyak bahasa dunia. Tak heran kalau sejumlah blok kerjasama, inisiatif kawasan, dan forum-forum internasional berhasil digalang oleh Soekarno di masanya. Ia melahirkan sebuah “generasi” yang mendunia dalam peran-perannya. Generasinya amat cinta buku; mereka dewasa berdebat, berjiwa merdeka, dan kokoh moral dalam berpolitik. Bertarung dengan kebesaran cita-cita. Tentu, tetap saja ada ironi tapi tak pernah ada dendam membara. Dan, satu lagi yang terang: tak pernah ada di antara mereka yang memperkaya diri sendiri karena uang negara.

Ideal memang. Soekarno adalah Presiden cerdas dan penyatu yang pemberani. Hal serupa diwujudkan oleh Presiden Gus Dur. Untuk semua presiden kita, tugas sebagai “penyatu” bangsa memang terkesan terdepan dikerjakan. Gejolak sedikit saja, Presiden pasti tak tinggal diam. Caranya saja yang berbeda. Ada yang cenderung militeristik demi stabilitas (Soeharto), ada yang memilih cara dialog dan humanitarian seperti Gus Dur dan ada pula yang melalui aksi afirmasi nyata (desentralisasi) di masa B.J. Habibie dan Megawati, serta pelembagaan ruang publik-demokratis dalam sistem bertata-negara dan tata-hukum di zaman SBY.

Dalam banyak hal, peran kita di tingkat dunia cenderung tak menggetarkan “keseimbangan internasional”. Sebagai contoh sederhana, meski sudah beberapa kali diselenggarakan pertemuan “diaspora Indonesia” –sebagai forum manusia Indonesia yang berkiprah membanggakan di berbagai bidang utama di berbagai negara–, tapi kita belum sepenuhnya berhasil mendayagunakan jaringan dan kapasitas mereka untuk kepentingan nasional yang lebih luas. Praktik-praktik cerdas yang mereka capai selama ini dan apa-apa yang mereka telah kontribusikan di negara-negara maju, sepertinya belum sungguh-sungguh kita “copy” untuk berbagai bidang dan institusi di negeri ini.

Di lembaga pendidikan misalnya, kultur akademis dan leadership yang progresif hingga kini masih terbayangi oleh “feodalisme” posisi, klik kelompok, dan fasilitas. Bahkan tak jarang, kolusi (kepentingan ‘gerombolan’ pertemanan jangka pendek) dan nepotisme (jaringan keluarga dan afiliasi organisasi) masih menyelinap diam-diam. Ia terus mengakar dan menyebar di banyak situasi.

Presiden cerdas yang pemberani kita butuhkan karena putaran zaman yang melilit Indonesia membutuhkan haluan yang kokoh. Terpaan global yang menusuk semua titik lokalitas kita meniscayakan visi bersama yang terkonsolidasi. Ledakan informasi menerpa semua orang, tapi tak semua golongan siap mengunyah itu semua dengan kadar kesadaran dan volume pemanfaatan yang sama.

Teknologi, di masa kini, adalah sesuatu yang meliputi banyak hal. Kita tak bisa menghindar darinya. Ia ibarat makanan. Harus selalu ada! Tapi, ia tak akan memberi faedah apa-apa kalau takaran, perlakuan, dan kandungannya tak kita perhitungkan. Ledakan masif inilah yang kini merasuki masyarakat kita. Pengaruhnya sangat besar: hoaks, kriminalitas, kehampaan, agresifitas, hipokrisi, dst. Lalu, negara berperan di mana? Pengatur signal dan frekuensi udara? Berkuasa memblokir akun? Perluasan propaganda anti teror? Kampanye damai di ruang-ruang publik?

Banyak perkara silih-berganti di depan mata setiap presiden. Cukupkah waktu untuk menangani dan mengelola itu semua? Bagi presiden hasil Pemilu 2024, tantangannya makin kritikal: ancaman pangan, perubahan iklim, sebaran penyakit, kesenjangan sosial, kebebasan sipil, radikalisme, internasionalitas kondisi Papua, serta “hadiah demografi” semuanya hadir bersamaan. Belum lagi gelombang (industri) berbasis teknologi digital disertai big data di tengah-tengah ekonomi dunia yang bergejolak. China, India, Korea Selatan, dan Vietnam yang kini makin tampak besar.

Ratusan juta penduduk, tapi dengan kesenjangan yang belum jua membaik. Lalu, Presiden hendak “menggerakkan” yang mana? Saya kira, jargon “presiden penyabar” adalah sangat positif di tengah-tengah bangsa super majemuk seperti Indonesia. Tapi, dalam skala yang lebih luas, penyatuan yang sabar seperti ini adalah sekaligus sebagai penanda bahwa bangsa ini –dari waktu ke waktu– demikian membebani presidennya dalam urusan pluralisme dan faksi-faksi politik.

Presiden harus menjamin harmoni sosial negeri ini. Presiden memegang amanah “melindungi segenap hajat hidup orang banyak”. Bersamaan dengan itu, Presiden juga tentulah sangat paham tentang tugas-tugas konstitusionalnya yang lain. Hanya saja, perspektif presidensial seperti ini belum seutuhnya menunjukkan “kebesaran” Indonesia sebagai negara-bangsa.

Amanah untuk aktif “menjaga ketertiban dunia”, adalah juga sebuah tuntutan yang tak kalah seriusnya diperankan. Ingat dan ingat dengan hak merdeka Palestina dan kebrutalan Israel yang tanpa jeda!. Di sinilah Presiden harus berani melihat dan memperlihatkan kepada bangsanya, bahwa Indonesia adalah bangsa yang aktif di tingkat dunia. Tak cukup dengan rutin bersidang di forum-forum dunia dan merativikasi konvensi-konvensi internasional.

Lebih jauh dari itu, Presiden juga haruslah lebih lantang memberi gagasan bandingan dan praktik baik tentang isu lingkungan, tata kelola pemerintahan, pembangunan mutu manusia, demokrasi, keamanan, kesehatan global, hak azasi manusia, dst. Selanjutnya, yang butuh disatukan adalah cita-cita bangsa, mutu manusia Indonesia yang mengelola alam negeri ini, serta kesetiaan kita mewujudkan keadilan dan kemakmuran bersama.***

Penulis adalah parner di Voice-of-HaleHepu
E-mail: basriamin@gmail.com

Tags: basri amingorontalo postpersepsiPersiden yang Sebenarnyaspektrum sosial

Related Posts

Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026
Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural   

Epistemologi dan Ontologi Sadaka: Analisis Historis, Teologis, dan Sosiokultural  

Monday, 20 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dana Abadi Rakyat Gorontalo: Menghidupkan Kembali Semangat Serambi Madinah Melalui Wakaf Produktif

Friday, 17 April 2026
Basri Amin

Profesi-Profesi Hebat

Monday, 13 April 2026
Ridwan Monoarfa

Dari Desa Andaleh ke Gorontalo: Mengakhiri Ilusi Peternakan Berbasis Bantuan

Saturday, 11 April 2026
Basri Amin

Kota Gorontalo, ‘298’ Tahun? (Catatan Terbuka kepada Wali Kota)  

Monday, 6 April 2026
Next Post
Dua orang warga Pohuwato resmi ditetapkan sebagai tersangka dan telah dilakukan penahanan, terkait dugaan penyalahgunaan narkoba.

Narkoba, Dua Warga Pohuwato Ditangkap

Discussion about this post

Rekomendasi

Basri Amin

Batas-Batas Pengobatan

Monday, 20 April 2026
Aulia Lahiya (19) bersama rekannya menampilkan atraksi ekstrim pada wahana tong setan, pasar malam hoya-hoya di taman Isimu, Kabupaten Gorontalo, Selasa (14/4) malam. (foto: aviva /mg/ gorontalo post)

Cerita Aulia Lahiya, Demi Cuan Uji Nyali di Wahana Tong Setan

Friday, 17 April 2026
Imran Rahman

Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

Thursday, 16 April 2026
Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

Thursday, 16 April 2026

Pos Populer

  • Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pohuwato resmi melaksanakan penyerahan tersangka dan barang bukti (Tahap II) dalam perkara dugaan pemalsuan surat kepada Kejaksaan Negeri Pohuwato, Senin (13/4/2026).

    Oknum ASN Diduga Palsukan Akta Kematian

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Putra Gorontalo Calon Wali Kota Jaksel

    92 shares
    Share 37 Tweet 23
  • Viral Siswi SMP di Kabgor Di-bully, Orang Tua Pelaku Justeru Minta Proses Hukum

    69 shares
    Share 28 Tweet 17
  • Jadi Bos PETI Oknum Kades Dibui, Kerahkan Eskavator Keruk Material Tambang di Sungai Alamutu

    63 shares
    Share 25 Tweet 16
  • Oknum Pegawai BSG Bobol Brankas, Kerugian Rp 13,1 Miliar, Termasuk Kuras Rekening Dormant

    52 shares
    Share 21 Tweet 13
Gorontalopost.co.id

Gorontalo Post adalah Media Cetak pertama dan terbesar di Gorontalo, Indonesia, yang mulai terbit perdana pada 1 Mei 2000 yang beral...

Baca Selengkapnya»

Kategori

  • Boalemo
  • Bone Bolango
  • Disway
  • Ekonomi Bisnis
  • Gorontalo Utara
  • Headline
  • Kab Gorontalo
  • Kota Gorontalo
  • Kriminal
  • Metropolis
  • Nasional
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Pendidikan
  • Persepsi
  • Pohuwato
  • Politik
  • Provinsi Gorontalo

Menu

  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Privacy Policy

Berlangganan dengan email

Masukan email anda untuk menerima pembaruan berita terbaru dan terupdate dari Gorontalo Post

Join 2 other subscribers

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.

No Result
View All Result
  • METROPOLIS
  • PERISTIWA
  • EKONOMI BISNIS
  • SPORTIVO
  • KORAN DIGITAL

© 2025 PT. Gorontalo Cemerlang - Gorontalo Post by Div-TI.